Venezuela Izinkan Palang Merah Berikan Bantuan Kemanusiaan
Sabtu, 30 Maret 2019 - 05:41 WIB
Venezuela Izinkan Palang Merah Berikan Bantuan Kemanusiaan
A
A
A
CARACAS - Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengatakan kelompok bantuan itu telah diberikan akses tanpa hambatan ke Venezuela. Hal itu diumumkan langung oleh Ketua IFRC, Francesco Rocca.
"IFRC akan dapat meningkatkan kegiatan kesehatan di seluruh negeri dengan cara yang independen, netral, tidak memihak, dan tanpa hambatan, menjangkau lebih banyak orang yang rentan," katanya kepada wartawan di Caracas, Jumat waktu setempat, seperti dikutip dalam pernyataan yang dipublikasikan.
Rocca mengatakan ini adalah langkah maju yang penting dalam memperluas layanan kemanusiaan di Venezuela, dengan fokus pada kesehatan. Upaya itu akan datang di atas bantuan yang diberikan oleh Palang Merah Venezuela.
"Ketika kita meningkatkan operasi kita, kita dapat mengandalkan sukarelawan Palang Merah Venezuela yang berkomitmen untuk menjangkau orang yang membutuhkan, siapa pun mereka dan di mana pun mereka berada, dengan perawatan kesehatan sebagai prioritas," tegasnya seperti dilansir dari Sputnik, Sabtu (30/3/2019).
Menurut IFRC cabang Palang Merah setempat mengelola jaringan delapan rumah sakit dan 33 klinik medis. Cabang ini memiliki lebih dari 2.600 sukarelawan yang bekerja di seluruh negeri, termasuk 500 relawan yang memberikan pertolongan pertama.
Sebelumnya pada bulan Maret, Venezuela mengalami pemadaman listrik terburuk dalam sejarah, ketika sebanyak 20 negara bagian dibiarkan tanpa listrik. Pemasok listrik nasional Venezuela, Corpoelec, mengatakan bahwa insiden itu disebabkan oleh tindakan "sabotase" di pembangkit listrik tenaga air Guri, yang menghasilkan listrik untuk hampir semua negara.
Caracas menuduh Washington berada di belakang dugaan serangan terhadap pembangkit listrik itu. Amerika Serikat (AS), pada gilirannya, membantah tuduhan itu.
Situasi di Venezuela yang dilanda krisis meningkat pada 23 Januari ketika pemimpin oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara, menolak terpilihnya kembali Maduro tahun lalu. Guaido segera diakui oleh AS dan beberapa negara lain. Sementara Rusia, China, Meksiko, di antara negara-negara lain, menyuarakan dukungan untuk Maduro, yang pada gilirannya, menuduh Washington mengatur kudeta.
"IFRC akan dapat meningkatkan kegiatan kesehatan di seluruh negeri dengan cara yang independen, netral, tidak memihak, dan tanpa hambatan, menjangkau lebih banyak orang yang rentan," katanya kepada wartawan di Caracas, Jumat waktu setempat, seperti dikutip dalam pernyataan yang dipublikasikan.
Rocca mengatakan ini adalah langkah maju yang penting dalam memperluas layanan kemanusiaan di Venezuela, dengan fokus pada kesehatan. Upaya itu akan datang di atas bantuan yang diberikan oleh Palang Merah Venezuela.
"Ketika kita meningkatkan operasi kita, kita dapat mengandalkan sukarelawan Palang Merah Venezuela yang berkomitmen untuk menjangkau orang yang membutuhkan, siapa pun mereka dan di mana pun mereka berada, dengan perawatan kesehatan sebagai prioritas," tegasnya seperti dilansir dari Sputnik, Sabtu (30/3/2019).
Menurut IFRC cabang Palang Merah setempat mengelola jaringan delapan rumah sakit dan 33 klinik medis. Cabang ini memiliki lebih dari 2.600 sukarelawan yang bekerja di seluruh negeri, termasuk 500 relawan yang memberikan pertolongan pertama.
Sebelumnya pada bulan Maret, Venezuela mengalami pemadaman listrik terburuk dalam sejarah, ketika sebanyak 20 negara bagian dibiarkan tanpa listrik. Pemasok listrik nasional Venezuela, Corpoelec, mengatakan bahwa insiden itu disebabkan oleh tindakan "sabotase" di pembangkit listrik tenaga air Guri, yang menghasilkan listrik untuk hampir semua negara.
Caracas menuduh Washington berada di belakang dugaan serangan terhadap pembangkit listrik itu. Amerika Serikat (AS), pada gilirannya, membantah tuduhan itu.
Situasi di Venezuela yang dilanda krisis meningkat pada 23 Januari ketika pemimpin oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara, menolak terpilihnya kembali Maduro tahun lalu. Guaido segera diakui oleh AS dan beberapa negara lain. Sementara Rusia, China, Meksiko, di antara negara-negara lain, menyuarakan dukungan untuk Maduro, yang pada gilirannya, menuduh Washington mengatur kudeta.
(ian)