Perilaku Perempuan Jadi Penyebab Rendahnya Kelahiran di Jepang

Rabu, 06 Februari 2019 - 07:17 WIB
Perilaku Perempuan Jadi...
Perilaku Perempuan Jadi Penyebab Rendahnya Kelahiran di Jepang
A A A
TOKYO - Deputi Perdana Menteri (PM) Jepang Taro Asoa, 78, menuding perempuan sebagai penyebab rendahnya tingkat kelahiran bayi di Negeri Matahari Terbit. Rendahnya tingkat kelahiran berdampak pada stagnasi ekonomi dan kekhawatiran peningkatan biaya kesehatan para manula yang bertambah banyak. Itu juga berdampak pada berkurangnya tenaga kerja muda di Jepang sehingga banyak orang tua harus bekerja untuk mengisi kekosongan posisi di banyak perusahaan.

“Banyak orang aneh yang mengatakan manula adalah kesalahan, tapi tidak benar,” kata Taro Aso, dilansir BBC. “Yang disalahkan adalah mereka yang tidak memiliki anak,” tudingnya.

Populasi yang menua, kata dia, berkaitan dengan jumlah kelahiran yang menurun dan itu merupakan isu yang menjadi perhatian bersama. Aso mengungkapkan pernyataan kontroversial tersebut di Fukuoka, Jepang.

Namun, pada Senin (4/2), Aso menarik kembali pernyataannya karena mendapatkan kritikan pedas dari anggota parlemen oposisi. Pernyataan Aso dinilai menyakiti pasangan yang tidak memiliki anak. “Saya menarik komentar saya dan akan berhati-hati dengan pernyataan saya kelak,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut terlalu keluar konteks dalam topik pembicaraan. “Jika pernyataan itu membuat tidak nyaman, saya meminta maaf,” kata Aso. Melansir harian Asahi Shimbun, Aso mengungkapkan bahwa meningkatkan daya tahan hidup merupakan hal “menakjubkan”. Dia menyebut Jepang perlu menerapkan sistem keamanan sosial yang mendukung semua generasi.

Aso bukan politikus Jepang yang dituduh memainkan isu seksisme dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2018 lalu, seorang anggota parlemen Kanji Kato mengungkapkan perempuan Jepang seharusnya memiliki banyak anak atau menanggung beban negara. “Jika saya bertemu perempuan yang enggan menikah, saya akan menghentikan dana bantuan dari pajak dan dialihkan ke orang lain,” katanya.

Kemudian, politikus Partai Demokrat Liberal, Toshihiro Nikai, juga pernah dikecam ketika menyinggung perempuan yang tidak mau hamil pada Juni 2018. "Kini banyak orang egois bahwa lebih baik tidak melahirkan anak," tuding Nikai.

Tingkat kelahiran di Jepang memang menurun dan paling buruk pada 2018. Populasi mengalami penyusutan hingga 448.000 orang. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menegaskan bahwa pemerintah terus berusaha mengatasi masalah yang menjadi dilema bagi bangsa Jepang tersebut. (Andika Hendra)
(nfl)
Berita Terkait
Banyak Warga Tertimbun...
Banyak Warga Tertimbun Reruntuhan, Korban Tewas Akibat Gempa Jepang Terus Bertambah
Rekomendasi Tempat Wisata...
Rekomendasi Tempat Wisata di Jepang bagi Wisatawan Indonesia
Dahsyatnya Gempa Merobek...
Dahsyatnya Gempa 'Merobek' Jalanan di Anamizu Jepang
6 Fakta Unik Onigiri,...
6 Fakta Unik Onigiri, dari Makanan Jiwa hingga Simbol Terima Kasih
Pekerja Asing Jadi Ancaman,...
Pekerja Asing Jadi Ancaman, 3 Alasan Jepang Bentuk Satuan Tugas untuk Utamakan Warga Lokal
8 Kesalahpahaman tentang...
8 Kesalahpahaman tentang Jepang, dari Teknologi hingga Sushi
Berita Terkini
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
52 menit yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
1 jam yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
2 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
3 jam yang lalu
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
4 jam yang lalu
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
5 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved