Rusia dan China Blokir Desakan AS Akui Guaido Presiden Venezuela

Minggu, 27 Januari 2019 - 14:02 WIB
Rusia dan China Blokir...
Rusia dan China Blokir Desakan AS Akui Guaido Presiden Venezuela
A A A
NEW YORK - Dewan Keamanan (DK) PBB gagal menyepakati pernyataan bersama terkait Venezuela . Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pun menyalahkan Rusia karena memblokir pernyataan bersama DK PBB.

Menanggapi tudingan itu, Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan, DK PBB gagal menyepakati pernyataan bersama tentang Venezuela karena posisi AS yang kontrovesial.

"Saya akan mengoreksi Menteri Luar Negeri (AS) (Mike) Pompeo," kata utusan Rusia itu.

"Kami memblokir pernyataan Ketua yang diusulkan oleh Amerika Serikat. Kami membuat perubahan yang berarti di dalamnya. Kami yakin mereka akan didukung tanpa syarat oleh mayoritas anggota Dewan dan beberapa dari mereka sudah melakukannya," terang Nebenzia.

"Bola ada di delegasi AS; sudah waktunya untuk itu," kata diplomat itu.

"Namun, kami tidak yakin bahwa pernyataan seperti itu didasarkan pada penilaian yang seimbang dari Sekretaris Jenderal PBB dan menegaskan kedaulatan Venezuela dan tidak dapat diterimanya campur tangan dalam urusan domestiknya dan menghormati konstitusi adalah apa yang dicari delegasi AS," tambahnya seperti dikutip dari TASS, Minggu (27/1/2019).

Selain Rusia, sejumlah negara macam China , Afrika Selatan dan Guinea Khatulistiwa juga memblokir desakan AS untuk pernyataan DK PBB yang menyatakan dukungan penuh bagi Majelis Nasional Venezuela sebagai satu-satunya lembaga yang dipilih secara demokratis di negara itu.

“China tidak ikut campur dalam urusan internal negara lain. Kami berharap negara yang menuduh orang lain dapat melakukan hal yang sama,” kata Duta Besar Tiongkok Ma Zhaoxu, menyindir AS seperti dikutip dari Reuters.

Pada 23 Januari, ketua parlemen Venezuela dan pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara pada demonstrasi di Ibu Kota negara itu, Caracas. Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pada gilirannya, mengecam langkah itu dengan menyebutnya sebagai kudeta yang dilakukan oleh Washington dan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan AS.

Beberapa negara, termasuk Grup Lima (tidak termasuk Meksiko), Amerika Serikat, Albania, Georgia, Swiss, dan Organisasi Amerika Serikat, pun mengakuinya.

Sedangkan Rusia, Bolivia, Iran, Kuba, Nikaragua, Salvador dan Turki menyuarakan dukungan untuk Maduro, sementara China dan Belarus menyerukan penyelesaian semua perbedaan secara damai dan memperingatkan terhadap campur tangan asing. Sekretaris jendral PBB, pada gilirannya, menyerukan dialog untuk menyelesaikan krisis.
(ian)
Berita Terkait
3 Negara Ini Siap Bantu...
3 Negara Ini Siap Bantu Venezuela jika Diserang AS
Terancam Perang Lawan...
Terancam Perang Lawan AS, Venezuela Cari Bantuan Militer dari Rusia, China, dan Iran
AS Sesalkan Terpilihnya...
AS Sesalkan Terpilihnya China dan Rusia sebagai Anggota Dewan HAM PBB
Rusia ingin PBB Menekan...
Rusia ingin PBB Menekan Amerika Serikat dalam Masalah Ini
China Dukung Permintaan...
China Dukung Permintaan Venezuela Desak Dewan Keamanan PBB Bahas Aksi AS
Rusia-China Siap Pasang...
Rusia-China Siap Pasang Badan untuk Iran dari Sanksi PBB
Berita Terkini
Ilmuwan AS Ini Pelajari...
Ilmuwan AS Ini Pelajari Uji Coba Nuklir Korut, tapi Ditangkap China karena Melakukan Spionase
36 menit yang lalu
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
1 jam yang lalu
Enggan Kirim Pasukan...
Enggan Kirim Pasukan AS untuk Invasi Darat ke Iran, Trump: Orang Lain yang Akan Melakukannya
2 jam yang lalu
Iran Sedang Mempersiapkan...
Iran Sedang Mempersiapkan Ujian Besar terhadap Blokade AS di Selat Hormuz
3 jam yang lalu
Trump Desak Netanyahu...
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
4 jam yang lalu
Biaya Perang AS di Iran...
Biaya Perang AS di Iran Setara Buang Emas Lebih dari 15.000 Kg Per Hari
5 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved