Bunga Sakura Mekar Lebih Awal di Fukuoka Tahun Ini

Kamis, 17 Januari 2019 - 07:16 WIB
Bunga Sakura Mekar Lebih...
Bunga Sakura Mekar Lebih Awal di Fukuoka Tahun Ini
A A A
TOKYO - Musim bunga sakura di wilayah Jepang seperti di Tokyo, Kyoto, Nagoya, dan Fukuoka diperkirakan akan datang empat hari lebih awal daripada biasanya. Perkiraan itu disampaikan Lembaga Meteorologi Jepang (JMC).

JMC menyatakan bunga sakura yang menjadi salah satu tanaman khas Jepang akan mulai mekar pada 22 Maret di Tokyo dan mencapai fase puncak sepekan setelahnya. Pada tahun lalu bunga sakura juga mulai mekar di Tokyo pada 17 Maret, sembilan hari lebih awal.

Pada tahun ini awal datangnya musim bunga sakura juga akan terjadi lebih dini di Nagoya. Tanggal mekarnya diperkirakan akan sama dengan di Tokyo. Adapun di Fukuoka dan Kochi bunga sakura akan merekah jauh lebih awal, yakni pada 18 dan 20 Maret.

Bunga sakura juga akan mekar di Kyoto tiga hari lebih awal. Di wilayah yang lebih dingin di bagian utara, bunga sakura akan datang lebih lambat, yakni pada akhir Maret. Sementara itu di Aomori dan Hokkaido bunga sakura diperkirakan baru mekar pada 24 April dan 4 Mei.

Penentuan tanggal awal mekarnya bunga sakura didasarkan pada hasil riset selama bertahun-tahun. “Kami mengestimasi semuanya berdasarkan suhu rendah selama musim dingin dan semi, data serta informasi lainnya,” ungka JCM seperti dikutip Channel News Asia.

Perkiraan itu mencakup 1.000 lokasi tempat menikmati bunga sakura mekar mulai dari wilayah utara Hokkaido hingga selatan di Kagoshima. Oktober lalu bunga sakura mulai mekar di berbagai penjuru Jepang, enam bulan lebih awal bila dibandingkan dengan kondisi normal. Fenomena langka ini terjadi setelah dua badai menerjang Jepang pada September.

Badai telah menggugurkan semua daun pohon sakura, membawa udara panas dan membuat pohon sakura itu mengeluarkan bunga warna pink. “Kami mendapat sejumlah laporan setiap tahun bunga sakura mekar lebih awal, tapi itu hanya terjadi pada beberapa wilayah tertentu,” ujar Toru Koyama, pejabat senior di Asosiasi Bunga Jepang, kepada kantor berita Reuters.

“Kedua badai, yang termasuk badai paling kuat yang menerjang Jepang dalam 25 tahun, telah memperlemah bahan kimia yang mengurangi bunga pink dan putih dengan menggugurkan daun-daun atau menutupinya dengan air garam,” kata Koyama.

Udara yang tertarik ke atas oleh badai dari wilayah tropis kemudian membawa suhu hangat diikuti suhu lebih dingin yang meniru cuaca musim gugur yang menjadi sinyal waktu yang tepat untuk mekar.

Jumlah bunga yang mekar awal itu masih sedikit sehingga orang yang biasa melihat bunga sakura itu mekar pada musim semi mungkin tidak melihat banyak perbedaan.

Mekarnya bunga sakura secara tak terduga itu pun semakin menambah kekhawatiran di berbagai belahan dunia tentang masalah pemanasan global dan gelombang panas yang memicu kebakaran hutan dan badai super kuat.

Para pakar menyatakan dunia perlu berinvestasi lebih banyak untuk persiapan menghadapi dampak perubahan iklim. Beberapa tindakan yang perlu dilakukan antara lain perihal irigasi pertanian dengan jumlah air lebih sedikit hingga mengubah beberapa persyaratan bangunan untuk membantu infrastruktur baru menghadapi risiko banjir dan badai.

Penyesuaian terhadap dunia dengan suhu lebih panas juga memerlukan kepemimpinan politik yang kuat. “Pengetahuan belum jadi langkah praktis yang cukup cepat dan pengetahuan itu tidak dibagi,” papar Kristalina Georgieva, CEO Bank Dunia.

“Berbagai keputusan masih dibuat secara jangka pendek dan bukan risiko jangka panjang yang dipikirkan,” tutur dia. Jika berlanjut, kondisi itu dapat membuat negara-negara termiskin di dunia kembali mengalami kelaparan ekstrem.

“Meski demikian negara-negara yang lebih kaya dan dunia bisnis juga menghadapi ancaman besar saat gelombang panas, badai, kebakaran, banjir, dan bencana lain mengganggu suplai makanan dan air serta memicu lebih banyak korban tewas,” kata mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.

Pada 2030, mengadaptasi pertumbuhan tekanan itu dapat menghabiskan dana USD300 miliar per tahun secara global, tumbuh menjadi USD500 miliar per tahun pada 2050.
(don)
Berita Terkait
Banyak Warga Tertimbun...
Banyak Warga Tertimbun Reruntuhan, Korban Tewas Akibat Gempa Jepang Terus Bertambah
Rekomendasi Tempat Wisata...
Rekomendasi Tempat Wisata di Jepang bagi Wisatawan Indonesia
Dahsyatnya Gempa Merobek...
Dahsyatnya Gempa 'Merobek' Jalanan di Anamizu Jepang
6 Fakta Unik Onigiri,...
6 Fakta Unik Onigiri, dari Makanan Jiwa hingga Simbol Terima Kasih
Pekerja Asing Jadi Ancaman,...
Pekerja Asing Jadi Ancaman, 3 Alasan Jepang Bentuk Satuan Tugas untuk Utamakan Warga Lokal
8 Kesalahpahaman tentang...
8 Kesalahpahaman tentang Jepang, dari Teknologi hingga Sushi
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
1 jam yang lalu
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
3 jam yang lalu
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
4 jam yang lalu
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
8 jam yang lalu
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
9 jam yang lalu
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
9 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved