Perdana Menteri Theresa May Peringatkan Krisis Inggris

Senin, 14 Januari 2019 - 07:05 WIB
Perdana Menteri Theresa...
Perdana Menteri Theresa May Peringatkan Krisis Inggris
A A A
LONDON - Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May memperingatkan anggota parlemen bahwa kegagalan mendukung rencananya meninggalkan Uni Eropa (UE) akan jadi bencana bagi Inggris.

Peringatan May itu diungkapkan untuk menggalang dukungan menjelang voting di parlemen yang dia diperkirakan kalah. Para anggota parlemen harus menggelar voting kesepakatan Brexit yang disusun May dengan UE. Meski demikian, tidak cukup anggota parlemen yang akan mendukung kesepakatan Brexit tersebut.

May menulis di surat kabar Sunday Express menyatakan para anggota parlemen tidak boleh membuat putus asa para pemilih yang telah mendukung Brexit. “Melakukan itu akan menjadi bencana dan pelanggaran kepercayaan pada demokrasi kita yang tak dapat dimaafkan,” kata May.

“Jadi, pesan saya pada parlemen akhir pekan ini sederhana: ini waktunya melupakan permainan dan melakukan apa yang tepat bagi negara kita,” tutur May, dilansir Reuters.

Pada Jumat (11/1), Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Jeremy Hunt menyatakan, Brexit mungkin tidak akan terjadi jika kesepakatan May gagal. Inggris dijadwalkan keluar dari UE pada 29 Maret. Sunday Times melaporkan, para anggota parlemen berencana merebut kontrol agenda legislatif untuk menghentikan atau menunda Brexit.

Ketua Partai Demokrat Liberal Vince Cable yang mendukung UE menyatakan parlemen Inggris akan bertindak menghentikan Brexit tanpa kesepakatan itu terjadi. Saat ditanya apakah anggota parlemen dapat mengajukan legislasi untuk mencabut Artikel 50, Cable menjawab,

“Ya itu tepatnya yang akan terjadi dan itu tepatnya apa yang kita harus lakukan karena ini akan sangat berbahaya dan tak dapat dimaafkan jika kondisi kacau tanpa kesepakatan dibiarkan terjadi.”

“Saya pikir parlemen akan mengontrol proses ini, akan menekankan bahwa kita mendorong opsi tidak Brexit,” kata Cable.

Oposisi Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn menyatakan, keluar UE tanpa kesepakatan akan menjadi bencana dan dia memilih kesepakatan tercapai dibandingkan menggelar referendum kedua. Dia juga akan mengajukan mosi tidak percaya pada pemerintah segera jika kesepakatan Brexit ditolak parlemen pada Selasa (15/1).

Saat ditanya tentang kemungkinan referendum Brexit kedua, Corbyn menjelaskan, “Pendapat saya sendiri adalah saya akan memilih mendapat kesepakatan yang dinegosiasikan sekarang jika kita dapat menghentikan bahaya keluar dari UE tanpa kesepakatan pada 29 Maret, yang akan menjadi bencana bagi industri, bencana bagi perdagangan.”

Adapun Wali Kota London Sadiq Khan dari Partai Buruh menyarankan PM May mundur dan menyerukan pemilu jika dia kalah dalam voting. “Jika pemerintahan dan parlemen kita tidak bisa menemukan jalan keluar dari kekacauan ini, itu harus diambil dari tangan para politisi dan dikembalikan pada rakyat Inggris untuk mengambil kontrol,” tulis Khan di Observer.

Mantan Menteri Brexit Dominic Raab menyatakan kesepakatan disusun May mematikan peluang yang ditawarkan Brexit. Dia menyatakan, jika May kalah dalam voting, negosiasi dengan UE harus berlanjut.

Tapi, jika UE tetap bersikeras, Inggris akan meninggalkan UE pada akhir Maret dengan berbagai ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). “Kita akan berada dalam posisi lebih kuat nanti, untuk terus bernegosiasi sebagai negara ketiga independen,” tutur Raab.

Dunia bisnis melihat prospek Brexit itu dengan kekhawatiran. “Bisnis telah melihat dengan mengerikan saat para politisi fokus pada perselisihan yang memecah belah dibandingkan langkah-langkah praktis diperlukan bisnis untuk bergerak ke depan,” kata para pemimpin lima kelompok lobi bisnis terbesar di Inggris, yakni Kamar Dagang Inggris, Konfederasi Industri Inggris, Federasi Bisnis Kecil, Institut Direktur, dan organisasi manufaktur utama EEF.

Lima grup lobi bisnis itu menjelaskan bisnis saat ini mendorong rencana kontingensi pada kesepakatan itu dengan perkiraan terjadi kekacauan. Kubu pendukung UE khawatir keluarnya Inggris akan melemahkan Barat saat harus menghadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tak bisa diprediksi dan semakin agresifnya China serta Rusia.

Brexit dianggap melemahkan ekonomi Eropa dan mengeluarkan satu dari dua kekuatan nuklir di UE. Para pendukung Brexit menyatakan akan ada kekacauan sebentar, dalam jangka panjang Inggris akan semakin berkembang.
(don)
Berita Terkait
Belajar Bahasa Inggris...
Belajar Bahasa Inggris Sambil Mancing di Kampung Inggris Sawangan
Kerajaan Inggris Resmi...
Kerajaan Inggris Resmi Deklarasikan Charles III sebagai Penguasa Inggris
PM Inggris Rishi Sunak...
PM Inggris Rishi Sunak Disebut Tidak Tersentuh
Otoritas Italia Perketat...
Otoritas Italia Perketat Prokes Fans Inggris Jelang Laga Ukraina vs Inggris
Kampung Inggris Kediri...
Kampung Inggris Kediri Sabet Dua Rekor MURI
Prabowo Bertemu PM Inggris...
Prabowo Bertemu PM Inggris Keir Starmer, Bahas Peningkatan Kerja Sama Indonesia-Inggris
Berita Terkini
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
1 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
2 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
4 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
8 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
9 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
10 jam yang lalu
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved