Laporan: Bantu Trump Menang Pemilu, Rusia 'Jualan' SARA di Medsos

Selasa, 18 Desember 2018 - 08:22 WIB
Laporan: Bantu Trump...
Laporan: Bantu Trump Menang Pemilu, Rusia 'Jualan' SARA di Medsos
A A A
WASHINGTON - Sebuah laporan penelitian untuk Komite Intelijen Senat Amerika Serikat (AS) mengungkap Rusia meluncurkan operasi influence online dalam pemilu Amerika 2016 dengan menggunakan media sosial.

Operasi dengan mengobarkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Facebook, Istagram, YouTube dan Twitter itu bertujuan membantu kandidat presiden Donald Trump dari Partai Republik memenangkan pemilu.

"Yang jelas adalah bahwa semua pesan berusaha untuk menguntungkan Partai Republik, dan secara khusus, Donald Trump," bunyi laporan yang disusun Oxford University’s Internet Institute untuk Komite Intelijen Senat, yang dilansir CNBC, Selasa (18/12/2018).

Operasi influence online itu dilakukan oleh Internet Research Agency (IRA) Rusia. Caranya, dengan mengobarkan materi sentimen untuk menebarkan perselisihan dan mempolarisasi pemilih di Amerika Serikat. Materi yang disebar adalah berita dan opini yang memperkuat pandangan paling ekstrem yang dipegang oleh organisasi sayap kanan dan kiri spektrum politik AS.

"Memahami dengan tepat bagaimana platform media sosial berdampak pada kehidupan publik yang sulit," lanjut laporan tersebut.

Laporan itu memberikan pandangan unik tentang bagaimana IRA digunakan untuk menabur perselisihan jauh sebelum pencalonan Donald Trump diumumkan pada Juni 2015, dan kemudian dipadatkan pada sekitar tema yang akhirnya akan mengirimnya ke Gedung Putih.
"Serangan-serangan terhadap negara kami jauh lebih komprehensif, kalkulatif dan tersebar luas daripada yang diungkapkan sebelumnya," kata Wakil Ketua Komite Intelijen, Mark Warner.
Menurut laporan tersebut, kampanye IRA dimulai sejak 2009 di Rusia. Kampanye dimulai dengan tweet awal yang ditulis dalam bahasa Rusia dan diuji pada penonton domestik Rusia.

“Aktivitas tweet bahasa Inggris meningkat sedikit di awal 2014, sebelum meningkat secara dramatis pada akhir 2014 hingga 2015,” kata laporan itu.

Laporan itu mengatakan IRA membuat posting Facebook yang sering menyatakan toleransi terhadap pandangan ekstremis, dengan menyebut imigran sebagai parasit, dan kelompok-kelompok "pengganggu" seperti veteran dan imigran.

IRA juga menggunakan posting Facebook dan Instagram berbayar yang kebanyakan ditujukan untuk orang Afrika-Amerika. Akun-akun media sosial itu rata-rata memiliki follower para pemilih kulit putih yang dibagi menjadi segmen liberal dan konservatif, serta pemilih Amerika Latin dan pemilih Muslim.

"Facebook menggunakan sistem lelang untuk memberi harga tayangan untuk segmen yang berbeda, yang berarti minat target berbeda diberi harga yang berbeda, sesuai dengan permintaan pengiklan," kata laporan itu.

“Orang Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika, Amerika Latin, dan pemuda adalah yang termurah, sementara iklan untuk kaum konservatif, Muslim Amerika dan pengguna LGBT adalah yang paling mahal. Jika kita melihat jumlah yang dibelanjakan secara total, kita melihat bahwa jumlah yang sama dihabiskan untuk kaum konservatif (sejumlah kecil iklan yang mahal) sebagaimana dihabiskan untuk menargetkan orang Amerika-Afrika (sejumlah besar iklan yang murah)," imbuh laporan tersebut.

"Data yang baru dirilis ini menunjukkan betapa agresifnya Rusia berusaha memecah belah Amerika dengan ras, agama dan ideologi, dan bagaimana IRA secara aktif bekerja untuk mengikis kepercayaan dalam lembaga demokrasi kita," kata Ketua Komite Intelijen Richard Burr.

Laporan itu mengatakan IRA memicu kemarahan di antara kelompok-kelompok ideologis yang selaras dan kelompok demografis tertentu.

Pihak Donald Trump maupun Gedung Putih belum berkomentar atas laporan tersebut. Pemerintah Rusia juga belum memberikan respons, meski Kremlin berkali-kali membantah bahwa Moskow ikut campur dalam pemilu AS 2016.
(mas)
Berita Terkait
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Pasar Taruhan Unggulkan...
Pasar Taruhan Unggulkan Trump Menangkan Pilpres Amerika Serikat 2024
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Pertarungan Retorika...
Pertarungan Retorika Penuh Intrik di Pilpres Amerika Serikat
Akui Kekalahan dari...
Akui Kekalahan dari Donald Trump di Pilpres AS, Kamala Harris Sampaikan Pidato Konsesi
Berita Terkini
Khamenei Dimakamkan...
Khamenei Dimakamkan Hari Ini, Dihadiri Lebih dari 2,3 Juta Orang
44 menit yang lalu
Gubernur Bushehr Ungkap...
Gubernur Bushehr Ungkap Target Serangan AS, Pemakaman Khamenei Tak Terdampak
1 jam yang lalu
Ledakan Terdengar di...
Ledakan Terdengar di Wilayah PLTN Bushehr, Iran Serang Fasilitas AS di Negara-negara Teluk
3 jam yang lalu
Peti Jenazah Khamenei...
Peti Jenazah Khamenei Mendarat di Kota Mashhad Menjelang Pemakamannya
3 jam yang lalu
Nasib Apes Pesawat Boeing...
Nasib Apes Pesawat Boeing 737 Hilang Kontak, Ditemukan Jadi Puing-puing di Laut Arab
4 jam yang lalu
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
5 jam yang lalu
Infografis
7 Rudal Jelajah Terkuat...
7 Rudal Jelajah Terkuat di Dunia, Misil-Misil Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved