Arab Saudi Menentang Desakan AS untuk Berdamai dengan Qatar

Sabtu, 17 November 2018 - 04:42 WIB
Arab Saudi Menentang...
Arab Saudi Menentang Desakan AS untuk Berdamai dengan Qatar
A A A
DUBAI - Pemerintah Arab Saudi menentang desakan Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan dengan Qatar. Desakan Washington itu muncul setelah pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi membuat Riyadh jadi sorotan masyarakat internasional.

Selain menyerukan Riyadh berdamai dengan Doha, Washington juga menyerukan pemimpin Koalisi Arab itu untuk mengakhiri perang di Yaman.

Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap 17 pejabat Saudi yang diduga terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Para senator AS juga memperkenalkan rancangan undang-undang dirancang untuk menangguhkan penjualan senjata ke Arab Saudi atas kematian Khashoggi dan perang Yaman.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pernah memuji Qatar dalam konferensi ekonomi di Riyadh, di saat kasus pembunuhan Khashoggi mencuat. Pujian itu dipandang sebagai perubahan sikap Saudi yang mulai melunak terkait perseteruan dengan tetangga Arab-nya itu.

Otoritas Saudi belum bersedia menanggapi permintaan untuk berkomentar soal desakan Washington. Namun, para diplomat dan sumber-sumber negara Teluk itu mengatakan bahwa Riyadh tidak melihat ide-ide baru atau langkah nyata untuk mengakhiri perselisihan dengan Qatar.

"Saya tidak melihat ada perubahan di Qatar. Pesan Putra Mahkota (Mohammed bin Salman) itu ditafsirkan secara salah. Dia mengirim pesan ke Amerika ... 'Jangan khawatir tentang Qatar karena Anda masih memiliki ekonomi yang kuat di Qatar',"kata seorang diplomat Arab kepada Reuters, yang berbicara dalam kondisi anonim karena isu tersebut sensitif.

Masing-masing negara pemboikot Qatar, yakni Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain adalah sekutu Saudi. Para negara pemboikot itu memiliki perbedaan sikap politik dan keamanan yang mencolok dengan Qatar.

Sumber di Teluk mengatakan bahwa Pangeran Mohammed akan menghindari setiap langkah yang dapat ditafsirkan sebagai kelemahan saat dia mencoba untuk memulihkan diri dari kejatuhan diplomatik atas kasus pembunuhan Khashoggi.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan Washington telah menyerukan resolusi atas krisis Qatar dan Yaman.

"Kami terus terlibat dalam kedua masalah ini dengan mitra kami di kawasan itu, termasuk Arab Saudi," kata Nauert, yang dilansir Sabtu (17/11/2018).

"Persatuan Teluk sangat penting bagi kepentingan bersama kita dalam menghadapi pengaruh jahat Iran, melawan terorisme, dan memastikan masa depan yang sejahtera bagi semua mitra Teluk kami," ujarnya.
(mas)
Berita Terkait
New York Times: Pembunuh...
New York Times: Pembunuh Khashoggi Terima Pelatihan Paramiliter di AS
Mengurai Pertemanan...
Mengurai Pertemanan Dekat Jamal Khashoggi dengan Osama bin Laden
Tunangan Khashoggi Desak...
Tunangan Khashoggi Desak Putra Mahkota Saudi Segera Dihukum
Media AS: Arab Saudi...
Media AS: Arab Saudi Buka Wilayah Udara ke Israel dengan Imbalan Akses Pegasus
AS: Pangeran Saudi Mohammed...
AS: Pangeran Saudi Mohammed bin Salman Kebal Gugatan Kasus Pembunuhan Khashoggi
Tunangan Khashoggi Peringatkan...
Tunangan Khashoggi Peringatkan Biden: Jangan Letakkan Minyak di Atas Prinsip
Berita Terkini
AS Serang Iran, Balas...
AS Serang Iran, Balas Jatuhnya Helikopter AH-64 Apache Dekat Selat Hormuz
14 menit yang lalu
9 Negara yang Memiliki...
9 Negara yang Memiliki Anggaran Terbesar Mengembangkan Bom Nuklir
2 jam yang lalu
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
4 jam yang lalu
Mungkinkah Turki Serius...
Mungkinkah Turki Serius Hidupkan Kembali Kekuasaan Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem?
5 jam yang lalu
Hizbullah Puji Aksi...
Hizbullah Puji Aksi Iran dan Houthi Hadapi Israel untuk Bela Rakyat Lebanon
9 jam yang lalu
Jaksa ICC Karim Khan...
Jaksa ICC Karim Khan Diskors karena Tuduhan Pelanggaran Etika
10 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved