Marc Benioff, Raja Software yang Kini Menjadi Penguasa Media

Selasa, 02 Oktober 2018 - 12:16 WIB
Marc Benioff, Raja Software...
Marc Benioff, Raja Software yang Kini Menjadi Penguasa Media
A A A
MARC Benioff, pendiri dan CEO Salesforce.com, tiba-tiba membuat berita besar ketika dia dan istrinya, Lynne Benioff, memutuskan untuk membeli majalah Time senilai USD190 juta pada pertengahan September silam. Bagaimana si Raja Software tiba-tiba memutuskan menjadi pemilik media?

Di San Francisco dan Silicon Valley, Benioff dikenal sebagai salah satu perintis. Dia mendirikan perusahaan software Salesforce yang kini menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Beberapa pengamat maklum dengan langkahnya.

Sebab, Benioff memang dikenal sebagai figur yang inspiratif. Dia sangat kaya, tetapi juga banyak membantu sesama. Yang paling terkenal adalah kegiatan filantropi yang diikuti banyak korporasi besar di Amerika Serikat. Modelnya 1-1-1, yaitu 1% dari modal perusahaan akan disumbangkan kepada yayasan miliknya, salesforcefoundation.org, 1% disisihkan dari waktu kerja untuk kegiatan nirlaba, dan 1% keuntungan untuk membantu 1.000 organisasi nirlaba. Bagaimana awal mulanya?

Inspirasi dari India

Benioff bergabung di Oracle pada usia 21 tahun. Karena punya otak encer, kariernya cepat melesat. Pada usia 25 tahun, dia menjadi VP termuda dan sangat sukses. “Gaji jutaan dolar per tahun hingga apartemen mewah saya dapatkan,” ungkapnya.

Namun, dalam hati kecilnya ada yang kurang. Menjalani kehidupan sebagai karyawan perusahaan sukses ternyata tidak memuaskan hatinya. “Mulanya memang saya mendefinisikan sukses dalam bentuk uang atau kekuasaan. Tetapi, pada usia 30-an, saya menyadari bahwa pencapaian semu ini tidak menyediakan saya kebahagiaan sebenarnya,” ucapnya.

Dia merasa ada yang kurang serta berupaya mencari posisinya di dunia dan membuat perubahan. Hal itu dituliskannya di buku Behind the Cloud pada 2009. Karena itu, dia mengambil cuti panjang selama enam bulan. Tujuan pertamanya adalah ke Hawaii.

Dia lantas menyewa sebuah vila di sebuah pulau untuk merefleksi diri. Selama tiga bulan di Hawaii, Benioff dan temannya yang juga sedang menghadapi krisis dalam karier memutuskan untuk pergi ke India. Mereka bertemu sejumlah guru spiritual. Tetapi, yang benar-benar mengubah pandangan hidupnya adalah Ammachi.

“Dialah yang mengenalkan saya akan ide, kemungkinan untuk memberi kembali ke dunia sambil mengejar ambisi karier. Saya menyadari bahwa sebelumnya saya tidak punya pilihan antara menjalankan bisnis dan berbuat baik. Saya ingin menyamakan dua nilai-nilai ini dan sukses di keduanya,” ungkap Benioff.

Fokus ke Tujuan

Setelah cuti, dia kembali ke Oracle dan melapor kepada bos sekaligus mentornya, Larry Ellison. Keputusannya untuk keluar dipahami Ellison. Inilah awal dia mendirikan Salesforce.com pada 1996. Itu tidak mudah. Untungnya, dia sudah memiliki koneksi yang membantunya mengamankan modal awal.

Saat itu industri software as a service bahkan belum terwujud. Pasar saat itu sedang berubah dari software as a service ke cloud . Momennya pas. “Saya menentukan tujuan dan sangat jelas terhadap apa yang ingin saya raih. Dari situ, langkah saya mulai menapak pasti. Ketika saya sedang drop, saat itulah saya merasa harus meneguhkan kembali niat dan tujuan,” tuturnya.

Setelah menjabat sebagai CEO, Salesforce langsung melesat secara finansial maupun filatropi. Bagi dia, mindset sangat vital untuk sukses. “Ada orang yang percaya keberuntungan atau karma. Mereka eksis. Tapi, yang lebih penting lagi adalah mindset . Sangat mudah dibutakan oleh kehidupan keseharian sehingga gagal melihat kesempatan dan peran penting yang seharusnya dapat dimainkan individu,” ujarnya.

Pada 2018, Benioff sukses membawa Salesforce menjadi salah satu perusahaan software terbesar di dunia. Tetapi, tahun ini pada usia 54 tahun, dia merasa masih ada yang kurang. Tibatiba Benioff bersama istrinya, Lynne, mengejutkan media ketika membeli majalah Time senilai USD190 juta.

Benioff berpendapat, dia percaya dengan multistakeholder . “Terutama pada momen ketika semua orang dan semuanya serbaterkoneksi,” ungkapnya. “Kita tidak punya pilihan untuk menjaga dan mempromosikan kendaraan media,” tambahnya.
(don)
Berita Terkait
Eksodus Miliarder: Mengapa...
Eksodus Miliarder: Mengapa Mark Zuckerberg hingga Orang Kaya Inggris Kompak Kabur?
Kekayaan Kaisar Rusia...
Kekayaan Kaisar Rusia Tsar Nicholas II, Salah Satu Pria Terkaya di Dunia
Baru 18 Tahun Punya...
Baru 18 Tahun Punya Harta Rp51,8 Triliun, Ini 15 Miliarder Muda Terkaya di Dunia
Keserakahan Orang Terkaya...
Keserakahan Orang Terkaya Dunia, Raup Rp677.915 Triliun tanpa Kenaikan Pajak
Harta 10 Orang Terkaya...
Harta 10 Orang Terkaya di Bumi Bertambah Rp5.716 Triliun, Cek Siapa Paling Banyak
Daftar 7 Orang Terkaya...
Daftar 7 Orang Terkaya Dunia dalam 10 Tahun Terakhir, Elon Musk Nomor Berapa?
Berita Terkini
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
58 menit yang lalu
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
2 jam yang lalu
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
3 jam yang lalu
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
3 jam yang lalu
Trump Ingin Terus Serang...
Trump Ingin Terus Serang Iran dari Pangkalan Militer Inggris
4 jam yang lalu
Menhan AS Hegseth Ungkap...
Menhan AS Hegseth Ungkap Biaya Perang Melawan Iran Sejauh Ini Sebesar Rp672 Triliun
6 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved