Duterte: Kritikus Asing Akan Jadi Target Hidup Militer

Sabtu, 22 September 2018 - 13:52 WIB
Duterte: Kritikus Asing...
Duterte: Kritikus Asing Akan Jadi Target Hidup Militer
A A A
MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Duterte menyatakan kritikus asing yang menyerang perang terhadap narkoba Filipina akan menjadi target hidup militer. Duterte menegaskan bahwa hanya warga Filipina yang memiliki hak untuk mempertanyakan kebijakannya.

Hal itu diungkapkan Duterte saat dia berbicara kepada militer di kota pusat Capas.

“Jika saya gagal, maka sebagai seorang Filipina, itu adalah hak Anda untuk mengkritik dan bahkan menyalahkan saya jika Anda mau. Saya tidak akan pernah, tidak pernah (menahan) Anda,” kata Duterte seperti dikutip Russia Today dari laman GMA, Sabtu (22/9/2018).

Tetapi para kritikus asing harus tetap menutup mulut mereka, dia memperingatkan, menjanjikan nasib suram bagi para penyelidik dan aktivis hak asasi manusia yang akan datang ke Filipina untuk menyelidiki tuduhan terhadapnya.

"Suatu hari ketika Anda tidak mempunyai target...target manusia hidup, saya hanya bisa membawa (kritikus asing) kepada Anda," kata Duterte kepada pasukan.

Ini bukan pertama kalinya Duterte menebar ancaman kepada pihak-pihak asing. Pada bulan Maret lalu, pemimpin Filipina berjanji akan menjadikan penyelidik internasional santapan buaya jika mereka berani datang ke negara itu.

Setelah mengambil alih kantor dua tahun lalu, Duterte meluncurkan perang besar-besaran terhadap narkoba. Human Rights Watch (HRW) mengklaim bahwa lebih dari 12.000 orang telah dibunuh oleh polisi atau "orang bersenjata tak dikenal" sejak saat itu.

Pemimpin Filipina membantah semua tuduhan, mengatakan bahwa penegak hukumnya hanya menggunakan kekuatan untuk membela diri.

Pada bulan Februari, ICC memulai pemeriksaan awal klaim terhadap Duterte; dia menjawab dengan secara sepihak menarik Filipina dari pengadilan pada bulan Maret.

Dia berpendapat bahwa ICC menyerah pada prinsip "praduga tak bersalah" dan hanya ingin menggambarkannya sebagai pelanggar hak asasi manusia yang kejam dan tak kenal belas kasihan.

Kemudian, ia melangkah lebih jauh, dengan mengatakan bahwa Filipina tidak pernah secara formal mengaksesi Statuta Roma, karena teksnya tidak dipublikasikan dalam lembaran resmi negara. Dia bersumpah untuk membujuk negara lain untuk mundur dari ICC.

Duterte juga menginstruksikan polisi Filipina untuk mengabaikan penyidik ​​jika mereka datang, dan mengancam jaksa ICC Fatou Bensouda dengan penangkapan.
(ian)
Berita Terkait
Larang Putrinya Nyapres,...
Larang Putrinya Nyapres, Duterte: Ini Bukan untuk Perempuan
Mundur dari Dunia Politik,...
Mundur dari Dunia Politik, Duterte Calonkan Putrinya Jadi Capres
Presiden Filipina Duterte...
Presiden Filipina Duterte Bersaing dengan Putrinya Perebutkan Kursi Wapres
PBB: Puluhan Ribu Tewas...
PBB: Puluhan Ribu Tewas dalam Perang Narkoba di Filipina
Sara Duterte Resmi Dilantik...
Sara Duterte Resmi Dilantik sebagai Wakil Presiden Filipina yang Baru
Putra Mendiang Diktator...
Putra Mendiang Diktator Marcos Maju dalam Pilpres Filipina
Berita Terkini
Satria Kumbara, Eks...
Satria Kumbara, Eks Marinir TNI AL yang Jadi Tentara Bayaran Rusia, Dikabarkan Tewas
8 menit yang lalu
Teror Drone Ukraina...
Teror Drone Ukraina Kian Efektif, 8 Warga Rusia Tewas
53 menit yang lalu
Kelompok Garis Keras...
Kelompok Garis Keras Iran Klaim Akan Ada Kudeta, Akankah Mojtaba Tumbang?
1 jam yang lalu
Houthi Ancam Serang...
Houthi Ancam Serang Infrastruktur Minyak Saudi jika Perang Terus Berlanjut
3 jam yang lalu
PM Irak Pernah Ditawari...
PM Irak Pernah Ditawari Suap Rp3,5 Triliun, tapi Justru Bentuk Badan Pemberantasan Korupsi
4 jam yang lalu
Setelah 4 Bulan Tenang...
Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved