Rusia Sebut Pertemuan Antar Korea Sebagai Rekonsiliasi
Rabu, 19 September 2018 - 14:43 WIB
Rusia Sebut Pertemuan Antar Korea Sebagai Rekonsiliasi
A
A
A
SEOUL - Rusia menyambut baik pertemuan antar Korea sebagai rekonsiliasi antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) dan menciptakan suasana saling percaya di Semenanjung Korea. Hal itu diungkapkan oleh Duta Besar Rusia untuk Korut Alexander Matsegora.
"Kami melihat pertemuan antara dua pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan murni positif. Rekonsiliasi antara dua bagian Semenanjung Korea akan membantu meredakan ketegangan, menciptakan suasana saling percaya, saling pertimbangan untuk kepentingan masing-masing lain, dan, akibatnya, ini akan mengarah pada pengurangan ketegangan militer," kata Matsegora seperti disitat dari Sputnik, Rabu (19/9/2018).
Dalam kesempatan itu, Matsegora juga menanggapi tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa Rusia telah mencurangi resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Korut. Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar karena Rusia secara ketat mematuhi kewajibannya.
"Tuduhan ini tidak adil. Mereka tidak didasarkan pada fakta, tetapi pada spekulasi dan asumsi yang tidak berdasar. Rusia dengan saksama, sangat bertanggung jawab dan secara konsisten memenuhi persyaratan resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Matsegora.
Diplomat Rusia itu mencatat bahwa ini adalah alasan mengapa perdagangan bilateral antara Rusia dan Korut turun lebih dari 70 persen sejak awal tahun.
"Hampir 20.000 pekerja Korea Utara telah meninggalkan Rusia. Dan mereka terus pergi. Pada akhir tahun kami tidak hanya akan 'memenuhi', tetapi 'mengungguli' persyaratan yang disediakan dalam resolusi DK PBB, jumlah warga Korea Utara yang bekerja di negara kita akan dibagi dua," tutur Matsegora.
Pada Senin kemarin, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley menuduh Rusia melakukan pelanggaran "konsisten" resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap sanksi Korut yang melibatkan pembatasan pasokan bahan bakar ke Pyongyang dan mempekerjakan pekerja Korea Utara.
"Kami melihat pertemuan antara dua pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan murni positif. Rekonsiliasi antara dua bagian Semenanjung Korea akan membantu meredakan ketegangan, menciptakan suasana saling percaya, saling pertimbangan untuk kepentingan masing-masing lain, dan, akibatnya, ini akan mengarah pada pengurangan ketegangan militer," kata Matsegora seperti disitat dari Sputnik, Rabu (19/9/2018).
Dalam kesempatan itu, Matsegora juga menanggapi tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa Rusia telah mencurangi resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Korut. Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar karena Rusia secara ketat mematuhi kewajibannya.
"Tuduhan ini tidak adil. Mereka tidak didasarkan pada fakta, tetapi pada spekulasi dan asumsi yang tidak berdasar. Rusia dengan saksama, sangat bertanggung jawab dan secara konsisten memenuhi persyaratan resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Matsegora.
Diplomat Rusia itu mencatat bahwa ini adalah alasan mengapa perdagangan bilateral antara Rusia dan Korut turun lebih dari 70 persen sejak awal tahun.
"Hampir 20.000 pekerja Korea Utara telah meninggalkan Rusia. Dan mereka terus pergi. Pada akhir tahun kami tidak hanya akan 'memenuhi', tetapi 'mengungguli' persyaratan yang disediakan dalam resolusi DK PBB, jumlah warga Korea Utara yang bekerja di negara kita akan dibagi dua," tutur Matsegora.
Pada Senin kemarin, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley menuduh Rusia melakukan pelanggaran "konsisten" resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap sanksi Korut yang melibatkan pembatasan pasokan bahan bakar ke Pyongyang dan mempekerjakan pekerja Korea Utara.
(ian)