Stop Bantuan Rumah Sakit, PLO Sebut AS Lakukan Pemerasan Politik
Minggu, 09 September 2018 - 16:28 WIB
Stop Bantuan Rumah Sakit, PLO Sebut AS Lakukan Pemerasan Politik
A
A
A
YERUSALEM - Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, mengecam tindakan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menghentikan sumbangan untuk rumah sakit. PLO menyebut tindakan tersebut sebagai pemerasan politik.
Anggota Komite Eksekutif PLO, Hanan Ashrawi, menyatakan keputusan pemerintah AS akan menyebabkan ketidakstabilan serius dan membahayakan ribuan pasien serta keluarga mereka di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Kebijakan tersebut juga membahayakan mata pencaharian ribuan pekerja di sektor perawatan kesehatan Palestina.
"Tindakan pemerasan politik seperti itu bertentangan dengan norma kesusilaan dan moralitas manusia," kata Ashrawi dalam sebuah pernyataan.
"Politik seharusnya tidak mengalahkan kemanusiaan atau membahayakan orang-orang rentan yang membutuhkan dukungan dan perlindungan," imbuhnya seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (9/9/2018).
Seperti diwartakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menghentikan bantuan untuk rumah sakit Palestina. Bantuan senilai Rp370 miliar itu disebut akan dialihkan untuk proyek-proyek prioritas tinggi di tempat lain.
Langkah ini menyusul pengumuman Departemen Luar Negeri AS pada akhir Agustus lalu bahwa pemerintah memangkas lebih dari Rp2,9 triliun dalam bentuk bantuan bilateral kepada Palestina menyusul tinjauan bahwa Presiden Donald Trump memerintahkan untuk memastikan pembelanjaan itu sejalan dengan kepentingan nasional AS.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan peninjauan itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa bantuan Amerika dibelanjakan sesuai dengan kepentingan nasional AS dan memberikan nilai kepada pembayar pajak AS.
"Pemerintah AS akan mengalihkan sekitar Rp370 miliar yang semula direncanakan untuk jaringan Rumah Sakit Yerusalem Timur akan masuk ke proyek-proyek prioritas tinggi di tempat lain,” tambah departemen itu tanpa mengidentifikasi proyek tersebut.
Pemotongan bantuan AS untuk Palestina ini terjadi ketika Trump dan penasihat Timur Tengahnya bersiap untuk melepaskan rencana perdamaian AS untuk Israel dan Palestina. Namun Trump membuat marah orang-orang Palestina awal tahun ini dengan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, yang menyebabkan Palestina memutuskan kontak dengan AS.
Anggota Komite Eksekutif PLO, Hanan Ashrawi, menyatakan keputusan pemerintah AS akan menyebabkan ketidakstabilan serius dan membahayakan ribuan pasien serta keluarga mereka di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Kebijakan tersebut juga membahayakan mata pencaharian ribuan pekerja di sektor perawatan kesehatan Palestina.
"Tindakan pemerasan politik seperti itu bertentangan dengan norma kesusilaan dan moralitas manusia," kata Ashrawi dalam sebuah pernyataan.
"Politik seharusnya tidak mengalahkan kemanusiaan atau membahayakan orang-orang rentan yang membutuhkan dukungan dan perlindungan," imbuhnya seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (9/9/2018).
Seperti diwartakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menghentikan bantuan untuk rumah sakit Palestina. Bantuan senilai Rp370 miliar itu disebut akan dialihkan untuk proyek-proyek prioritas tinggi di tempat lain.
Langkah ini menyusul pengumuman Departemen Luar Negeri AS pada akhir Agustus lalu bahwa pemerintah memangkas lebih dari Rp2,9 triliun dalam bentuk bantuan bilateral kepada Palestina menyusul tinjauan bahwa Presiden Donald Trump memerintahkan untuk memastikan pembelanjaan itu sejalan dengan kepentingan nasional AS.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan peninjauan itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa bantuan Amerika dibelanjakan sesuai dengan kepentingan nasional AS dan memberikan nilai kepada pembayar pajak AS.
"Pemerintah AS akan mengalihkan sekitar Rp370 miliar yang semula direncanakan untuk jaringan Rumah Sakit Yerusalem Timur akan masuk ke proyek-proyek prioritas tinggi di tempat lain,” tambah departemen itu tanpa mengidentifikasi proyek tersebut.
Pemotongan bantuan AS untuk Palestina ini terjadi ketika Trump dan penasihat Timur Tengahnya bersiap untuk melepaskan rencana perdamaian AS untuk Israel dan Palestina. Namun Trump membuat marah orang-orang Palestina awal tahun ini dengan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, yang menyebabkan Palestina memutuskan kontak dengan AS.
(ian)