Profesor China Pengkritik Rezim Komunis Hilang usai Wawancara Radio

Jum'at, 03 Agustus 2018 - 15:42 WIB
Profesor China Pengkritik...
Profesor China Pengkritik Rezim Komunis Hilang usai Wawancara Radio
A A A
BEIJING - Seorang profesor China yang terkenal kritis pada rezim pemerintah komunis pimpinan Presiden Xi Jinping hilang misterius. Dia dinyatakan hilang dua hari setelah melakukan wawancara dengan stasiun radio pemerintah Amerika Serikat, Voice of America (VoA).

Wawancara jarak jauh itu tiba-tiba terhenti setelah enam polisi menggerebek kediamannya. Profesor Sun Wenguang dinyatakan hilang hari Jumat (3/8/2018). Wawancara terakhir pada Rabu malam berakhir dengan suara mencurigakan.

Sun awalnya sedang berbicara dengan stasiun VoA. Di tengah wawancara, setengah lusin petugas polisi menerobos masuk ke apartemennya di Kota Jinan bagian timur.

Suara terakhirnya yang terdengar oleh stasiun radio adalah; "Saya memiliki kebebasan berbicara". Setelah suara itu, wawancara terhenti total.

VoA menyatakan, Sun belum menanggapi upaya wartawan yang menghubunginya. Namun, beberapa sumber yang menolak diidentifikasi mengatakan profesor itu ditahan di sebuah hotel yang dikelola militer di Jinan.

Sebagai profesor fisika, Sun yang berusia 84 tahun telah lama bersikap kritis terhadap kepemimpinan komunis China. Kritik terbarunya adalah soal pengeluaran besar China pada proyek-proyek pembangunan di luar negeri pada saat banyak orang China menderita kemiskinan.

Kritik Sun terakit dengan inisiatif "Belt and Road" Presiden dan pemimpin Partai Komunis, Xi Jinping, yang telah mengalokasikan sekitar USD1 triliun untuk pelabuhan, pembangkit listrik dan proyek lain yang menghubungkan China ke sebagian Asia, Eropa, Afrika, dan lainnya.

Inisiatif itu baru-baru ini mengalami hambatan karena negara-negara yang terlibat menolak utang besar yang akan mereka tanggung.

Dalam wawancara radio itu, Sun sempat melontarkan kritikan keras."Melempar uang di sekitar seperti ini tidak bermanfaat bagi negara dan masyarakat kami," katanya.

Sun merupakan koordinator penandatangan "Charter 08", sebuah seruan untuk reformasi demokratis. Rekannya, sesama penulis, Liu Xiaobo yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian meninggal tahun lalu ketika menjalani hukuman subversi.

Pandangan Sun telah membuatnya mendapat tindakan keras. Di antaranya, ancaman penjara, pengajuan paspor ditolak dan uang pensiunnya dipotong.

Menanggapi penahanan Sun, politisi Partai Republik AS Chris Smith menyerukan China agar segera membebaskannya.

"Orang-orang China dan Amerika harus terus bekerja menuju hari ketika seseorang seperti Profesor Sun dapat secara terbuka berbagi pendapatnya, melalui pers yang bebas, tanpa takut akan pembalasan," kata Smith.
(mas)
Berita Terkait
Presiden Taiwan Terbang...
Presiden Taiwan Terbang ke Amerika Serikat, China Murka
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Inilah Perbandingan...
Inilah Perbandingan Kekuatan Militer China vs Amerika Serikat
Dijegal Amerika Serikat,...
Dijegal Amerika Serikat, Mobil Listrik China Semakin Banting Harga
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
Media China Sindir Kerusuhan...
Media China Sindir Kerusuhan di Amerika Serikat
Berita Terkini
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
1 jam yang lalu
Iran Ejek AS Ngotot...
Iran Ejek AS Ngotot Terapkan Tarif di Selat Hormuz: Biaya 20% Trump Terlalu Mahal
2 jam yang lalu
AS Lancarkan Lebih Banyak...
AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
3 jam yang lalu
Seiring Perang, Ekspor...
Seiring Perang, Ekspor Minyak Iran Tembus 80 Juta Barel dalam Waktu Kurang dari Sebulan
4 jam yang lalu
Eks Presiden Iran Ahmadinejad...
Eks Presiden Iran Ahmadinejad Sangkal Laporan Agen Mossad Ingin Merekrutnya
5 jam yang lalu
Pertahanan Udara Arab...
Pertahanan Udara Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi
6 jam yang lalu
Infografis
18 Kolonel AD Pecah...
18 Kolonel AD Pecah Bintang usai Promosi Jabatan di Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved