Jet Rusia Bombardir Suriah Selatan, PBB Desak Yordania Buka Perbatasan
Jum'at, 06 Juli 2018 - 00:41 WIB
Jet Rusia Bombardir Suriah Selatan, PBB Desak Yordania Buka Perbatasan
A
A
A
BEIRUT - Badan pengungsi PBB, UNHCR, mendesak Yordania untuk membuka perbatasannya bagi warga Suriah yang telah melarikan diri dari pertempuran. UNHCR mencatat jumlah total pengungsi sekarang mencapai lebih dari 320.000, dengan 60.000 dari mereka berkumpul di perbatasan dengan Yordania.
Presiden Suriah Bashar al-Assad berniat untuk merebut kembali seluruh wilayah barat daya termasuk perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan Yordania. Daerah ini adalah salah satu benteng pemberontak terakhir di Suriah setelah lebih dari tujuh tahun perang.
Tanpa adanya tanda-tanda intervensi oleh musuh-musuh asingnya, pasukan pemerintah tampaknya bersiap untuk kemenangan besar lainnya dalam perang setelah menghancurkan benteng pemberontak terakhir yang tersisa di dekat Damaskus dan Homs.
Rekaman televisi negara menunjukkan awan asap raksasa yang menjulang di atas ladang, atap dan area industri yang jauh, disertai dengan suara ledakan sesekali.
Setelah empat hari pengeboman berkurang, serangan udara yang intens dimulai kembali pada Rabu menyusul kolapsnya pembicaraan antara pemberontak dan perwira Rusia, yang diperantarai oleh Yordania.
"Rusia tidak menghentikan bombardir," Bashar al-Zoubi, pemimpin pemberontak terkemuka di Suriah selatan, yang menjadi fokus serangan pemerintah.
"Rezim mencoba untuk maju dan bentrokan terus berlanjut," imbuhnya melalui pesan singkat dari wilayah Deraa seperti dilansir Reuters, Jumat (6/7/2018).
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), kelompok pemantau perang melalui sumber di lapangan, mengatakan ada 600 serangan udara dalam 15 jam, meluas hingga Kamis dini hari.
Media pemerintah mengatakan pasukan pemerintah telah merebut kota Saida, sekitar 10 km timur kota Deraa. Sebuah pusat komando pemberontak mengatakan di Twitter bahwa upaya pemerintah untuk menyerbu kota itu tertahan lusinan serangan udara Rusia, bom barel dan rentetan roket.
Serangan dua minggu itu telah berhasil merebut sepotong wilayah pemberontak di timur laut kota Deraa, tempat beberapa pemberontak menyerah.
SOHR mengatakan 150 warga sipil telah tewas.
Warga sipil yang melarikan diri kebanyakan mencari perlindungan di sepanjang perbatasan dengan Israel dan Yordania, yang sudah menampung sekitar 650.000 pengungsi Suriah. Kedua negara telah mengatakan mereka tidak akan membuka perbatasan mereka, tetapi telah mendistribusikan beberapa pasokan di dalam wilayah Suriah.
Suriah Barat adalah "zona de-eskalasi" yang disetujui tahun lalu oleh Rusia, Yordania dan Amerika Serikat untuk mengurangi kekerasan.
Menjelang awal serangan pemerintah, Washington mengindikasikan akan menanggapi pelanggaran kesepakatan itu, tetapi itu belum dilakukan. Washington telah mengatakan kepada pemberontak untuk tidak mengharapkan bantuan militer Amerika.
Presiden Suriah Bashar al-Assad berniat untuk merebut kembali seluruh wilayah barat daya termasuk perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan Yordania. Daerah ini adalah salah satu benteng pemberontak terakhir di Suriah setelah lebih dari tujuh tahun perang.
Tanpa adanya tanda-tanda intervensi oleh musuh-musuh asingnya, pasukan pemerintah tampaknya bersiap untuk kemenangan besar lainnya dalam perang setelah menghancurkan benteng pemberontak terakhir yang tersisa di dekat Damaskus dan Homs.
Rekaman televisi negara menunjukkan awan asap raksasa yang menjulang di atas ladang, atap dan area industri yang jauh, disertai dengan suara ledakan sesekali.
Setelah empat hari pengeboman berkurang, serangan udara yang intens dimulai kembali pada Rabu menyusul kolapsnya pembicaraan antara pemberontak dan perwira Rusia, yang diperantarai oleh Yordania.
"Rusia tidak menghentikan bombardir," Bashar al-Zoubi, pemimpin pemberontak terkemuka di Suriah selatan, yang menjadi fokus serangan pemerintah.
"Rezim mencoba untuk maju dan bentrokan terus berlanjut," imbuhnya melalui pesan singkat dari wilayah Deraa seperti dilansir Reuters, Jumat (6/7/2018).
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), kelompok pemantau perang melalui sumber di lapangan, mengatakan ada 600 serangan udara dalam 15 jam, meluas hingga Kamis dini hari.
Media pemerintah mengatakan pasukan pemerintah telah merebut kota Saida, sekitar 10 km timur kota Deraa. Sebuah pusat komando pemberontak mengatakan di Twitter bahwa upaya pemerintah untuk menyerbu kota itu tertahan lusinan serangan udara Rusia, bom barel dan rentetan roket.
Serangan dua minggu itu telah berhasil merebut sepotong wilayah pemberontak di timur laut kota Deraa, tempat beberapa pemberontak menyerah.
SOHR mengatakan 150 warga sipil telah tewas.
Warga sipil yang melarikan diri kebanyakan mencari perlindungan di sepanjang perbatasan dengan Israel dan Yordania, yang sudah menampung sekitar 650.000 pengungsi Suriah. Kedua negara telah mengatakan mereka tidak akan membuka perbatasan mereka, tetapi telah mendistribusikan beberapa pasokan di dalam wilayah Suriah.
Suriah Barat adalah "zona de-eskalasi" yang disetujui tahun lalu oleh Rusia, Yordania dan Amerika Serikat untuk mengurangi kekerasan.
Menjelang awal serangan pemerintah, Washington mengindikasikan akan menanggapi pelanggaran kesepakatan itu, tetapi itu belum dilakukan. Washington telah mengatakan kepada pemberontak untuk tidak mengharapkan bantuan militer Amerika.
(ian)