Prediksi Cuaca, BMKG Jalin Kerja Sama dengan NOAA AS
Jum'at, 29 Juni 2018 - 09:45 WIB
Prediksi Cuaca, BMKG Jalin Kerja Sama dengan NOAA AS
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjalin kerja sama dengan National Oceanic and Atospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat (AS) agar bisa memprediksi cuaca secara cepat, tepat dan akurat.
Menurut Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati, interaksi laut-udara di kawasan tropis sangat kompleks dan menjadi pendorong utama kejadian cuaca dan iklim ekstrem. Terlebih Indonesia memiliki luas perairan hampir mencapai 65% dari keseluruhan luar wilayahnya.
"Menyadari kondisi ini, BMKG dituntut untuk memberikan informasi cuaca, iklim dan gempa bumi secara cepat, tepat dan akurat, terlebih saat ini terjadi kejadian cuaca ekstrem sehingga perlu memberikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim secara cepat, tepat dan akurat," tuturnya dalam rilis yang diterima Sindonews, Jumat (29/6/2018).
Menurut Dwikorita, lembaga yang dipimpinnya tidak hanya memerlukan alat observasi yang handal tetapi perlu daya analisa yang handal karena saat ini terjadi perubahan iklim global yang mengakibatkan fenomena atmosfer dan ocean sangat cepat berubah. Contohnya musim kemarau terjadi cuaca ekstrim.
"Kondisi ini menuntut BMKG untuk terus melakukan lompatan-lompatan inovasi dan kapasitas daya analisa dan instrument teknologi sehingga BMKG melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan NOAA (National Oceanic and Atospheric Administration) USA dengan dukungan Kedutaan Besar AS," tambah Dwikorita.
Diutarakan Dwikorita bahwa sejak tahun 2006 BMKG-NOAA sudah berkolaborasi untuk proyek bersama perihal observasi di Samudera Hindia dan Training Workshop untuk peningkatan SDM pegawai BMKG.
"Tahun ini, BMKG berhasil melakukan lompatan inovasi prakiraan cuaca, yang tahun sebelumnya presisi untuk ketelitian tingkat kabupaten, tetapi tahun ini hingga tingkat kecamatan," kata Dwikorita.
"Sementara untuk peringatan dini, BMKG tahun ini sudah dapat memberikan peringatan dini 6 jam sebelum kejadian, yang sebelumnya hanya mampu 3 jam sebelum kejadian," tambah Dwikorita.
Disela-sela penjelasannya, Dwikorita menuturkan setiap tahun, melalui kerja sama dengan NOAA, BMKG melakukan pemeliharaan buoy guna pengamatan cuaca dengan mengirimkan tim ekspedisi untuk melakukan pengamatan di Samudra. Pemeliharaan buoy juga untuk meningkatkan keakurasian data cuaca dan iklim.
Dwikorita mengharapkan kerja sama ini dapat meningkatkan daya analisis dan analisis numerik berbasis data. Dengan begitu diharapkan ada peningkatan kualitas data karena adanya peningkatan kualitas alat dan observasi, yaitu pengamatan di Samudra yang dulunya hanya pengamatan satelit dan radar. Selain itu saat ini sedang ditingkatkan big data dan artificial intelligence sehingga diiharapkan dapat menghasilkan data yang lebih akurat untuk 1 tahun ke depan.
Sementara perwakilan dari Kedutaan Besar AS, Susan Shultz mengutarakan bahwa dirinya mendukung kegiatan kerja sama BMKG dengan NOAA. Diharapkan melalui kerja sama ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahanam cuaca.
"Saya harap BMKG dan NOAA dapat menunjukkan peran penting pengamatan di Samudera Hindia seperti Ina-Prima," tutur Susan.
Menurut Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati, interaksi laut-udara di kawasan tropis sangat kompleks dan menjadi pendorong utama kejadian cuaca dan iklim ekstrem. Terlebih Indonesia memiliki luas perairan hampir mencapai 65% dari keseluruhan luar wilayahnya.
"Menyadari kondisi ini, BMKG dituntut untuk memberikan informasi cuaca, iklim dan gempa bumi secara cepat, tepat dan akurat, terlebih saat ini terjadi kejadian cuaca ekstrem sehingga perlu memberikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim secara cepat, tepat dan akurat," tuturnya dalam rilis yang diterima Sindonews, Jumat (29/6/2018).
Menurut Dwikorita, lembaga yang dipimpinnya tidak hanya memerlukan alat observasi yang handal tetapi perlu daya analisa yang handal karena saat ini terjadi perubahan iklim global yang mengakibatkan fenomena atmosfer dan ocean sangat cepat berubah. Contohnya musim kemarau terjadi cuaca ekstrim.
"Kondisi ini menuntut BMKG untuk terus melakukan lompatan-lompatan inovasi dan kapasitas daya analisa dan instrument teknologi sehingga BMKG melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan NOAA (National Oceanic and Atospheric Administration) USA dengan dukungan Kedutaan Besar AS," tambah Dwikorita.
Diutarakan Dwikorita bahwa sejak tahun 2006 BMKG-NOAA sudah berkolaborasi untuk proyek bersama perihal observasi di Samudera Hindia dan Training Workshop untuk peningkatan SDM pegawai BMKG.
"Tahun ini, BMKG berhasil melakukan lompatan inovasi prakiraan cuaca, yang tahun sebelumnya presisi untuk ketelitian tingkat kabupaten, tetapi tahun ini hingga tingkat kecamatan," kata Dwikorita.
"Sementara untuk peringatan dini, BMKG tahun ini sudah dapat memberikan peringatan dini 6 jam sebelum kejadian, yang sebelumnya hanya mampu 3 jam sebelum kejadian," tambah Dwikorita.
Disela-sela penjelasannya, Dwikorita menuturkan setiap tahun, melalui kerja sama dengan NOAA, BMKG melakukan pemeliharaan buoy guna pengamatan cuaca dengan mengirimkan tim ekspedisi untuk melakukan pengamatan di Samudra. Pemeliharaan buoy juga untuk meningkatkan keakurasian data cuaca dan iklim.
Dwikorita mengharapkan kerja sama ini dapat meningkatkan daya analisis dan analisis numerik berbasis data. Dengan begitu diharapkan ada peningkatan kualitas data karena adanya peningkatan kualitas alat dan observasi, yaitu pengamatan di Samudra yang dulunya hanya pengamatan satelit dan radar. Selain itu saat ini sedang ditingkatkan big data dan artificial intelligence sehingga diiharapkan dapat menghasilkan data yang lebih akurat untuk 1 tahun ke depan.
Sementara perwakilan dari Kedutaan Besar AS, Susan Shultz mengutarakan bahwa dirinya mendukung kegiatan kerja sama BMKG dengan NOAA. Diharapkan melalui kerja sama ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahanam cuaca.
"Saya harap BMKG dan NOAA dapat menunjukkan peran penting pengamatan di Samudera Hindia seperti Ina-Prima," tutur Susan.
(ian)