Demonstran AS Ancam 'Coret' Legislator Pro Kepemilikan Senjata
Minggu, 25 Maret 2018 - 11:51 WIB
Demonstran AS Ancam 'Coret' Legislator Pro Kepemilikan Senjata
A
A
A
WASHINGTON - Seruan "Jangan terjadi lagi" diteriakkan ratusan ribu anak muda Amerika Serikat (AS) dan pendukungnya. Mereka menuntut pemberlakukan undang-undang senjata yang lebih ketat, pasca pembantaian di sebuah sekolah menengah di Florida bulan lalu.
Aksi yang diberi nama For Our Lives ini adalah aksi terbesar yang terjadi di AS dalam bulan ini. Para demonstran, yang mayoritas pelajar dan pemuda, meminta para legislator AS dan Presiden Donald Trump untuk mengatasi permasalahan ini.
Mereka ingin menghancurkan kebuntuan di legislatif yang telah lama menghambat upaya untuk meningkatkan pembatasan penjualan senjata api.
Aksi demonstrasi anti senjata menginginkan Kongres, banyak dari anggotanya siap untuk dipilih kembali pada bulan November, untuk melarang penjualan senjata serbu. Senjata jenis ini digunakan dalam pembantaian di Florida. Mereka juga meminta memperketat pemeriksaan latar belakang pembeli senjata.
“Politisi: mewakili rakyat atau keluar. Berdiri bersama kami atau waspada, para pemilih akan datang,” kata Cameron Kasky, seorang pelajar berusia 17 tahun di Marjory Stoneman Douglas, berorasi dihadapan massa demonstran seperti dikutip dari Reuters, Minggu (25/3/2018).
“Kami akan memastikan orang-orang terbaik masuk dalam pilihan kami untuk menjalankan bukan sebagai politisi, tetapi sebagai orang Amerika. Karena ini...ini...tidak memangkasnya,” kata pelajar lain, David Hoog, menunjuk pada gedung Capitol yang berkubah putih di belakang panggung.
Aksi demonstrasi remaja dan pemuda AS memenuhi jalan-jalan di kota-kota lain termasuk Atlanta, Baltimore, Boston, Chicago, Los Angeles, Miami, Minneapolis, New York, San Diego, dan St. Louis.
Lebih dari 800 demonstrasi diperkirakan mengikuti aksi ini di AS dan di luar negeri, menurut koordinator, dengan aksi terjauh dilakukan di London, Mauritius, Stockholm dan Sydney.
Aksi yang diberi nama For Our Lives ini adalah aksi terbesar yang terjadi di AS dalam bulan ini. Para demonstran, yang mayoritas pelajar dan pemuda, meminta para legislator AS dan Presiden Donald Trump untuk mengatasi permasalahan ini.
Mereka ingin menghancurkan kebuntuan di legislatif yang telah lama menghambat upaya untuk meningkatkan pembatasan penjualan senjata api.
Aksi demonstrasi anti senjata menginginkan Kongres, banyak dari anggotanya siap untuk dipilih kembali pada bulan November, untuk melarang penjualan senjata serbu. Senjata jenis ini digunakan dalam pembantaian di Florida. Mereka juga meminta memperketat pemeriksaan latar belakang pembeli senjata.
“Politisi: mewakili rakyat atau keluar. Berdiri bersama kami atau waspada, para pemilih akan datang,” kata Cameron Kasky, seorang pelajar berusia 17 tahun di Marjory Stoneman Douglas, berorasi dihadapan massa demonstran seperti dikutip dari Reuters, Minggu (25/3/2018).
“Kami akan memastikan orang-orang terbaik masuk dalam pilihan kami untuk menjalankan bukan sebagai politisi, tetapi sebagai orang Amerika. Karena ini...ini...tidak memangkasnya,” kata pelajar lain, David Hoog, menunjuk pada gedung Capitol yang berkubah putih di belakang panggung.
Aksi demonstrasi remaja dan pemuda AS memenuhi jalan-jalan di kota-kota lain termasuk Atlanta, Baltimore, Boston, Chicago, Los Angeles, Miami, Minneapolis, New York, San Diego, dan St. Louis.
Lebih dari 800 demonstrasi diperkirakan mengikuti aksi ini di AS dan di luar negeri, menurut koordinator, dengan aksi terjauh dilakukan di London, Mauritius, Stockholm dan Sydney.
(ian)