Lavrov: Rusia Tidak Akan Respon Ultimatum Inggris

Selasa, 13 Maret 2018 - 19:55 WIB
Lavrov: Rusia Tidak...
Lavrov: Rusia Tidak Akan Respon Ultimatum Inggris
A A A
MOSKOW -
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyatakan pihaknya tidak akan merespon ultimatum Inggris, hingga London mau mengirimkan contoh racun yang diduga digunakan terhadap pembelot Rusia, Sergei Skripal.

Ultimatun terhadap Rusia disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson. Johson mengatakan Rusia harus menjelaskan kejadian yang benar. Dia mengatakan bahwa Duta Besar Rusia di London harus menjawabnya paling lambat hari ini.

Jika Moskow tidak memberikan tanggapan yang kredibel, pemerintah Inggris akan menyimpulkan bahwa serangan tersebut melibatkan penggunaan kekerasan yang tidak sah oleh negara Rusia terhadap Inggris Raya.

"Kami pasti mendengar ultimatum tersebut disuarakan di London. Juru bicara Kementerian Luar Negeri telah berkomentar mengenai sikap kita terhadap hal ini," ucapnya mengacu pada pernyataan Maria Zakharova tentang pernyataan Perdana Menteri Inggris, Theresa May di Parlemen sebagai "sirkus".

Lavrov lalu menuturkan bahwa kasus dugaan penggunaan senjata kimia harus ditangani melalui saluran yang tepat, melalui Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW), di mana Rusia dan Inggris adalah anggotanya.

"Begitu rumor tersebut muncul bahwa Skripal diracun dengan menggunakan agen yang diproduksi Rusia, seperti yang disampaikan oleh pemimpin Inggris, kami mengirim permintaan resmi untuk mengakses hal itu, sehingga ahli kami dapat mengujinya sesuai dengan Konvensi Senjata Kimia. Sejauh ini permintaan tersebut telah diabaikan oleh pihak Inggris," ucapnya, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (13/3).

Dia menegaskan bahwa Rusia tidak ada hubungannya dengan serangan terhadap Skripal dan akan membantu Inggris dalam penyelidikan tersebut, dengan syarat bahwa London memenuhi kewajibannya sendiri mengenai bagaimana bukti serangan tersebut ditangani.

"Aturan OPCW mengizinkan Inggris dalam hal ini untuk mengirim permintaan ke Rusia mengenai senjata kimia buatan Rusia dan mengharapkan tanggapan dalam waktu 10 hari. Jika tanggapannya tidak memuaskan, Inggris harus mengajukan keluhan ke dewan eksekutif organisasi tersebut dan konferensi anggota dewan CWC," katanya.

"Untuk bagiannya, Rusia mengharapkan Inggris untuk berbagi bukti mengenai kasus Skripal. Mantan agen ganda dan putrinya Yulia, yang juga diracuni, memegang kewarganegaraan Rusia, jadi Rusia memiliki hak untuk mengetahui bagaimana usaha mereka dalam menyelidiki insiden ini," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
33 menit yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
1 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
4 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
7 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
8 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
9 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved