Gunung Bawah Laut di Jepang Kembali Aktif, Bisa Tewaskan 100 Juta Orang Jika Meletus

Minggu, 18 Februari 2018 - 14:45 WIB
Gunung Bawah Laut di...
Gunung Bawah Laut di Jepang Kembali Aktif, Bisa Tewaskan 100 Juta Orang Jika Meletus
A A A
GUNUNG berapi bawah laut di lepas pantai Jepang yang pernah meletus 7.300 tahun silam bisa kembali aktif. Para peneliti menemukan bukti adanya kubah lava raksasa di ruang magma yang runtuh di gunung berapi Kikai. Mereka yakin kubah lava itu memiliki magma sekitar 32 juta kilometer kubik dan pembelokan di permukaan menunjukkan kubah itu tumbuh. Saat ini kubah tersebut memiliki lebar 10 km dan tinggi 600 meter. Para peneliti menyatakan, letusan bisa terjadi tanpa peringatan dan jika itu terjadi, maka dapat menewaskan 100 juta orang dan memicu musim dingin vulkanik.

Studi yang dilakukan para peneliti bersama Kobe Ocean-Bottom Exploration Center (KOBEC) di Universitas Kobel mengonfirmasi kubah lava raksasa itu tercipta setelah letusan super yang membentuk kawah pada 7.300 tahun silam. Letusan itu diduga telah melenyapkan peradaban prasejarah Jomon di Jepang Selatan.

Jika kubah lava baru itu meletus, maka dapat mengeluarkan material dalam jumlah besar ke atmosfer dan berpotensi menutup sinar matahari di beberapa wilayah hingga memicu terjadinya "musim dingin vulkanik". Guncangan gempa saat letusan juga bisa memicu tsunami yang menerjang wilayah selatan Jepang dan pantai Taiwan dan China, sebelum menerjang pantai Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Studi itu juga menyatakan letusan super jarang, tapi merupakan kejadian sangat berbahaya. "Letusan itu juga memiliki dampak global sangat parah seperti musim dingin vulkanik. Banyak gunung api super itu mengulang kejadian letusan super dalam jutaan tahun sejarahnya," papar laporan tersebut.

Laporan itu juga menambahkan, para peneliti berharap bisa menggunakan riset mereka dalam persiapan untuk letusan super berikutnya. Kubah lava itu berada di kaldera, depresi seperti kuali yang terbentuk setelah runtuhnya gunung itu sendiri sehingga membentuk kawah. Runtuhnya gunung biasanya dipicu saat penampungan magma di bawah gunung kosong karena letusan vulkanik.

Sejak KOBEC berdiri pada 2015, lembaga itu telah melakukan tiga survei. Saat ini kubah lava menjulang hingga 600 meter di atas dasar laut dan sekarang hanya 30,3 meter di bawah permukaan. Menurut studi itu, bagian luar dan dalam kaldera mungkin tumpang tindih di Kepulauan Satsuma Iojima dan Takeshima yang jadi bagian gugusan Kepulauan Osumi di pantai selatan Jepang.

Enam sampel yang dikumpulkan sejauh ini dari kubah itu adalah rhyolite, jenis batuan beku terbentuk saat magma atau lava dingin yang menunjukkan kubah dapat mengandung lava. Para peneliti menemukan beberapa gangguan di permukaan kubah sehingga mereka yakin lava terbangun di bawah permukaan kubah.

Mereka juga menemukan gelembung gas aktif serta kolom air super panas, dekat kaldera. "Meskipun kemungkinan letusan kaldera raksasa menerjang kepulauan di Jepang sekitar 1% dalam 100 tahun mendatang, diperkirakan jumlah korban tewas dapat mencapai sekitar 100 juta dalam skenario terburuk," ungkap Profesor Yoshiyuki Tastsumi, pakar magma dan kepala KOBEC pada surat kabar The Mainichi.

Para peneliti dengan Kapal Fukae Maru memiliki peralatan observasi terbaru untuk survei Kikai Kaldera. Kapal itu bagian dari peralatan milik Kobe University Graduate School of Maritime Sciences. Selama tiga eksplorasi, KOBEC melakukan survei geologi bawah laut secara rinci, refleksi seismik, observasi dengan robot bawah air, pengambilan sampel dan analisis batu-batuan, serta observasi menggunakan seismograf bawah air dan elektromagnetometer.

Dalam survei pada Maret mendatang, para peneliti berencana menggunakan refleksi seismik dan robot bawah laut untuk memperjelas proses pembentukan kaldera yang terungkap dalam survei sebelumnya. Peneliti juga ingin mengungkap mekanisme yang menyebabkan letusan kaldera raksasa.

Mereka akan menggunakan metode seismik dan elektromagnetik untuk menentukan keberadaan pertumbuhan magma raksasa. Mereka juga bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology untuk melakukan survei bawah tanah skala besar untuk menangkap visualisasi resolusi tinggi sistem magma dalam kerak bumi. Berdasarkan hasil survei tersebut, tim berencana melanjutkan pemantauan dan ingin menjadi pionir dalam metode memprediksi letusan penghasil kaldera raksasa.
(amm)
Berita Terkait
Sumpit Ajaib Jepang...
Sumpit Ajaib Jepang Bisa Ciptakan Rasa Asin di Hidangan Tanpa Garam
Piramida Yonaguni Jepang...
Piramida Yonaguni Jepang hingga Kini Tak Bisa Dijelaskan Sains
Jepang Hadapi Krisis...
Jepang Hadapi Krisis Demensia, Bisakah Teknologi Jadi Penyelamat?
Bunga Berkontur Seperti...
Bunga Berkontur Seperti Kaca, Spesies Baru Anggrek Ditemukan
Jepang Usulkan Penggunaan...
Jepang Usulkan Penggunaan Buku Teks Digital mulai Tahun 2030
Ungkap Rahasia Umur...
Ungkap Rahasia Umur Panjang Orang Jepang, Ilmuwan Ingin Buat Pil Abadi
Berita Terkini
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
20 menit yang lalu
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
4 jam yang lalu
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
5 jam yang lalu
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
5 jam yang lalu
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
6 jam yang lalu
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
8 jam yang lalu
Infografis
Gunung Berapi Bawah...
Gunung Berapi Bawah Laut Jadi Ancaman AS setelah Kebakaran Hutan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved