Trump Akhirnya Ketir-ketir dengan Rudal Nuklir Korut
Kamis, 01 Februari 2018 - 09:43 WIB
Trump Akhirnya Ketir-ketir dengan Rudal Nuklir Korut
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump menyampaikan peringatan mengerikan tentang ambisi nuklir Korea Utara (Korut) dalam State of the Union address (pidato kenegaraannya). Menurutnya, AS segera terancam oleh senjata nuklir yang “dikejar” Korut secara sembrono.
”Pengejaran rudal nuklir Korea Utara dengan sembrono bisa segera mengancam tanah air kita,” kata Trump. Ini baru pertama kalinya, Trump mengungkapkan rasa ketir-ketirnya akan senjata nuklir Pyongyang setelah sebelumnya menyombongkan diri bahwa senjata nuklirnya lebih unggul.
Presiden Trump mengatakan AS bertekad untuk menerapkan tekanan maksimum untuk mencegah serangan nuklir Pyongyang terhadap Washington terjadi.
”Pengalaman masa lalu telah mengajarkan kepada kita bahwa rasa puas diri dan konsesi hanya mengundang agresi dan provokasi,” kata Trump dalam pidato Selasa malam waktu setempat.
”Saya tidak akan mengulangi kesalahan administrasi masa lalu yang membawa kita ke posisi yang sangat berbahaya ini,” ujarnya, yang dikutip CNBC, Kamis (1/2/2018).
Tahun lalu, Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un meluncurkan uji coba tiga rudal balistik antarbenua. Tiga rudal itu termasuk peluncuran rudal Hwasong-15 pada akhir November yang menimbulkan kekhawatiran di komunitas pertahanan AS.
Pentagon khawatir dengan rudal Hwasong-15 karena merupakan rudal baru dan terkuat dari rezim Kim Jong-un yang dapat melesat lebih dari 8.000 mil dan menjangkau kota-kota besar di pantai timur AS.
Peringatan Trump soal bahaya senjata nuklir Korut itu muncul setelah Direktur CIA Michael Pompeo pada Senin lalu memprediksi bahwa Pyongyang dapat mengirimkan rudal balistik antarbenua (ICBM) berhulu ledak nuklir ke daratan utama AS dalam beberapa bulan ke depan.
Para pakar pertahanan AS menyatakan bahwa Pyongyang memiliki teknologi untuk memiliki rudal balistik jarak jauh yang bertahan dalam fase masuk kembali dari angkasa ke atmosfer Bumi. Mereka juga memprediksi Korea Utara akan kembali menguji coba rudalnya meski baru dua bulan libur.
Pidato Trump itu dilaporkan menjadi sinyal bahwa AS tidak lagi berencana untuk menunjuk ilmuwan Korea, Victor D. Cha, sebagai duta besarnya untuk Korea Selatan.
Cha baru-baru ini menentang opsi ”strike preventif” dalam sebuah artikel di New York Times. Cha adalah mantan pejabat pemerintahan Presiden George W. Bush yang pernah ditugaskan ke Seoul.
Trump dalam pidatonya menyinggung Korea Utara atas penganiayaannya terhadap Otto Warmbier, 22, mahasiwa AS yang meninggal Juni lalu tak lama setelah dikembalikan dari Korea Utara dalam keadaan koma. Pada tahun 2016, Warmbier mengaku mencoba mencuri spanduk propaganda di Korea Utara dan dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa di kamp tahanan negara komunis tersebut.
”Kita hanya perlu melihat karakter buruk rezim Korea Utara untuk memahami sifat ancaman nuklir yang bisa diajukannya ke Amerika dan sekutu kita,” kata Trump.
Trump kemudian memperkenalkan keluarga Warmbier, termasuk orang tua dan saudara kandungnya, yang diundang sebagai tamu untuk menghadiri pidato kenegaraan. Mereka mendapat tepuk tangan meriah dan standing ovations.
”Anda adalah saksi kuat untuk ancaman yang mengancam dunia kita, dan kekuatan Anda benar-benar mengilhami kita semua,” kata presiden setelah mengenalkan keluarga tersebut. ”Malam ini, kami berjanji untuk menghormati ingatan Otto dengan tekad total Amerika.”
Selanjutnya, Trump memperkenalkan Ji Seong-ho, seorang pembelot Korea Utara yang melarikan diri dari rezim yang terisolasi pada tahun 1996 sebagai anak laki-laki yang kelaparan. Presiden mengatakan Seong-ho, yang sekarang menjadi aktivis yang tinggal di Seoul, adalah saksi tentang sifat tidak menyenangkan dari rezim Korut.
Menurut Trump, Seong-ho kehilangan anggota badan dalam sebuah kecelakaan dan disiksa oleh pemerintah Korea Utara. Dia kemudian melakukan perjalanan ribuan mil dengan kruk ke China dan Asia Tenggara untuk mendapatkan kebebasan.
Sebagian besar keluarganya mengikuti jejak Seong-ho. Ayahnya tertangkap saat sedang berusaha melarikan diri, dan disiksa sampai meninggal. Seong-ho mengangkat kruk kayu untuk bersorak sorai dan bertepuk tangan Trump menyampaikan pidato kenegaraan.
”Pengejaran rudal nuklir Korea Utara dengan sembrono bisa segera mengancam tanah air kita,” kata Trump. Ini baru pertama kalinya, Trump mengungkapkan rasa ketir-ketirnya akan senjata nuklir Pyongyang setelah sebelumnya menyombongkan diri bahwa senjata nuklirnya lebih unggul.
Presiden Trump mengatakan AS bertekad untuk menerapkan tekanan maksimum untuk mencegah serangan nuklir Pyongyang terhadap Washington terjadi.
”Pengalaman masa lalu telah mengajarkan kepada kita bahwa rasa puas diri dan konsesi hanya mengundang agresi dan provokasi,” kata Trump dalam pidato Selasa malam waktu setempat.
”Saya tidak akan mengulangi kesalahan administrasi masa lalu yang membawa kita ke posisi yang sangat berbahaya ini,” ujarnya, yang dikutip CNBC, Kamis (1/2/2018).
Tahun lalu, Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un meluncurkan uji coba tiga rudal balistik antarbenua. Tiga rudal itu termasuk peluncuran rudal Hwasong-15 pada akhir November yang menimbulkan kekhawatiran di komunitas pertahanan AS.
Pentagon khawatir dengan rudal Hwasong-15 karena merupakan rudal baru dan terkuat dari rezim Kim Jong-un yang dapat melesat lebih dari 8.000 mil dan menjangkau kota-kota besar di pantai timur AS.
Peringatan Trump soal bahaya senjata nuklir Korut itu muncul setelah Direktur CIA Michael Pompeo pada Senin lalu memprediksi bahwa Pyongyang dapat mengirimkan rudal balistik antarbenua (ICBM) berhulu ledak nuklir ke daratan utama AS dalam beberapa bulan ke depan.
Para pakar pertahanan AS menyatakan bahwa Pyongyang memiliki teknologi untuk memiliki rudal balistik jarak jauh yang bertahan dalam fase masuk kembali dari angkasa ke atmosfer Bumi. Mereka juga memprediksi Korea Utara akan kembali menguji coba rudalnya meski baru dua bulan libur.
Pidato Trump itu dilaporkan menjadi sinyal bahwa AS tidak lagi berencana untuk menunjuk ilmuwan Korea, Victor D. Cha, sebagai duta besarnya untuk Korea Selatan.
Cha baru-baru ini menentang opsi ”strike preventif” dalam sebuah artikel di New York Times. Cha adalah mantan pejabat pemerintahan Presiden George W. Bush yang pernah ditugaskan ke Seoul.
Trump dalam pidatonya menyinggung Korea Utara atas penganiayaannya terhadap Otto Warmbier, 22, mahasiwa AS yang meninggal Juni lalu tak lama setelah dikembalikan dari Korea Utara dalam keadaan koma. Pada tahun 2016, Warmbier mengaku mencoba mencuri spanduk propaganda di Korea Utara dan dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa di kamp tahanan negara komunis tersebut.
”Kita hanya perlu melihat karakter buruk rezim Korea Utara untuk memahami sifat ancaman nuklir yang bisa diajukannya ke Amerika dan sekutu kita,” kata Trump.
Trump kemudian memperkenalkan keluarga Warmbier, termasuk orang tua dan saudara kandungnya, yang diundang sebagai tamu untuk menghadiri pidato kenegaraan. Mereka mendapat tepuk tangan meriah dan standing ovations.
”Anda adalah saksi kuat untuk ancaman yang mengancam dunia kita, dan kekuatan Anda benar-benar mengilhami kita semua,” kata presiden setelah mengenalkan keluarga tersebut. ”Malam ini, kami berjanji untuk menghormati ingatan Otto dengan tekad total Amerika.”
Selanjutnya, Trump memperkenalkan Ji Seong-ho, seorang pembelot Korea Utara yang melarikan diri dari rezim yang terisolasi pada tahun 1996 sebagai anak laki-laki yang kelaparan. Presiden mengatakan Seong-ho, yang sekarang menjadi aktivis yang tinggal di Seoul, adalah saksi tentang sifat tidak menyenangkan dari rezim Korut.
Menurut Trump, Seong-ho kehilangan anggota badan dalam sebuah kecelakaan dan disiksa oleh pemerintah Korea Utara. Dia kemudian melakukan perjalanan ribuan mil dengan kruk ke China dan Asia Tenggara untuk mendapatkan kebebasan.
Sebagian besar keluarganya mengikuti jejak Seong-ho. Ayahnya tertangkap saat sedang berusaha melarikan diri, dan disiksa sampai meninggal. Seong-ho mengangkat kruk kayu untuk bersorak sorai dan bertepuk tangan Trump menyampaikan pidato kenegaraan.
(mas)