Presiden Korsel Ungkap Andil Trump dalam Perundingan dengan Korut
Rabu, 10 Januari 2018 - 13:17 WIB
Presiden Korsel Ungkap Andil Trump dalam Perundingan dengan Korut
A
A
A
SEOUL - Presiden Korea Selatan (Korsel) Mon Jae-in memuji Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, atas peran besarnya dalam perundingan dengan Korea Utara (Korut). Jae-in menyebut Trump telah memainkan peran "besar" dalam memfasilitasi perundingan antara Korsel dan Korut.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump," kata Moon, seperti dikutip dari ABC News, Rabu (10/1/2018).
Pejabat tingkat tinggi dari Korut dan Korsel sepakat dalam perundingan hampir 12 jam pada hari Selasa untuk mengirim delegasi pejabat, atlet, dan pemandu sorak Pyongyang ke Olimpiade Musim Dingin pada 9 Februari mendatang.
Kedua negara itu juga membuat kesepakatan untuk mengadakan pembicaraan militer di masa depan untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea sambil menyetujui "menyelesaikan masalah nasional" melalui dialog antara kedua Korea.
Ketika ditanya oleh ABC News apa yang akan terjadi jika dia harus memihak antara sekutu terkuat negaranya, AS, dan "negara saudara" Korut, Moon mengatakan bahwa tidak ada perselisihan antara AS dan Korsel.
"Tujuan utamanya adalah untuk menemukan solusi diplomatik bersama dan memikat mereka (Korut) untuk melakukan pembicaraan melalui sanksi dan tekanan internasional yang kuat," kata Moon.
Presiden Korsel mengatakan bahwa negaranya dan AS merasa terancam oleh negara nuklir Korut. "Tanpa dorongan kuat pada sanksi internasional yang dipimpin oleh AS, (pembicaraan tingkat tinggi kemarin) tidak mungkin terjadi."
Moon juga meyakinkan bahwa denuklirisasi Semenanjung Korea adalah tujuan yang tidak pernah bisa dihentikan dan dia terbuka untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un untuk menyelesaikan kebuntuan nuklir.
"Tapi untuk mengadakan pertemuan puncak, beberapa syarat harus ditetapkan. Saya pikir tingkat keberhasilan tertentu harus dijamin," kata Moon.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump," kata Moon, seperti dikutip dari ABC News, Rabu (10/1/2018).
Pejabat tingkat tinggi dari Korut dan Korsel sepakat dalam perundingan hampir 12 jam pada hari Selasa untuk mengirim delegasi pejabat, atlet, dan pemandu sorak Pyongyang ke Olimpiade Musim Dingin pada 9 Februari mendatang.
Kedua negara itu juga membuat kesepakatan untuk mengadakan pembicaraan militer di masa depan untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea sambil menyetujui "menyelesaikan masalah nasional" melalui dialog antara kedua Korea.
Ketika ditanya oleh ABC News apa yang akan terjadi jika dia harus memihak antara sekutu terkuat negaranya, AS, dan "negara saudara" Korut, Moon mengatakan bahwa tidak ada perselisihan antara AS dan Korsel.
"Tujuan utamanya adalah untuk menemukan solusi diplomatik bersama dan memikat mereka (Korut) untuk melakukan pembicaraan melalui sanksi dan tekanan internasional yang kuat," kata Moon.
Presiden Korsel mengatakan bahwa negaranya dan AS merasa terancam oleh negara nuklir Korut. "Tanpa dorongan kuat pada sanksi internasional yang dipimpin oleh AS, (pembicaraan tingkat tinggi kemarin) tidak mungkin terjadi."
Moon juga meyakinkan bahwa denuklirisasi Semenanjung Korea adalah tujuan yang tidak pernah bisa dihentikan dan dia terbuka untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un untuk menyelesaikan kebuntuan nuklir.
"Tapi untuk mengadakan pertemuan puncak, beberapa syarat harus ditetapkan. Saya pikir tingkat keberhasilan tertentu harus dijamin," kata Moon.
(ian)