Myanmar Tak Bisa Jamin Keamanan, Menlu RI Batal Sambangi Rakhine
Senin, 20 November 2017 - 15:55 WIB
Myanmar Tak Bisa Jamin Keamanan, Menlu RI Batal Sambangi Rakhine
A
A
A
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dipastikan batal untuk melakukan kunjungan ke Rakhine State, Myanmar. Semula, kemarin Retno dijadwalkan menyambangi Rakhine untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Indonesia.
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Senin (20/11), batalnya Retno mengunjungi Rakhine dikarenakan pemerintah Myanmar tidak bisa memberikan jaminan keamanan selama Retno berada di sana. Retno kemudian diwakili oleh Duta Besar Indonesia di Myanmar, Ito Sumardi untuk melakukan peletakan batu pertama Rumah Sakit Indonesia di Rakhine.
"Acara groundbreaking dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar, Ito Sumardi, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia. Juga hadir Menteri urusan Rakhine State Myanmar, perwakilan kementerian kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, perwakilan tokoh masyarakat setempat, tokoh masyarakat agama Budha dan Islam, serta dihadiri ratusan warga setempat," kata Kemlu RI.
"Mengingat acara groundbreaking berada di wilayah utara Rakhine State yang masih di pandang rawan, atas permintaan Pemerintah Myanmar di saat akhir, Menlu RI yang awalnya dijadwalkan hadir pada acara groundbreaking tersebut, akhirnya batal hadir. Hal ini karena Pemerintah Myanmar tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi Pemerintah setingkat Menteri, mengingat pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan untuk mengamankan KTM ASEM di Naypyidaw yang dihadiri oleh sekitar 53 pejabat Menteri dan setingkat Menteri dari Eropa dan Asia," sambungnya.
Rumah Sakit ini sendiri adalah wujud kontribusi Masyarakat Indonesia untuk Masyarakat di Rakhine State. Rumah Sakit Indonesia akan menyediakan pelayanan kesehatan untuk seluruh komunitas di Myaung Bwe secara inklusif, tidak memandang suku, agama dan latar belakang.
Rumah sakit Indonesia didirikan di lahan seluas 12 ribu meter persegi dengan luas total bangunan 8.000 meter persegi, termasuk akomodasi staf kesehatan dan gedung utama rumah sakit. Rumah sakit tersebut dibangun dengan biaya sekitar USD 1,8 juta, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan sejumlah organisasi, termasuk Palang Merah Indonesia, berbagai LSM, dan sektor swasta.
Peletakan batu pertama ini menandakan dimulainya pembangunan tahap kedua untuk pembangunan akomodasi staf medis dan tahap ketiga untuk pembangunan gedung utama. Tahap pertama pembangunan untuk pemetaan dan konstruksi pagar sebelumnya telah selesai sejak bulan September 2017. Diharapkan Rumah Sakit ini akan rampung pada pertengahan 2018.
Rumah sakit Indonesia ini dibangun dengan menggunakan sumber daya materiil dan tenaga kerja setempat sebagai bentuk konkrit Indonesia untuk membantu meningkatkan peluang ekonomi masyarakat lokal selain menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap rumah sakit tersebut.
Bantuan Rumah sakit Indonesia ini merupakan bagian dari komitmen dan solidaritas pemerintah dan masyarakat Indonesia bagi Myanmar dan Masyarakat Rakhine State. Sebelumnya, Indonesia juga telah menyampaikan bantuan USD 1 juta untuk pembangunan empat sekolah pada tahun 2014, 10 kontainer bantuan kebutuhan dasar pada Desember 2016 dan pembangunan dua sekolah di Sittwe yang telah diresmikan Retno pada Januari 2017.
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Senin (20/11), batalnya Retno mengunjungi Rakhine dikarenakan pemerintah Myanmar tidak bisa memberikan jaminan keamanan selama Retno berada di sana. Retno kemudian diwakili oleh Duta Besar Indonesia di Myanmar, Ito Sumardi untuk melakukan peletakan batu pertama Rumah Sakit Indonesia di Rakhine.
"Acara groundbreaking dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar, Ito Sumardi, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia. Juga hadir Menteri urusan Rakhine State Myanmar, perwakilan kementerian kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, perwakilan tokoh masyarakat setempat, tokoh masyarakat agama Budha dan Islam, serta dihadiri ratusan warga setempat," kata Kemlu RI.
"Mengingat acara groundbreaking berada di wilayah utara Rakhine State yang masih di pandang rawan, atas permintaan Pemerintah Myanmar di saat akhir, Menlu RI yang awalnya dijadwalkan hadir pada acara groundbreaking tersebut, akhirnya batal hadir. Hal ini karena Pemerintah Myanmar tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi Pemerintah setingkat Menteri, mengingat pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan untuk mengamankan KTM ASEM di Naypyidaw yang dihadiri oleh sekitar 53 pejabat Menteri dan setingkat Menteri dari Eropa dan Asia," sambungnya.
Rumah Sakit ini sendiri adalah wujud kontribusi Masyarakat Indonesia untuk Masyarakat di Rakhine State. Rumah Sakit Indonesia akan menyediakan pelayanan kesehatan untuk seluruh komunitas di Myaung Bwe secara inklusif, tidak memandang suku, agama dan latar belakang.
Rumah sakit Indonesia didirikan di lahan seluas 12 ribu meter persegi dengan luas total bangunan 8.000 meter persegi, termasuk akomodasi staf kesehatan dan gedung utama rumah sakit. Rumah sakit tersebut dibangun dengan biaya sekitar USD 1,8 juta, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan sejumlah organisasi, termasuk Palang Merah Indonesia, berbagai LSM, dan sektor swasta.
Peletakan batu pertama ini menandakan dimulainya pembangunan tahap kedua untuk pembangunan akomodasi staf medis dan tahap ketiga untuk pembangunan gedung utama. Tahap pertama pembangunan untuk pemetaan dan konstruksi pagar sebelumnya telah selesai sejak bulan September 2017. Diharapkan Rumah Sakit ini akan rampung pada pertengahan 2018.
Rumah sakit Indonesia ini dibangun dengan menggunakan sumber daya materiil dan tenaga kerja setempat sebagai bentuk konkrit Indonesia untuk membantu meningkatkan peluang ekonomi masyarakat lokal selain menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap rumah sakit tersebut.
Bantuan Rumah sakit Indonesia ini merupakan bagian dari komitmen dan solidaritas pemerintah dan masyarakat Indonesia bagi Myanmar dan Masyarakat Rakhine State. Sebelumnya, Indonesia juga telah menyampaikan bantuan USD 1 juta untuk pembangunan empat sekolah pada tahun 2014, 10 kontainer bantuan kebutuhan dasar pada Desember 2016 dan pembangunan dua sekolah di Sittwe yang telah diresmikan Retno pada Januari 2017.
(esn)