Dicap Tiru Duterte, Perintah Jokowi Tembak Tersangka Narkoba Dikritik HRW

Senin, 24 Juli 2017 - 17:49 WIB
Dicap Tiru Duterte,...
Dicap Tiru Duterte, Perintah Jokowi Tembak Tersangka Narkoba Dikritik HRW
A A A
JAKARTA - Perintah Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) kepada polisi untuk menembak tersangka narkoba yang melawan mulai disorot media asing dan kelompok HAM. Perintah Jokowi dianggap meniru perang melawan narkoba yang dikobarkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Perintah Jokowi itu muncul dalam pidato sambutan di acara Rakernas PPP di Ancol, Jakarta, Jumat pekan lalu. Instruksi presiden itu keluar setelah polisi berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis sabu dari Taiwan seberat 1 ton.

“Sudah, tegaskan saja, terutama pengedar narkoba asing yang masuk, kemudian sedikit melawan, sudah langsung tembak saja,” kata Jokowi.

”Jangan diberi ampun. Karena betul-betul berada di posisi darurat narkoba.”

Sejumlah media asing menilai perintah Jokowi itu meniru perang narkoba ala Duterte di Filipina. Salah satunya media Austalia, news.com. au, dalam laporannya Senin (24/7/2017) yang mengusung judul “Now Indonesia wants to copy Rodrigo Duterte’s drug dealer killings”.

Presiden Duterte yang dijuluki “The Punisher” atau “Penghukum” telah bersumpah untuk membunuh 100.000 penjahat, termasuk penjahat narkoba dalam waktu setahun sejak dia berkuasa.

Perang melawan narkoba yang dikobarkan Duterte telah menewaskan sekitar 7.000 orang, baik bandar narkoba maupun pecandu.

Pada tahun lalu Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso juga meminta polisi untuk meniru "perang melawan narkoba" di Filipina.

Wakil Direktur Human Right Watch (HRW) Divisi Asia Phelim Kine mengatakan bahwa perang melawan narkoba oleh Duterte bukan tentang ”hukuman mati”. Menurutnya, yang terjadi adalah sebaliknya, yakni kampanye pembunuhan yang dipimpin Kepala Polisi Nasional Filipina.

Kine mengatakan, Duterte telah memuliakan kematian sebagai bukti "keberhasilan" tindakannya dalam memberantas narkoba. Dia lantas meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BNN Komjen Budi Waseso untuk mencela langkah Duterte.

”Baik Karnavian maupun Waseso harus mencela perang melawan obat-obatan terlarang di Filipina, untuk apa yang terjadi sebenarnya; serangan brutal dan melanggar hukum terhadap peraturan undang-undang, hak asasi manusia, dan kesusilaan dasar yang telah menargetkan beberapa warga negara termiskin dan paling terpinggirkan,” kata Kine.
(mas)
Berita Terkait
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
3 Alasan Timnas Indonesia...
3 Alasan Timnas Indonesia Tidak Boleh Kalah di Pertandingan Filipina vs Indonesia
Kemlu Selidiki Dua WNI...
Kemlu Selidiki Dua WNI Jadi Buron Kasus Terorisme di Filipina
Jelang Timnas Indonesia...
Jelang Timnas Indonesia vs Filipina, Bung Kus Sebut Moral Pemain Sudah Oke!
3 Pemain Filipina yang...
3 Pemain Filipina yang Wajib Diwaspadai Timnas Indonesia
Michael Weiss Beberkan...
Michael Weiss Beberkan 2 Keuntungan Filipina Kalahkan Timnas Indonesia
Berita Terkini
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
4 menit yang lalu
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
29 menit yang lalu
Trump: 49 Rudal Tomahawk...
Trump: 49 Rudal Tomahawk Gempur Iran, AS Akan Bombardir Habis-habisan
57 menit yang lalu
Iran Balas Bombardir...
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
1 jam yang lalu
Sistem Rudal Iran Tembaki...
Sistem Rudal Iran Tembaki Jet Tempur F-16 AS
2 jam yang lalu
AS Menyerang Lagi, Iran...
AS Menyerang Lagi, Iran Tutup Total Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Infografis
9 Poin Penegasan Rektor...
9 Poin Penegasan Rektor UGM terkait Ijazah Jokowi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved