Pembelot 'Tujuh Nama' Puji Trump Musuhi Rezim Korea Utara

Kamis, 04 Mei 2017 - 07:12 WIB
Pembelot Tujuh Nama...
Pembelot 'Tujuh Nama' Puji Trump Musuhi Rezim Korea Utara
A A A
LONDON - Hyeonseo Lee, 37, adalah salah satu pembelot yang paling terkenal dari Korea Utara (Korut). Pembelot yang memiliki tujuh nama selama melarikan diri ini mendukung sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memusuhi rezim Pyongyang pimpinan Kim Jong-un.

Dia punya alasan khusus mengapa pemerintah Kim Jong-un layak dimusuhi. ”Rezim Korea Utara benar-benar dapat mengendalikan orang,” katanya kepada Fox News. ”Saya pikir mereka adalah diktator terbaik di seluruh planet ini,” katanya lagi.

Ketika melarikan diri dari negaranya pada tahun 1997, Hyeonseo masih remaja. Dia sempat menjalani kehidupan yang sulit selama bertahun-tahun di China sebelum akhirnya berhasil masuk ke Korea Selatan dan kini tinggal di Inggris.

Pembelot ini pernah menuliskan kisah pelariannya dalam bukunya yang berjudul; "The Girl with 7 Names". Judul buku ini mengacu pada triknya yang menggunakan tujuh nama secara berganti-ganti untuk menghidari penangkapan mata-mata Pyongyang di luar negeri.

Buku Hyeonseo Lee tercatat sebagai salah satu buku terlaris di dunia. Dia juga mahir pidato, di mana pidatonya “Ted Talk” telah dilihat secara online hingga sekitar 13 juta kali.

Menurutnya, perbudakan di Korea Utara sudah terjadi sejak kakek Kim Jong-un berkuasa. Dia menyaksikan eksekusi, indoktrinasi dan kelaparan pada tahun 1990-an, yang membuat sekitar satu juta orang tewas.

”Karena begitu banyak mayat, pekerjaan sebagian orang adalah menyingkirkan mayat dengan gerobak,” kenang dia.

Dia juga diajari tentang musuh nomor satu di dunia, yakni Amerika Serikat. ”Kami tidak memiliki kata lain selain 'Amerika',” katanya. ”Hanya ada satu kata: 'American-Bastard’.”

Ketika pertama kali mendengar pidato Presiden Donald Trump yang begitu keras memusuhi Korea Utara, Hyeonseo menangis.

”Tidak ada presiden yang mengucapkan kata-kata itu sampai hari ini,” ujarnya. ”Meski kami sudah menderita selama tujuh dekade,” imbuh dia.

Dia mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un adalah musuh yang berbahaya, karena memiliki nuklir dan rudal.

Menurutnya, kasus pembunuhan Kim Jong-nam—kakak tiri Kim Jong-un—di Malaysia, adalah peringatan bahwa rezim Pyongyang tak segan-segan bertindak pada setiap orang yang melawannya.

Meski begitu, dia berpegang pada mimpi bahwa suatu hari rezim Korea Utara akan runtuh dan dia bisa kembali ke negaranya. ”Saya sangat percaya," katanya sambil tersenyum, yang dilansir Kamis (4/5/2017).
(mas)
Berita Terkait
Korut Ancam Akhiri Amerika...
Korut Ancam Akhiri Amerika Serikat dengan Senjata Nuklir
Amerika Serikat Prediksi...
Amerika Serikat Prediksi Korea Utara Siap Tes Nuklir Bulan Ini
Korea Utara Gelar Latihan...
Korea Utara Gelar Latihan Serangan Nuklir Taktis
Korea Utara Sebut Perang...
Korea Utara Sebut Perang Nuklir Sudah Dekat
Amerika Serikat Unjuk...
Amerika Serikat Unjuk Kekuatan Nuklir di Tengah Ketegangan Dunia
Digertak 2 Pesawat Pengebom...
Digertak 2 Pesawat Pengebom B-1 Amerika Serikat, Begini Respons Korea Utara
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
5 jam yang lalu
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
6 jam yang lalu
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
8 jam yang lalu
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
9 jam yang lalu
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
10 jam yang lalu
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
11 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved