Rusia dan Iran Dituding Kerap Salahgunakan Interpol
Kamis, 27 April 2017 - 18:02 WIB
Rusia dan Iran Dituding Kerap Salahgunakan Interpol
A
A
A
BRUSSELS - Parlemen Eropa menyatakan Rusia dan Iran adalah negara-negara yang kerap menyalahgunakan pemberitahuan darurat Interpol. Kedua negara itu, lanjut Parlemen Eropa, menggunakan pemberitahuan darurat Interpol untuk menangkap lawan politik mereka.
Dalam sebuah resolusi, Parlemen Eropa menyatakan, penerbitan pemberitahuan darurat untuk menginformasikan kepada 190 anggota Interpol mengenai penangkapan seseorang yang dicari, dan orang tersebut dideportasi ke negara asal mereka, untuk tujuan politik adalah hal yang sangat menyedihkan.
"Interpol dan sistem pemberitahuan daruratnya telah disalahgunakan oleh beberapa negara anggota untuk tujuan politik dalam beberapa tahun terakhir, untuk menekan kebebasan berekspresi atau menganiaya lawan politik di luar negeri," bunyi resolusi Parlemen Eropa, seperti dilansir Al Arabiya pada Kamis (27/4).
Parlemen Eropa mencontohkan kasus Mukhtar Ablyazov, mantan Menteri Energi Kazakhstan, yang dituduh menggelapkan miliaran dolar dari bank BTA, yang pernah menjadi pemberi pinjaman terkemuka di republik otoriter tersebut.
Ablyazov, yang juga mantan bankir, telah menghabiskan lebih dari tiga tahun dalam tahanan setelah ditangkap oleh pihak berwenang Prancis di wilayah Cote d'Azur pada tahun 2013 karena pemberitahuan darurat yang dikeluarkan oleh Rusia. Dia juga dicari oleh Kazakhstan dimana persidangannya dimulai bulan lalu.
Dalam resolusinya, Parlemen Eropa kemudian menyambut baik berita Interpol mengadopsi langkah-langkah untuk memperbaiki alasan sebuah negara yang meminta pemberitahuan darurat. Namun, mereka juga berpendapat dinas kepolisian internasional harus berbuat lebih banyak, termasuk melakukan pendekatan yang lebih kuat untuk membantu bagi orang yang terkena dampak pemberitahuan darurat.
Dalam sebuah resolusi, Parlemen Eropa menyatakan, penerbitan pemberitahuan darurat untuk menginformasikan kepada 190 anggota Interpol mengenai penangkapan seseorang yang dicari, dan orang tersebut dideportasi ke negara asal mereka, untuk tujuan politik adalah hal yang sangat menyedihkan.
"Interpol dan sistem pemberitahuan daruratnya telah disalahgunakan oleh beberapa negara anggota untuk tujuan politik dalam beberapa tahun terakhir, untuk menekan kebebasan berekspresi atau menganiaya lawan politik di luar negeri," bunyi resolusi Parlemen Eropa, seperti dilansir Al Arabiya pada Kamis (27/4).
Parlemen Eropa mencontohkan kasus Mukhtar Ablyazov, mantan Menteri Energi Kazakhstan, yang dituduh menggelapkan miliaran dolar dari bank BTA, yang pernah menjadi pemberi pinjaman terkemuka di republik otoriter tersebut.
Ablyazov, yang juga mantan bankir, telah menghabiskan lebih dari tiga tahun dalam tahanan setelah ditangkap oleh pihak berwenang Prancis di wilayah Cote d'Azur pada tahun 2013 karena pemberitahuan darurat yang dikeluarkan oleh Rusia. Dia juga dicari oleh Kazakhstan dimana persidangannya dimulai bulan lalu.
Dalam resolusinya, Parlemen Eropa kemudian menyambut baik berita Interpol mengadopsi langkah-langkah untuk memperbaiki alasan sebuah negara yang meminta pemberitahuan darurat. Namun, mereka juga berpendapat dinas kepolisian internasional harus berbuat lebih banyak, termasuk melakukan pendekatan yang lebih kuat untuk membantu bagi orang yang terkena dampak pemberitahuan darurat.
(esn)