Jadi Negara Nuklir, Korut Ibarat 'Pil Racun' bagi AS

Senin, 17 April 2017 - 16:53 WIB
Jadi Negara Nuklir,...
Jadi Negara Nuklir, Korut Ibarat 'Pil Racun' bagi AS
A A A
SYDNEY - Senjata nuklir ternyata sudah seperti “ideologi” bagi Korea Utara (Korut) karena telah diabadikan dalam konsitusi yang ditetapkan pada tahun 2012. Senjata mengerikan itu kini membuat Korut ibarat “pil racun” bagi Amerika Serikat (AS) jika berani mengusik rezim Kim Jong-un yang berkuasa di Pyongyang.

Perumpamaan itu disampaikan Brad Glosserman, direktur eksekutif dari Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di AS dalam wawancaranya dengan news.com.au. Pakar itu memahami mengapa senjata nuklir begitu penting bagi Korut meski rakyatnya di ambang kelaparan.

Menurutnya, mantan pemimpin Korut, Kim Jong-il, telah merevisi konstitusi dengan menyatakan perubahan negara itu menjadi negara nuklir. ”Diganti menjadi negara terkalahkan dengan ideologi politik yang kuat, (dengan) kekuatan nuklir dan kekuatan militer tak terkalahkan,” kata Glosseman.

Glosserman mengatakan ambisi nuklir Korut saat ini sudah menjadi “pil racun” bagi negara-negara lain, terutama AS. Alasannya, Washington akan berpikir dengan reaksi pembalasan dengan senjata nuklir jika berani menyerang rezim Pyongyang.

”Korut percaya bahwa mereka membutuhkannya, saya pikir keliru. Itu sebagai cara untuk menciptakan keamanan yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk mempengaruhi keamanan kawasan,” ujar Glosserman yang dilansir Senin (17/4/2017).

Alasan lain mengapa Korut menginginkan senjata itu adalah untuk menjaga superioritas kawasan dengan rivalnya, Korea Selatan.

”Kemampuan senjata nuklir adalah satu-satunya hal yang membedakan Korut dari Korea Selatan, dan kompetisi antar-Korea yang mendalam. Ini adalah satu-satunya di mana Korut unggul di atas, sehingga mereka harus menyimpan senjata-senjatanya,” lanjut Glosserman.

Ketegangan di Semenajung Korea telah mencapai titik didih setelah rentetan uji coba senjata nuklir dan rudal balistik Korut sehingga memicu AS untuk mengirim armada kapal induk USS Carl Vinson ke perairan Korea.

Para ahli percaya bahwa Korut mampu mengembangkan rudal jarak jauh—dengan bom nuklir di ujungnya—yang bisa mencapai daratan AS dalam waktu empat tahun. ”Itu adalah momen ‘neraka’ yang menakutkan,” ujar Profesor John Blaxland dari Pusat Studi Pertahanan dan Strategis Universitas Nasional Australia kepada news.com.au.

Menurutnya, nuklir yang dipasang di rudal balistik Korut bisa mengancam AS dan Australia. Bahkan, menurutnya, Pyongyang butuh waktu dua tahun untuk mengembangkan rudal yang bisa mencapai daratan Australia.

”Jadi, kita menunggu?,” Kata Prof Blaxland. ”Atau apakah kita bertindak untuk itu? Untuk masuk sebelum (Korut) mencapai keadaan seperti itu? Itulah perdebatan,” ujarnya.
(mas)
Berita Terkait
Korut Ancam Akhiri Amerika...
Korut Ancam Akhiri Amerika Serikat dengan Senjata Nuklir
Amerika Serikat Prediksi...
Amerika Serikat Prediksi Korea Utara Siap Tes Nuklir Bulan Ini
Korea Utara Gelar Latihan...
Korea Utara Gelar Latihan Serangan Nuklir Taktis
Korea Utara Sebut Perang...
Korea Utara Sebut Perang Nuklir Sudah Dekat
Amerika Serikat Unjuk...
Amerika Serikat Unjuk Kekuatan Nuklir di Tengah Ketegangan Dunia
Digertak 2 Pesawat Pengebom...
Digertak 2 Pesawat Pengebom B-1 Amerika Serikat, Begini Respons Korea Utara
Berita Terkini
Eks Jubir Rumah Sakit...
Eks Jubir Rumah Sakit Israel: Dokter Zionis Selamatkan Nyawa Erdogan atas Permintaan Mossad
28 menit yang lalu
Aneh tapi Nyata, Gunung...
Aneh tapi Nyata, Gunung Berapi Ini Muntahkan Emas Setiap Hari
1 jam yang lalu
Topan Bavi Terjang China,...
Topan Bavi Terjang China, Paksa Hampir 2 Juta Orang Mengungsi
2 jam yang lalu
Horor! Jendela Pesawat...
Horor! Jendela Pesawat Terlepas di Tengah Penerbangan, Seorang Penumpang Nyaris Tersedot Keluar
2 jam yang lalu
AS Serang Iran Lagi...
AS Serang Iran Lagi untuk Ketiga Kalinya
3 jam yang lalu
Iran Tutup Selat Hormuz...
Iran Tutup Selat Hormuz usai Serang Kapal Tak Berizin
3 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved