Jadikan Trump Target, Buronan Perampok Senjata Dihargai Rp133 Juta
Minggu, 09 April 2017 - 16:13 WIB
Jadikan Trump Target, Buronan Perampok Senjata Dihargai Rp133 Juta
A
A
A
WASHINGTON - Biro penyidik federal Amerika Serikat (AS), FBI, menawarkan hadiah Rp133 juta lebih untuk tersangka perampok 16 senjata high end. Pria yang disebut bersenjata dan sangat berbahaya ini dapat merencanakan aksi kekerasan massal menargetkan pejabat pemerintah.
Menurut polisi, tersangka Joseph Jakubowski dari Janesville, Wisconsin, diduga masuk ke toko penjualan senjata Armageddon pada Selasa. Ia kemudian menggondol 16 senjata api termasuk pistol high-end dan senapan. Ia melarikan diri dari TKP, membakar mobil dan belum terlihat sejak saat itu.
“Deputi menanggapi alarm yang terdengar di Toko Armageddon Gun dan menemukan bukti perampopkan dan pencurian. Video pengawas menunjukkan tersangka pria kulit putih memecahkan kaca pintu depan,” kata Sheriff Rock County, Robert D. Spoden dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (9/4/2017).
Berbicara pada konferensi pers, Spoden memberitahukan petunjuk dari modus operandi tersangka. "Pada dasarnya, dia marah pada semua pejabat pemerintah, apakah itu presiden atau pejabat lokal atau penegakan hukum," katanya.
"Ia pada dasarnya memiliki ketidaksukaan pada siapa pun yang memiliki otoritas atau kekuasaan pemerintah. Kami menganggap dia bersenjata dan sangat berbahaya," imbuhnya.
Polisi juga merilis sebuah video yang diduga menunjukkan Jakubowski mengirimkan 161 halaman manifesto kepada Presiden Donald Trump pada Selasa, hanya beberapa jam sebelum perampokan toko senjata.
Surat itu tampaknya ditujukan kepada presiden dan Jakubowski dapat didengar mengatakan “Ya akan tidak tahu apa yang akan terjadi,” sebelum ia melekatkan perangko pada suratnya.
Seorang pria lain, yang merekam Jakubowski mengatakan “Anda tidak akan pernah lupa wajah ini, tidak akan pernah,” karena keduanya keluar kantor pos. Tepat sebelum memasukkan surat di kotak pos terdekat, ia berbalik ke kamera dan mengatakan “Game Time,” kemudian tersenyum.
"Ketika Anda melihat dokumen yang ia tulis, itu benar-benar daftar panjang ketidakadilan yang ia percaya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dan kelas atas serta sisanya kepada warga, sehingga benar-benar tidak ada yang spesifik di mana dia berkata, 'Saya dirugikan dengan cara ini' atau 'saya bersalah dengan cara seperti itu,'" terang Spoden.
"Ini hanya gambaran bahwa ia merasa bahwa pemerintah dan penegak hukum, khususnya, bertindak sebagai teroris dan memperbudak rakyat dan menciptakan lingkungan ini di mana ia menemukan tidak dapat diterima," tambah Sheriff.
Sebuah operasi multi lembaga yang melibatkan polisi Wisconsin, FBI, Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak, dan Secret Service saat ini sedang berlangsung untuk menangkap Jakubowski.
Sejak kejadian itu dimulai, penyelidikan telah merespon lebih dari dua ratus petunjuk dan masih menelusuri sekitar tujuh puluh dari mereka. FBI menawarkan hadiah sebesar Rp133 juta lebih untuk informasi yang menghasilkan penangkapan tersangka.
Menurut polisi, tersangka Joseph Jakubowski dari Janesville, Wisconsin, diduga masuk ke toko penjualan senjata Armageddon pada Selasa. Ia kemudian menggondol 16 senjata api termasuk pistol high-end dan senapan. Ia melarikan diri dari TKP, membakar mobil dan belum terlihat sejak saat itu.
“Deputi menanggapi alarm yang terdengar di Toko Armageddon Gun dan menemukan bukti perampopkan dan pencurian. Video pengawas menunjukkan tersangka pria kulit putih memecahkan kaca pintu depan,” kata Sheriff Rock County, Robert D. Spoden dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (9/4/2017).
Berbicara pada konferensi pers, Spoden memberitahukan petunjuk dari modus operandi tersangka. "Pada dasarnya, dia marah pada semua pejabat pemerintah, apakah itu presiden atau pejabat lokal atau penegakan hukum," katanya.
"Ia pada dasarnya memiliki ketidaksukaan pada siapa pun yang memiliki otoritas atau kekuasaan pemerintah. Kami menganggap dia bersenjata dan sangat berbahaya," imbuhnya.
Polisi juga merilis sebuah video yang diduga menunjukkan Jakubowski mengirimkan 161 halaman manifesto kepada Presiden Donald Trump pada Selasa, hanya beberapa jam sebelum perampokan toko senjata.
Surat itu tampaknya ditujukan kepada presiden dan Jakubowski dapat didengar mengatakan “Ya akan tidak tahu apa yang akan terjadi,” sebelum ia melekatkan perangko pada suratnya.
Seorang pria lain, yang merekam Jakubowski mengatakan “Anda tidak akan pernah lupa wajah ini, tidak akan pernah,” karena keduanya keluar kantor pos. Tepat sebelum memasukkan surat di kotak pos terdekat, ia berbalik ke kamera dan mengatakan “Game Time,” kemudian tersenyum.
"Ketika Anda melihat dokumen yang ia tulis, itu benar-benar daftar panjang ketidakadilan yang ia percaya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dan kelas atas serta sisanya kepada warga, sehingga benar-benar tidak ada yang spesifik di mana dia berkata, 'Saya dirugikan dengan cara ini' atau 'saya bersalah dengan cara seperti itu,'" terang Spoden.
"Ini hanya gambaran bahwa ia merasa bahwa pemerintah dan penegak hukum, khususnya, bertindak sebagai teroris dan memperbudak rakyat dan menciptakan lingkungan ini di mana ia menemukan tidak dapat diterima," tambah Sheriff.
Sebuah operasi multi lembaga yang melibatkan polisi Wisconsin, FBI, Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak, dan Secret Service saat ini sedang berlangsung untuk menangkap Jakubowski.
Sejak kejadian itu dimulai, penyelidikan telah merespon lebih dari dua ratus petunjuk dan masih menelusuri sekitar tujuh puluh dari mereka. FBI menawarkan hadiah sebesar Rp133 juta lebih untuk informasi yang menghasilkan penangkapan tersangka.
(ian)