Maskapai Malaysia Dituduh Paksa Calon Pramugari Lucuti Pakaian saat Tes
Kamis, 06 April 2017 - 01:45 WIB
Maskapai Malaysia Dituduh Paksa Calon Pramugari Lucuti Pakaian saat Tes
A
A
A
KUALA LUMPUR - Sebuah maskapai penerbangan di Malaysia dituntut minta maaf setelah dituduh memaksa para calon pramugrari melucuti pakaiannya saat tes masuk kerja. Menurut laporan media lokal, tes seperti itu dilakukan pihak Malindo Air untuk memeriksa apakah calon pramugari memiliki tato atau tidak.
Media lokal, The Malay Mail, melaporkan bahwa salah satu calon pramugari marah atas prosedur tes yang dia anggap “konyol dan menjijikkan”. Calon pramugari itu mengaku dipaksa melucuti pakaian, termasuk bra dan mengangkat rok hingga bagian paha dalam tes wawancara pada 11 Maret 2017.
Laporan itu juga mengutip Direktur Komunikasi Malindo Air Raja Sa'adi Raja Amrin yang menurutnya, tes itu sudah jadi prosedur normal. Amrin mengatakan, pemeriksaan seperti itu diperlukan karena seragam kabin kru sebagian ada yang tembus.
”Ini bukan masalah. Kami memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan tubuh terhadap mereka. Saya pikir sebagian besar maskapai penerbangan melakukan hal yang sama,”katanya.
”Kita perlu melihat apakah mereka (pelamar) memiliki bekas luka, jerawat atau tato yang bisa dilihat melalui seragam. Pramugari kami mengenakan korset di dalam dan jika tertutup oleh korset, itu OK,” Ujarnya.
Ketika ditanya tentang calon pramugari harus telanjang kaki hingga puncak paha selama tes wawancara, Amrin mengatakan itu karena seragam mereka memiliki celah yang panjang.
”Kita perlu tahu apakah ada bekas luka atau tanda apapun seperti yang Anda lihat di kaki mereka ketika mereka berjalan,” katanya. ”Celah ini juga disesuaikan sedemikian rupa di mana itu akan memungkinkan pramugari untuk bergerak dengan mudah, terutama dalam keadaan darurat.”
Laporan media itu memicu beberapa anggota parlemen menuntut maskapai meminta maaf kepada wanita Malaysia.
”Saya menuntut Malindo meminta maaf kepada wanita Malaysia, terutama mereka yang ingin menjadi pramugari,” kata Siti Mariah Mahmud, seorang anggota parlemen untuk konstituen Kota Raja, saat konferensi pers Rabu (5/4/2017).
”Jika mereka ingin beroperasi dari Malaysia, mereka harus menghormati wanita Malaysia,” katanya lagi.
Dia juga menuntut otoritas Departemen Perhubungan dan Kementerian Pengembangan Masyarakat, Keluarga dan Perempuan Malaysia mengambil tindakan untuk menghentikan tes yang dia sebut sebagai “tes sampah” itu.
Dua anggota parlemen lainnya, Kasthuri Patto dan Teo Nie Ching, mengatakan praktik tes yang dilakukan maskapai tidak dapat diterima. Laporan itu juga memicu pengguna internet atau warganet Malaysia mengolok-olok pihak maskapai yang terkenal melayani penerbangan murah itu.
Media lokal, The Malay Mail, melaporkan bahwa salah satu calon pramugari marah atas prosedur tes yang dia anggap “konyol dan menjijikkan”. Calon pramugari itu mengaku dipaksa melucuti pakaian, termasuk bra dan mengangkat rok hingga bagian paha dalam tes wawancara pada 11 Maret 2017.
Laporan itu juga mengutip Direktur Komunikasi Malindo Air Raja Sa'adi Raja Amrin yang menurutnya, tes itu sudah jadi prosedur normal. Amrin mengatakan, pemeriksaan seperti itu diperlukan karena seragam kabin kru sebagian ada yang tembus.
”Ini bukan masalah. Kami memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan tubuh terhadap mereka. Saya pikir sebagian besar maskapai penerbangan melakukan hal yang sama,”katanya.
”Kita perlu melihat apakah mereka (pelamar) memiliki bekas luka, jerawat atau tato yang bisa dilihat melalui seragam. Pramugari kami mengenakan korset di dalam dan jika tertutup oleh korset, itu OK,” Ujarnya.
Ketika ditanya tentang calon pramugari harus telanjang kaki hingga puncak paha selama tes wawancara, Amrin mengatakan itu karena seragam mereka memiliki celah yang panjang.
”Kita perlu tahu apakah ada bekas luka atau tanda apapun seperti yang Anda lihat di kaki mereka ketika mereka berjalan,” katanya. ”Celah ini juga disesuaikan sedemikian rupa di mana itu akan memungkinkan pramugari untuk bergerak dengan mudah, terutama dalam keadaan darurat.”
Laporan media itu memicu beberapa anggota parlemen menuntut maskapai meminta maaf kepada wanita Malaysia.
”Saya menuntut Malindo meminta maaf kepada wanita Malaysia, terutama mereka yang ingin menjadi pramugari,” kata Siti Mariah Mahmud, seorang anggota parlemen untuk konstituen Kota Raja, saat konferensi pers Rabu (5/4/2017).
”Jika mereka ingin beroperasi dari Malaysia, mereka harus menghormati wanita Malaysia,” katanya lagi.
Dia juga menuntut otoritas Departemen Perhubungan dan Kementerian Pengembangan Masyarakat, Keluarga dan Perempuan Malaysia mengambil tindakan untuk menghentikan tes yang dia sebut sebagai “tes sampah” itu.
Dua anggota parlemen lainnya, Kasthuri Patto dan Teo Nie Ching, mengatakan praktik tes yang dilakukan maskapai tidak dapat diterima. Laporan itu juga memicu pengguna internet atau warganet Malaysia mengolok-olok pihak maskapai yang terkenal melayani penerbangan murah itu.
(mas)