Dunia Hadapi Cuaca Ekstrem

Rabu, 22 Maret 2017 - 20:29 WIB
Dunia Hadapi Cuaca Ekstrem
Dunia Hadapi Cuaca Ekstrem
A A A
LONDON - Kenaikan temperatur global yang memicu berbagai bencana alam sepanjang 2016 diperkirakan berlanjut tahun ini. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan adanya iklim dan cuaca ekstrem yang akan dihadapi banyak negara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kewaspadaan serupa, meskipun Indonesia diperkirakan tidak banyak terpengaruh. WMO, Badan PBB urusan cuaca, menyebutkan bahwa peningkatan temperatur global ditunjukkan dengan kenaikan permukaan air laut secara drastis dan es di Kutub Utara yang semakin cepat mencair.

Peringatan dari WMO tertuang dalam laporan tahunan mengenai iklim global yang dipublikasikan kemarin. Organisasi yang bermarkas di Jenewa, Swiss ini menyatakan bahwa 2016 merupakan tahun terhangat sepanjang sejarah. Pada tahun lalu, temperatur global rata-rata mencapai 1,1 derajat Celsius atau mengalami kenaikan 0,06 derajat Celsius dibandingkan 2015.

Dengan situasi yang tak jauh berbeda, cuaca dan iklim yang ekstrem pada 2017 diperkirakan lebih parah. Padahal selama 2016 telah banyak terjadi bencana akibat cuaca ekstrem. Misalnya karang di Great Barrier Reef yang memutih, banjir di Inggris dan Prancis, serta kekeringan yang melanda India, Afrika Timur, dan Amerika Tengah.

Semua bencana itu mengakibatkan kelaparan di berbagai negara di dunia. WMO juga mencatat 2016 merupakan tahun terpanas di Amerika Selatan. Bahkan di Eropa, 2016 juga merupakan tahun terpanas ketiga setelah 2014 dan 2015. Khusus Kuwait, temperatur ekstrem mencapai 54 derajat Celsius di Mitribah. Itu merupakan suhu paling tinggi di Asia. Wilayah yang jarang turun salju, pada 2016 juga mengalami salju seperti di Guangzhou, China Selatan (selengkapnya lihat info grafis).

”Kita kini masuk dalam teritorial tidak bisa diatur,” kata Kepala Program Penelitian Iklim Dunia David Carlson, dilansir AFP, kemarin. Carlson mengungkapkan terjadi perubahan iklim signifikan di seluruh bumi tahun ini. Menurut profesor dari Universitas College London, Julienne Stoeve, kondisi es di Artik terlacak dalam kondisi terburuk sejak Oktober.

”Peningkatan temperatur global itu konsisten dengan perubahanlainnya yangterjadi pada sistem iklim,” kata Sekjen WMO Petteri Taalas, dikutip Guardian. ”Secara global, temperatur permukaan air laut semakin hangat, tingkat permukaan air laut juga semakin meningkat. Es Artik berada di bawah rata-rata,” imbuhnya.

WMO memperingatkan emisi gas rumah kaca juga diperkirakan meningkat, dengan tingkat karbondioksida di atmosfer tetap akan memecahkan rekor baru. Laporan WMO menyebabkan kenaikan temperatur pada 2016 juga dipengaruhi fenomena El Nino yang berkontribusi 0,1 hingga 0,2 derajat.

Dalam pandangan pakar iklim dari Universitas East Anglia, Inggris, Robert Watson, data menunjukkan adanya peningkatan aktivitas manusia terhadapsistemiklim. Namun, banyak orang menutup mata. ”Anak-anak dan cucu kita akan bertanya kenapa bumi dikorbankan untuk energi fosil yang murah,” kritiknya.

Indonesia Aman

Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo memastikan Indonesia tidak mengalami cuaca ekstrem, terutama menyangkut perubahan suhu udara. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki uap air yang cukup mengantisipasi peningkatan suhu udara. Prabowo menjelaskan, Indonesia bukan negara satu benua, melainkan negara kepulauan yang 70% wilayahnya meliputi perairan.

Daratan juga bervariasi dari rendah dan tinggi. Artinya, ketika jarak matahari mendekati garis ekuator yang otomatis suhu udaranya meningkat, suhu udara di daratan tinggi justru dalam kondisi menurun. ”Iklim Indonesia itu tropis sehingga punya uap air yang ditampung di awan. Uap air itu seperti radiator mobil. Jadi ketika panas terserap awan, dan uap air di udara mendinginkan,” kata Prabowo di Jakarta kemarin.

Disinggung mengenai fenomena Equinox yang menimbulkan kekhawatiran adanya gelombang panas, Prabowo meminta masyarakat tidak cemas. Equinox merupakan fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa. Secara periodik, Equinox berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada 21 Maret (kemarin) dan 23 September.

Menurut dia, suhu udara di Indonesia rata-rata hanya berkisar27- 33derajatCelsius. Namun pada pukul 13.00-15.00 WIB, suhu udara terkadang meningkat 34-35 derajat Celsius. ”Cuaca pada 21 Maret memang hangat, tapi di Indonesia aman karena punya coolant uap air itu,” pungkasnya.
(esn)
Berita Terkait
Uni Eropa Jamin Semua...
Uni Eropa Jamin Semua Vaksin Boleh Digunakan
Lawan Disinformasi,...
Lawan Disinformasi, Uni Eropa Bentuk Kementerian Kebenaran
Kacaukan Logistik Pasukan...
Kacaukan Logistik Pasukan Rusia, Ukraina Rusak Jembatan di Wilayah Selatan
Uni Eropa Kini Tak Lagi...
Uni Eropa Kini Tak Lagi Relevan di Pangung Geopolitik, Ini 3 Alasannya
Presiden Jokowi di KTT...
Presiden Jokowi di KTT ASEAN - Uni Eropa
Duta Besar Uni Eropa...
Duta Besar Uni Eropa Denis Chaibi Jadi Dosen Tamu di UKI
Berita Terkini
Taiwan Luncurkan Robot...
Taiwan Luncurkan Robot Anjing Bersenjata untuk Berbagai Misi
10 menit yang lalu
AS dan Iran Saling Balas...
AS dan Iran Saling Balas Serangan Rudal, Sirine Meraung di Kuwait dan Bahrain
44 menit yang lalu
Hamas Sangkal Tudingan...
Hamas Sangkal Tudingan Tolak Serahkan Pemerintahan di Gaza
2 jam yang lalu
AS Ungkap Pemimpin Tertinggi...
AS Ungkap Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup, Makin Terlibat Melalui Perantara
2 jam yang lalu
Mantan Direktur CIA...
Mantan Direktur CIA Sebut Perang Drone Picu Bahaya dan Peluang, Ini 5 Alasannya
8 jam yang lalu
IRGC Izinkan 24 Kapal...
IRGC Izinkan 24 Kapal Melewati Selat Hormuz
12 jam yang lalu
Infografis
Daftar Lengkap Skuad...
Daftar Lengkap Skuad Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved