Australia Susun Ulang Kebijakan Luar Negeri

Kamis, 02 Maret 2017 - 23:30 WIB
Australia Susun Ulang...
Australia Susun Ulang Kebijakan Luar Negeri
A A A
CANBERRA - Australia akan memanggil pulang semua duta besar (dubes) di luar negeri untuk mengikuti pertemuan. Langkah ini dilakukan saat Australia harus menyusun ulang kebijakan luar negeri untuk menyeimbangkan hubungan dengan aliansi lama dan mitra dagang terbesar Amerika Serikat (AS) dan China.

Ini pertama kali Australia mengumpulkan semua dubesnya dari 113 misi di penjuru dunia. Tujuannya untuk menyusun buku putih sebagai panduan diplomasi Australia dalam dekade mendatang. Buku putih itu akan menjadi dokumen pertama semacam itu sejak 2003 lalu.

“Di kala ketidakpastian global yang meningkat, penting bagi Australia memanfaatkan pengalaman dan kecerdasan para diplomat paling senior kita,” papar Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Julie Bishop, dikutip kantor berita Reuters.

Dia menjelaskan, pertemuan pada akhir bulan ini akan fokus pada pendekatan Australia untuk hubungan internasional dan perdagangan. Hubungan Australia dengan China memanas saat ini dengan meningkatnya penolakan terhadap investasi asing oleh parlemen konservatif di Canberra.

Hubungan Negeri Kanguru itu dengan AS juga berada di level terendah setelah percakapan keras antara Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull dan Presiden AS Donald Trump saat membahas rencana pertukaran pengungsi.

Mantan Dubes Australia untuk AS Kim Beazley yang sekaligus mantan ketua oposisi Partai Buruh, menilai hubungan dengan AS sangat penting bukan hanya karena Washington aliansi strategis lama, tapi juga jumlah investasi yang dikucurkan ke Australia.

“Saya lebih khawatir dalam bidang ekonomi tentang keengganan AS berinvestasi secara global dibandingkan tentang kemungkinan perang dagang antara AS dan China,” ujarnya.

Para dubes akan bertemu di Canberra selama dua hari bersama Turnbull, Bishop, dan Menteri Perdagangan Steven Ciobo dengan buku putih yang akan diluncurkan sekitar pertengahan tahun ini.

Kepala peneliti buku putih Australia Alexandra Oliver dari lembagarisetLowy Institutemenyatakan, perubahan politik global telah menantang pembuatan kebijakan luar negeri tradisional.

“Kekhawatiran tentang imigrasi, terorisme, globalisasi, perdagangan bebas global, krisis pangan global secara umum sekarang dipertanyakan,” katanya.
(esn)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Kemampuan Rudal China...
Kemampuan Rudal China Melesat, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Pertahanan Misil
Berita Terkini
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
51 menit yang lalu
Iran Lebih Suka Bombardir...
Iran Lebih Suka Bombardir Negara-negara Arab Dibandingkan Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
2 jam yang lalu
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
4 jam yang lalu
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
7 jam yang lalu
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
8 jam yang lalu
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
9 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved