Inggris: Putin Jadikan Hoax Senjata Buat Lemahkan Barat
Sabtu, 04 Februari 2017 - 01:30 WIB
Inggris: Putin Jadikan Hoax Senjata Buat Lemahkan Barat
A
A
A
LONDON - Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon memperingatkan kepada Barat untuk berhati-hati terhadap setiap informasi yang beredar. Pasalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan berita bohong atau hoax untuk melemahkan Barat.
"Rusia jelas menguji NATO dan Barat. Dalam hal ini berusaha untuk memperluas lingkup pengaruhnya, mengguncang negara dan melemahkan aliansi," kata Fallon seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (4/2/2017).
Fallon menyatakan sejak Soviet runtuh, Putin telah mencari cara untuk bersaing melawan barat. Ia lantas menggunakan hoax secara sengaja dan meretas untuk melemahkan pemerintah Barat serta meningkatkan sentimen populis.
"Kami melihat sebuah negara, terkena senjata hoax, telah menciptakan apa yang sekarang kita mungkin melihatnya sebagai masa pasca-kebenaran," kata Fallon.
Para pemimpin Eropa ditengarai menjadi target taktik propaganda dan misinformasi Rusia. Pasalnya, saat ini sejumlah negara di Benua Biru bakal menggelar pemilihan umum. Muncul fenomena di mana terjadi lonjakang dukungan untuk kelompok sayap kanan, partai anti imigrasi.
Sebelumnya, Rusia disebut telah melakukan taktik ini dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS). Rusia dituding meretas email milik Partai Demokrat dan pihak intelijen AS menyebut Putin terlibat langsung. Namun Presiden AS Donald Trump bersikeras membantah keterlibatan Rusia dalam pemilu yang dimenangkannya itu.
"Rusia jelas menguji NATO dan Barat. Dalam hal ini berusaha untuk memperluas lingkup pengaruhnya, mengguncang negara dan melemahkan aliansi," kata Fallon seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (4/2/2017).
Fallon menyatakan sejak Soviet runtuh, Putin telah mencari cara untuk bersaing melawan barat. Ia lantas menggunakan hoax secara sengaja dan meretas untuk melemahkan pemerintah Barat serta meningkatkan sentimen populis.
"Kami melihat sebuah negara, terkena senjata hoax, telah menciptakan apa yang sekarang kita mungkin melihatnya sebagai masa pasca-kebenaran," kata Fallon.
Para pemimpin Eropa ditengarai menjadi target taktik propaganda dan misinformasi Rusia. Pasalnya, saat ini sejumlah negara di Benua Biru bakal menggelar pemilihan umum. Muncul fenomena di mana terjadi lonjakang dukungan untuk kelompok sayap kanan, partai anti imigrasi.
Sebelumnya, Rusia disebut telah melakukan taktik ini dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS). Rusia dituding meretas email milik Partai Demokrat dan pihak intelijen AS menyebut Putin terlibat langsung. Namun Presiden AS Donald Trump bersikeras membantah keterlibatan Rusia dalam pemilu yang dimenangkannya itu.
(ian)