Trump Prioritaskan Kepentingan AS

Senin, 16 Januari 2017 - 14:43 WIB
Trump Prioritaskan Kepentingan...
Trump Prioritaskan Kepentingan AS
A A A
WASHINGTON - Merombak regulasi industri dan menghapus Obamacare (layanan kesehatan gratis) menjadi prioritas utama Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari pertama dia berkuasa.

Mendeportasi migran ilegal, membatalkan kesepakatan perdagangan bebas, dan membangun tembok perbatasan dengan Meksiko, menjadi kebijakan utama yang akan dijalankan Trump. Miliarder asal New York itu berusaha keras merombak kebijakan Presiden AS Barack Obama yang tidak sehaluan dengan Partai Republik. Hari pertama Trump di Gedung Putih akan diwarnai dengan berbagai kesibukan.

Hal utama dan pertama yang akan menjadi fokus utamanya adalah menghapus berbagai kebijakan Obama yang telah berkuasa selama delapan tahun. Janji Trump lainnya pada hari pertama adalah membatalkan keputusan eksekutif sepihak, memorandum, dan perintah yang telah dikeluarkan Obama. Dikarenakan Obama tak mendapatkan dukungan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat, sehingga dia membuat keputusan presiden.

Langkah yang paling disorot adalah janji Trump untuk mengganti kebijakan layanan kesehatan versi Obama atau lazim disebut dengan Obamacare. Tim Trump menegaskan, dia akan secepatnya menandatangani perintah eksekutif untuk membatalkan kebijakan tersebut. Langkah Trump telah didukung anggota parlemen dari Partai Republik yang mengupayakan sejumlah langkah untuk menghapus Obamacare.

”Langkah Kongres sangat esensial bersimultan dengan kebijakan kita,” kata Trump. Selama kampanye, Trump berkeinginan untuk mendeportasi migran yang berbuat kejahatan. Dia mengungkapkan, 2 juta migran berstatus kriminal tinggal di AS. ”Pada hari pertama, jam-jam awal saya berkantor, orang-orang itu (migran gelap) harus pergi meninggalkan AS,” kata Trump kepada para pendukungnya di Arizona, Agustus lalu.

Trump juga akan menyusun legislasi pada hari pertama mengenai pembangunan ”tembok raksasa” di perbatasan AS Meksiko. Dia juga akan menghentikan program pengungsi Suriah. Salah satu kebijakan yang akan dibatalkan adalah kebijakan Obama yang mengizinkan 750.000 migran tak berdokumen yang datang ke AS. Miliarder New York itu juga berniat untuk mengakhiri tekanan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) terhadap industri AS.

”Trump akan mengakhiri perang melawan batu bara pada hari pertama,” kata Wakil Presiden terpilih Mike Pence. Trump akan membatalkan moratorium penggunaan batu bara dan mengizinkan tanah federal untuk dijadikan lahan tambang. Dia memerintahkan agar seluruh tanah AS digali untuk mendapatkan minyak, gas alam, batu bara, dan uranium.

Proyek pipanisasi Keystone Xl yang menghubungkan Kanada dan kilang minyak di Teluk AS juga akan diizinkan oleh Trump pada hari pertama. Padahal, pemerintahan Obama menolak proyek tersebut. Bahkan, Trump akan membatalkan pembayaran miliaran dolar untuk program perubahan iklim PBB. Uang itu, kata Trump, akan digunakan untuk meningkatkan infrastruktur lingkungan.

Kemudian, sebagai pengusaha yang memiliki pengalaman panjang, Trump dikenal sebagai tokoh yang menentang perdagangan bebas. Padahal, Partai Republik juga dikenal sebagai pendukung perdagangan bebas. Trump pernah mengatakan, pada hari pertama dia menjadi presiden akan mengumumkan bahwa AS akan menarik diri dari segala perjanjian perdagangan bebas.

AS akan melepaskan diri kesepakatan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang beranggotakan 12 negara. Trump juga ingin AS keluar dari Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko. Trump berjanji akan menginstruksikan menteri perdagangan untuk melabeli China sebagai ”pemanipulasi valuta asing”.

Langkah ini diperkirakan akan memicu aksi balas dendam dari kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia itu. Namun, banyak kebijakan Trump akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk diwujudkan. Trump sudah menulis puluhan kebijakan yang akan diambil pada jam-jam awal kepresidenannya. Tapi, dia akan mencoba merangkai segala upaya untuk mewujudkan ambisinya.

Para pakar cukup pesimistis karena miliarder berusia 70 tahun itu memiliki banyak keterbatasan. Eksekutif hanya satu pilar dalam demokrasi, masih ada Kongres dan kehakiman. ”Dia (Trump) tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya pada hari pertama,” kata jaksa imigrasi David Leopold kepada AFP. ”Dalam demokrasi, tidak ada CEO,” paparnya.

Agen keamanan AS memperketat keamanan pelantikan Trump pada 20 Ja-nuari nanti karena hampir 1 juta orang diperkirakan akan menghadiri acara bersejarah tersebut. Padahal, pihak keamanan AS menegaskan, tidak ada ancaman terhadap pelantikan Trump. Namun, mereka tetap mewaspadai segala bentuk ancaman seperti penembakan, pesawat nirawak, dan teror dengan menggunakan kendaraan. ”Kita mengetahui tidak ada ancaman yang kredibel terhadap pelantikan Trump,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri Jeh Johnson.
(esn)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Tak Jadi Ditahan, Usai...
Tak Jadi Ditahan, Usai Diperiksa Donal Trump Kembali ke Florida
Berita Terkini
Presiden Lebanon Aoun...
Presiden Lebanon Aoun Peringatkan Kesepakatan Gencatan Senjata sebagai Kesempatan Terakhir
45 menit yang lalu
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Kendaraan Kepala Komando Utara IDF di Lebanon Selatan
1 jam yang lalu
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
2 jam yang lalu
Pesawat Nirawak Ukraina...
Pesawat Nirawak Ukraina Serang Crimea, 4 Orang Tewas, 10 Luka
3 jam yang lalu
706 Paus dan Lumba-lumba...
706 Paus dan Lumba-lumba Dibantai, Laut Ini Berubah Jadi Perairan Darah
5 jam yang lalu
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
6 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved