Kafe di Hawaii Ditulisi Pemilih Trump Tak Bisa Makan di Sini!
Kamis, 29 Desember 2016 - 04:34 WIB
Kafe di Hawaii Ditulisi Pemilih Trump Tak Bisa Makan di Sini!
A
A
A
HONOLULU - Cafe 8 ½, sebuah kafe di Hololulu, Hawaii, mengeluarkan kebijakan baru yang melarang semua pelanggan pro-Donald Trump. Pemilik kafe mengaku tidak suka dengan sosok presiden terpilih Amerika Serikat (AS) itu.
Larangan masuk bagi para pelanggan pendukung Trump tertulis di pintu kaca kafe. ”Jika Anda memilih Trump, Anda tidak bisa makan di sini! Bukan Nazi,” bunyi tulisan itu.
Tulisan itu dipasang oleh salah satu co-founder Cafe 8 ½, Robert Wagner. Istri Wagner yang juga salah satu pendiri kafe mengatakan kepada Fox News bahwa tanda itu tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah.
“Robert hanya ingin mengungkapkan betapa dia tidak suka Trump. Kami tidak ingin membuat masalah. Sudah cukup kesulitan di dunia,” katanya, yang dikutip Kamis (29/12/2016).
Para pendukung Trump menuding pengelola kafe bertindak diskriminatif. Mereka menyerukan agar kafe itu diboikot.
Salah satu pendukung Trump, Jay Correia dengan nama akun Twitter @realJayCorreia menyamakan larangan dari kafe itu dengan UU Jim Crow yang menerapkan kebijakan rasial di negara-negara–negara bagian AS wilayah selatan pada paruh pertama abad 20.
”Inklusivitas? Anda tidak bisa makan di Cafe 8 ½, Hawaii, jika Anda sebagai (pemilih) @realDonaldTrump. Sepertinya taktik Jim Crow Dem untuk saya,” tulis dia.
Seorang pengunjung situs kafe itu menuliskan komentar kecaman terhadap aturan baru di kafe itu. ”Trump bukan pacar lelaki saya. Jadi, bagaimana jika orang memilih Trump, itu urusan Anda. Dengan tidak melayani para pendukung Trump, Anda tidak lebih baik dari tukang roti yang menolak melayani pasangan gay,” bunyi komentar pengunjung situs Cafe 8 ½.
Larangan masuk bagi para pelanggan pendukung Trump tertulis di pintu kaca kafe. ”Jika Anda memilih Trump, Anda tidak bisa makan di sini! Bukan Nazi,” bunyi tulisan itu.
Tulisan itu dipasang oleh salah satu co-founder Cafe 8 ½, Robert Wagner. Istri Wagner yang juga salah satu pendiri kafe mengatakan kepada Fox News bahwa tanda itu tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah.
“Robert hanya ingin mengungkapkan betapa dia tidak suka Trump. Kami tidak ingin membuat masalah. Sudah cukup kesulitan di dunia,” katanya, yang dikutip Kamis (29/12/2016).
Para pendukung Trump menuding pengelola kafe bertindak diskriminatif. Mereka menyerukan agar kafe itu diboikot.
Salah satu pendukung Trump, Jay Correia dengan nama akun Twitter @realJayCorreia menyamakan larangan dari kafe itu dengan UU Jim Crow yang menerapkan kebijakan rasial di negara-negara–negara bagian AS wilayah selatan pada paruh pertama abad 20.
”Inklusivitas? Anda tidak bisa makan di Cafe 8 ½, Hawaii, jika Anda sebagai (pemilih) @realDonaldTrump. Sepertinya taktik Jim Crow Dem untuk saya,” tulis dia.
Seorang pengunjung situs kafe itu menuliskan komentar kecaman terhadap aturan baru di kafe itu. ”Trump bukan pacar lelaki saya. Jadi, bagaimana jika orang memilih Trump, itu urusan Anda. Dengan tidak melayani para pendukung Trump, Anda tidak lebih baik dari tukang roti yang menolak melayani pasangan gay,” bunyi komentar pengunjung situs Cafe 8 ½.
(mas)