Strategi Trump di Suriah Bikin Sekutu AS Prihatin

Sabtu, 10 Desember 2016 - 17:02 WIB
Strategi Trump di Suriah...
Strategi Trump di Suriah Bikin Sekutu AS Prihatin
A A A
PARIS - Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) di Eropa diam-diam mengungkapkan keprihatinannya atas pendekatan Presiden terpilih Donald Trump terhadap Suriah. Mereka pun memperingatkan janjinya untuk bekerja sama lebih erat dengan Rusia untuk mengurangi ancaman teroris yang berasal dari Suriah. Rusia adalah pendukung utama rezim Bashar al-Assad.

Seorang diplomat Barat, yang berbicara menolak identitasnya diungkap, mengatakan bahwa mereka mengirim pesan bahwa aliansi AS dengan Rusia untuk menghancurkan kelompok-kelompok seperti ISIS akan menjadi bumerang. Trump sendiri mengatakan mengalahkan ISIS adalah prioritas yang lebih tinggi daripada membujuk Assad untuk mundur.

"Terhadap Suriah pemerintahan baru AS mengatakan menghancurkan ISIS adalah prioritas, tetapi kami sudah menjelaskan pandangan kami bahwa tanpa solusi politik di Suriah upaya itu akan sia-sia karena kantong-kantong baru kelompok radikal akan terbentuk kembali," kata seorang diplomat senior Prancis seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (10/12/2016).

Tim transisi Trump sendiri tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait kekhawatiran sejumlah negara sekutunya itu. "Apa yang kami dapatkan dari percakapan kami dengan pemerintahan Trump adalah bahwa mereka sudah menyelaraskan prospek kerja sama Rusia-AS memerangi ISIS dan pemulihan hubungan penuh dengan Moskow," kata diplomat senior Prancis itu lagi.

Seorang diplomat senior Arab juga sangat berhati-hati menyikapi kebijakan Trump di Suriah. "Kita benar-benar tidak bisa memprediksi sekarang," katanya.

Mantan duta besar AS untuk Suriah Robert Ford mengatakan bahwa setelah Aleppo jatuh, pemerintah Suriah didukung Rusia tidak akan mengalihkan perhatian untuk Negara Islam. Ford menyebut rezim Assad akan mencoba untuk menghancurkan sisa pemberontak sekuler anti-Assad. Amerika Serikat memiliki tiga pilihan, kata Ford, seorang rekan di Middle East Institute think-tank.

"Opsi pertama adalah beralih dan bergabung dengan Rusia dan implisit pemerintah Suriah dan Iran melawan ekstrimis Sunni. Tapi masalahnya adalah bahwa Rusia dan pemerintah Suriah tidak benar-benar berjuang memerangi ekstremis Sunni," katanya.

Opsi kedua, Ford mengatakan, adalah Washington untuk menjauh dari konflik, yang kemungkinan akan berarti berkurangnya pengaruh AS di wilayah ini, dan pengungsi akan terus mengalir.

Yang ketiga adalah untuk bekerja dengan Turki dan Arab Saudi untuk mendapatkan gencatan senjata parsial. "Tak satu pun dari mereka yang baik, tidak ada jawaban yang mudah, kami kehabisan jawaban yang mudah di 2012 dan 2013," kata Ford
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump: Suriah...
Donald Trump: Suriah Kacau, Biarkan Saja, AS Jangan Terlibat!
AS Kirim Kendaraan Lapis...
AS Kirim Kendaraan Lapis Baja ke Suriah
Berita Terkini
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
11 menit yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
1 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
2 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
3 jam yang lalu
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
4 jam yang lalu
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
5 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved