Tiga Tewas Akibat Serangan Kelompok Pemberontak Thailand
Kamis, 03 November 2016 - 15:02 WIB
Tiga Tewas Akibat Serangan Kelompok Pemberontak Thailand
A
A
A
BANGKOK - Kelompok pemberontah Thailand melancarkan serangan bersenjata dan bom ke wilayah selatan negara itu. Serangan yang menargetkan personil militer dan properti komersil itu menewaskan 3 orang.
"Tiga orang tewas, termasuk dua penjaga keamanan dan seorang prajurit," kata juru bicara Komando Operasi Keamanan Internasl militer Thailand, Pramote Prom-in seperti dikutip dari Reuters, Kamis (3/11/2016).
Serangan terbaru ini terjadi di Narathiwat dan provinsi Pattani. Daerah itu adalah dua dari tiga provinsi berpenduduk mayoritas Muslim di Thailand yang didominasi Buddha. Pemberontakan kelompok separatis telah berkecamuk sejak 2004, dan juga di provinsi tetangga Songkhla. "Ini adalah aksi dari pemberontak yang ingin menciptakan kerusuhan dan merusak kepercayaan kepada pemerintah," tegas Pramote.
Serangan kelompok pemberontak ini adalah yang pertama pasca kematian Raja Bhumibol Adulyadej bulan lalu. Serangan ini sekaligus menentang permintaan junta militer untuk berhenti sementara selama masa berkabung atas meninggalnya raja yang telah memerintah selama 7 dekade.
Meski begitu, sejauh ini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Serangan semalam adalah yang terbesar sejak serangkaian ledakan bom di selatan Thailand pada bulan Agustus lalu yang menewaskan empat orang dan puluhan luka-luka, termasuk orang asing.
Pembicaraan yang bertujuan membawa perdamaian antara pemerintah militer dan kelompok pemberontak pada bulan September gagal mencapai terobosan apapun. Lebih dari 6.500 orang telah tewas di provinsi paling selatan Thailand Yala, Pattani, dan Narathiwat selama 12 tahun terakhir sebagai bagian dari pemberontakan.
"Serangan ini menunjukkan bahwa situasi pemberontakan di selatan terisolasi dari apa yang terjadi di seluruh Thailand. Setiap permintaan oleh junta untuk menghentikan kekerasan tersebut tidak mungkin untuk memiliki efek apapun," kata direktur Deep South Watch, Srisompop Jitpiromsri, sebuah kelompok yang memonitor konflik, kepada Reuters.
"Tiga orang tewas, termasuk dua penjaga keamanan dan seorang prajurit," kata juru bicara Komando Operasi Keamanan Internasl militer Thailand, Pramote Prom-in seperti dikutip dari Reuters, Kamis (3/11/2016).
Serangan terbaru ini terjadi di Narathiwat dan provinsi Pattani. Daerah itu adalah dua dari tiga provinsi berpenduduk mayoritas Muslim di Thailand yang didominasi Buddha. Pemberontakan kelompok separatis telah berkecamuk sejak 2004, dan juga di provinsi tetangga Songkhla. "Ini adalah aksi dari pemberontak yang ingin menciptakan kerusuhan dan merusak kepercayaan kepada pemerintah," tegas Pramote.
Serangan kelompok pemberontak ini adalah yang pertama pasca kematian Raja Bhumibol Adulyadej bulan lalu. Serangan ini sekaligus menentang permintaan junta militer untuk berhenti sementara selama masa berkabung atas meninggalnya raja yang telah memerintah selama 7 dekade.
Meski begitu, sejauh ini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Serangan semalam adalah yang terbesar sejak serangkaian ledakan bom di selatan Thailand pada bulan Agustus lalu yang menewaskan empat orang dan puluhan luka-luka, termasuk orang asing.
Pembicaraan yang bertujuan membawa perdamaian antara pemerintah militer dan kelompok pemberontak pada bulan September gagal mencapai terobosan apapun. Lebih dari 6.500 orang telah tewas di provinsi paling selatan Thailand Yala, Pattani, dan Narathiwat selama 12 tahun terakhir sebagai bagian dari pemberontakan.
"Serangan ini menunjukkan bahwa situasi pemberontakan di selatan terisolasi dari apa yang terjadi di seluruh Thailand. Setiap permintaan oleh junta untuk menghentikan kekerasan tersebut tidak mungkin untuk memiliki efek apapun," kata direktur Deep South Watch, Srisompop Jitpiromsri, sebuah kelompok yang memonitor konflik, kepada Reuters.
(ian)