AS Tidak Tertarik Terlibat Cyberwarfare dengan Rusia
Rabu, 02 November 2016 - 15:41 WIB
AS Tidak Tertarik Terlibat Cyberwarfare dengan Rusia
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry mengatakan pihaknya tidak ingin terlibat dalam perang di dunia maya (cyberwarfare) dengan Rusia. Hal itu diungkapkannya saat diwawancarai dengan sebuah media.
"Kami sudah benar-benar membahas hal itu. Bahaya ini tidak dilebih-lebihkan. Kami tidak ingin memulai jalan ke arah sana. Anda tahu, kami melakukan pengawasan senjata selama 50 tahun. Kami memiliki perlombaan senjata di mana kami membangun lebih banyak dan lebih banyak lagi senjata nuklir. Hal terakhir yang kita butuhkan adalah perlombaan cyberwarfare," kata Kerry seperti dikutip dari Sputniknews, Rabu (2/11/2016).
Kerry juga mencatat bahwa kedua belah pihak harus bertindak dengan penuh tanggung jawab, yang mungkin memerlukan perubahan dalam perjanjian yang ada.
"Di mana kita meningkat dan lebih meningkat dengan bahaya yang lebih besar dan lebih besar lagi dan sampai tingkat di mana orang-orang menyadari bahwa ada kehancuran bersama dalam proses ini. Jadi kita perlu memastikan kita membatasi hal ini dan bertindak dengan tanggung jawab, kita semua," katanya.
"Itu akan membutuhkan beberapa instrusi dalam hal perjanjian yang kita capai dalam rangka norma-norma yang akan dan bagaimana kita akan berperilaku. Dana bagaimana kita mengawasi itu," sambungnya.
Pada tanggal 19 Oktober, selama debat presiden ketiga, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton menyatakan bahwa Rusia berada di balik rilis email WikiLeaks. Hal itu dilakukan dalam upaya untuk mempengaruhi hasil pemilu AS, mengutip badan-badan intelijen sebagai sumber atas klaim ini.
Namun para pejabat Rusia telah membantah tudingan ikut campur tangan dalam pemilihan presiden AS pada 8 November mendatang.
"Kami sudah benar-benar membahas hal itu. Bahaya ini tidak dilebih-lebihkan. Kami tidak ingin memulai jalan ke arah sana. Anda tahu, kami melakukan pengawasan senjata selama 50 tahun. Kami memiliki perlombaan senjata di mana kami membangun lebih banyak dan lebih banyak lagi senjata nuklir. Hal terakhir yang kita butuhkan adalah perlombaan cyberwarfare," kata Kerry seperti dikutip dari Sputniknews, Rabu (2/11/2016).
Kerry juga mencatat bahwa kedua belah pihak harus bertindak dengan penuh tanggung jawab, yang mungkin memerlukan perubahan dalam perjanjian yang ada.
"Di mana kita meningkat dan lebih meningkat dengan bahaya yang lebih besar dan lebih besar lagi dan sampai tingkat di mana orang-orang menyadari bahwa ada kehancuran bersama dalam proses ini. Jadi kita perlu memastikan kita membatasi hal ini dan bertindak dengan tanggung jawab, kita semua," katanya.
"Itu akan membutuhkan beberapa instrusi dalam hal perjanjian yang kita capai dalam rangka norma-norma yang akan dan bagaimana kita akan berperilaku. Dana bagaimana kita mengawasi itu," sambungnya.
Pada tanggal 19 Oktober, selama debat presiden ketiga, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton menyatakan bahwa Rusia berada di balik rilis email WikiLeaks. Hal itu dilakukan dalam upaya untuk mempengaruhi hasil pemilu AS, mengutip badan-badan intelijen sebagai sumber atas klaim ini.
Namun para pejabat Rusia telah membantah tudingan ikut campur tangan dalam pemilihan presiden AS pada 8 November mendatang.
(ian)