Politisi Iran Bantah Sebut Perang dengan Israel Berarti Bunuh Diri
Selasa, 01 November 2016 - 03:15 WIB
Politisi Iran Bantah Sebut Perang dengan Israel Berarti Bunuh Diri
A
A
A
TEHERAN - Anggota parlemen Iran dari komunitas Yahudi, Siamak More Sedgh, membantah telah berkomentar bahwa Teheran tahu perang dengan Israel berarti bunuh diri. Dia menyangkal telah wawancara dan berkomentar seperti yang disiarkan stasiun Radio Israel berbahasa Inggris pada hari Minggu tersebut.
Dalam siarannya, radio itu menyebut Sedgh sudah wawancara dengan korespondennya Gideon Kotz. “Iran tidak ingin memulai perang melawan Israel, karena mereka tahu bahwa setiap orang yang memulai perang di Timur Tengah adalah melakukan bunuh diri,” kata Sedgh seperti yang disiarkan radio tersebut.
Sedgh, masih menurut siaran Radio Israel, percaya bahwa kepemimpinan Iran akan menjadi sehat dan cukup bijaksana untuk menghindari perang dengan Israel. ”Hubungan antara Iran dan Israel (yang) lebih stabil dibandingkan sebelumnya sejak penandatanganan perjanjian nuklir tahun lalu,” katanya.
Baca:
Politisi Iran: Teheran Tahu Perang dengan Israel Berarti Bunuh Diri
Namun, beberapa jam setelah hasil wawancara itu disiarkan, politisi Iran itu menyangkal telah berkomentar dan melakukan wawancara dengan media Israel. Bantahan Sedgh dipublikasikan media Iran, Fars.
”Saya tidak memiliki wawancara dengan Radio Israel dan menolak kedua laporan dan wawancara,” katanya. ”Saya tidak menjawab panggilan telepon dan pertanyaan dari media Zionis karena mereka bukan makhluk yang ingin kami jawab,” katanya lagi, seperti dikutip Times of Israel, semalam (31/10/2016).
Sedgh, yang merupakan seorang dokter 50 tahun merupakan Direktur Komite Yahudi Teheran. Dia telah mewakili komunitasnya di parlemen Iran sejak 2012 dan telah menjadi kritikus keras terhadap Israel. Selama 2014 Perang Gaza, dia menuduh Israel bertindak seperti Nazi dan seperti rezim Saddam Hussein.
Pada bulan Mei 2008, Sedgh mengatakan bahwa komunitas Yahudi Iran tidak akan memperingati ulang tahun ke-60 Israel. ”Kami berada dalam perselisihan lengkap dengan perilaku Israel,” katanya saat itu. Menurutnya, perilaku Israel di Jalur Gaza, Palestina, merupakan perilaku anti-manusia . ”Mereka membunuh orang yang tidak bersalah,” ujarnya.
Politisi Iran ini mengecam media Israel. ”Ketenaran sakit dari media rezim Zionis adalah fakta yang dibuktikan kepada semua orang, dan saya percaya bahwa berita mereka tidak layak, bahkan ditolak; mereka sendiri tahu bahwa tidak ada orang yang bebas akan melakukan wawancara dengan mereka,” ujarnya.
Sedgh diwawancarai oleh Kotz tanpa mengetahui bahwa dia berbicara kepada koresponden Radio Israel tersebut. Sedgh mengaku kepada Fars, bahwa dia memberikan wawancara kepada wartawan Prancis pada perjalanan baru ke Paris.
”Saya mengatakan kepadanya bahwa ada (setidaknya) beberapa orang di Israel yang bisa tahu menyerang Iran akan berakibat pemusnahan Israel,” katanya.
Iran adalah rumah bagi sekitar 8.500 orang Yahudi, terutama di Teheran, Isfahan dan Shiraz. Komunitas Yahudi di negara itu adalah salah satu dari tiga yang diakui secara resmi sebagai agama minoritas dan memiliki anggota resmi di parlemen Iran.
Dalam siarannya, radio itu menyebut Sedgh sudah wawancara dengan korespondennya Gideon Kotz. “Iran tidak ingin memulai perang melawan Israel, karena mereka tahu bahwa setiap orang yang memulai perang di Timur Tengah adalah melakukan bunuh diri,” kata Sedgh seperti yang disiarkan radio tersebut.
Sedgh, masih menurut siaran Radio Israel, percaya bahwa kepemimpinan Iran akan menjadi sehat dan cukup bijaksana untuk menghindari perang dengan Israel. ”Hubungan antara Iran dan Israel (yang) lebih stabil dibandingkan sebelumnya sejak penandatanganan perjanjian nuklir tahun lalu,” katanya.
Baca:
Politisi Iran: Teheran Tahu Perang dengan Israel Berarti Bunuh Diri
Namun, beberapa jam setelah hasil wawancara itu disiarkan, politisi Iran itu menyangkal telah berkomentar dan melakukan wawancara dengan media Israel. Bantahan Sedgh dipublikasikan media Iran, Fars.
”Saya tidak memiliki wawancara dengan Radio Israel dan menolak kedua laporan dan wawancara,” katanya. ”Saya tidak menjawab panggilan telepon dan pertanyaan dari media Zionis karena mereka bukan makhluk yang ingin kami jawab,” katanya lagi, seperti dikutip Times of Israel, semalam (31/10/2016).
Sedgh, yang merupakan seorang dokter 50 tahun merupakan Direktur Komite Yahudi Teheran. Dia telah mewakili komunitasnya di parlemen Iran sejak 2012 dan telah menjadi kritikus keras terhadap Israel. Selama 2014 Perang Gaza, dia menuduh Israel bertindak seperti Nazi dan seperti rezim Saddam Hussein.
Pada bulan Mei 2008, Sedgh mengatakan bahwa komunitas Yahudi Iran tidak akan memperingati ulang tahun ke-60 Israel. ”Kami berada dalam perselisihan lengkap dengan perilaku Israel,” katanya saat itu. Menurutnya, perilaku Israel di Jalur Gaza, Palestina, merupakan perilaku anti-manusia . ”Mereka membunuh orang yang tidak bersalah,” ujarnya.
Politisi Iran ini mengecam media Israel. ”Ketenaran sakit dari media rezim Zionis adalah fakta yang dibuktikan kepada semua orang, dan saya percaya bahwa berita mereka tidak layak, bahkan ditolak; mereka sendiri tahu bahwa tidak ada orang yang bebas akan melakukan wawancara dengan mereka,” ujarnya.
Sedgh diwawancarai oleh Kotz tanpa mengetahui bahwa dia berbicara kepada koresponden Radio Israel tersebut. Sedgh mengaku kepada Fars, bahwa dia memberikan wawancara kepada wartawan Prancis pada perjalanan baru ke Paris.
”Saya mengatakan kepadanya bahwa ada (setidaknya) beberapa orang di Israel yang bisa tahu menyerang Iran akan berakibat pemusnahan Israel,” katanya.
Iran adalah rumah bagi sekitar 8.500 orang Yahudi, terutama di Teheran, Isfahan dan Shiraz. Komunitas Yahudi di negara itu adalah salah satu dari tiga yang diakui secara resmi sebagai agama minoritas dan memiliki anggota resmi di parlemen Iran.
(mas)