Presiden Akui Peran Prancis di Kamp Interniran Gipsi Nazi
Minggu, 30 Oktober 2016 - 01:20 WIB
Presiden Akui Peran Prancis di Kamp Interniran Gipsi Nazi
A
A
A
PARIS - Presiden Prancis Francois Hollande telah mengakui peran negaranya dalam penganiayaan Nazi terhadap kaum Gipsi di kamp interniran atau pengasingan selama Perang Dunia Kedua. Pengakuan ini adalah yang terbaru dari pemerintah Prancis setelah sebelumnya mengakui turut andil dalam Holocaust.
Kolaborator Prancis yaitu rezim Vichy membantu mendeportasi orang-orang Yahudi ke kamp kematian dan mengirim kaum Gipsi ke kamp interniran. Hal ini pun diakui oleh Presiden Hollande saat mengunjungi bekas kamp interniran di Perancis barat.
“Republik ini mengakui penderitaan para perantau yang diinternir dan mengakui tanggung jawabnya sangat besar,” kata Hollande. Sebelumnya, pada 1997 lalu, presiden Prancis lainnya Jacques Chirac juga mengakui peran negaranya dalam peristiwa Holocaust seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Minggu (30/10/2016).
Prancis secara historis menjadi tuan rumah bagi ratusan ribu "gens du voyage" yang hidup berpindah-pindah dari kota ke kota dan warga negara Prancis.
Mereka menganggap diri mereka berbeda dari Roma dimana kebanyakan dari mereka berasal dari Rumania atau Bulgaria. Meski begitu, keduanya tetap mendapatkan perlakuan diskriminasi.
Kolaborator Prancis yaitu rezim Vichy membantu mendeportasi orang-orang Yahudi ke kamp kematian dan mengirim kaum Gipsi ke kamp interniran. Hal ini pun diakui oleh Presiden Hollande saat mengunjungi bekas kamp interniran di Perancis barat.
“Republik ini mengakui penderitaan para perantau yang diinternir dan mengakui tanggung jawabnya sangat besar,” kata Hollande. Sebelumnya, pada 1997 lalu, presiden Prancis lainnya Jacques Chirac juga mengakui peran negaranya dalam peristiwa Holocaust seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Minggu (30/10/2016).
Prancis secara historis menjadi tuan rumah bagi ratusan ribu "gens du voyage" yang hidup berpindah-pindah dari kota ke kota dan warga negara Prancis.
Mereka menganggap diri mereka berbeda dari Roma dimana kebanyakan dari mereka berasal dari Rumania atau Bulgaria. Meski begitu, keduanya tetap mendapatkan perlakuan diskriminasi.
(ian)