Turki Mulai Melunak pada Assad
Minggu, 21 Agustus 2016 - 12:46 WIB
Turki Mulai Melunak pada Assad
A
A
A
ANKARA - Sikap Turki terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad perlahan-lahan mulai melunak. Sebelumnya, Turki bersama dengan Amerika Serikat (AS) adalah pihak yang ngotot bahwa Assad harus mundur dari jabatannya jika ingin proes perdamaian di Suriah bisa berlangsung.
Kali ini Ankara mengatakan, Assad bisa dilibatkan dalam pemerintahan transisi Suriah. Namun, meski demikian, menurut Ankara Assad tidak bisa selama berkuasa, karena di mata mereka Assad bukanlah figur yang bisa menyatukan Suriah.
"Kami mungkin duduk dan berbicara (dengan Assad) untuk membahas pemerintahan transisi. Transisi dapat difasilitasi. Tapi, kami percaya bahwa seharusnya tidak ada pemberontak Kurdi, ISIS atau Assad di masa depan Suriah," kata Perdana Mnenteri Turki Binali Yildirim.
"Apakah Suriah bisa dipimpin Assad dalam jangka panjang? Tentu saja tidak. AS tahu dan Rusia tahu bahwa Assad tidak muncul untuk menjadi seseorang yang dapat membawa persatuan di masyrakat," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (21/8).
Yildirim juga sebelumnya mengatakan bahwa Turki akan mengambil peran lebih aktif dalam mengatasi konflik di Suriah dalam enam bulan ke depan. Ini dilakukan guna mencegah negara yang dilanda perang itu dibagi berdasarkan garis etnis.
Kali ini Ankara mengatakan, Assad bisa dilibatkan dalam pemerintahan transisi Suriah. Namun, meski demikian, menurut Ankara Assad tidak bisa selama berkuasa, karena di mata mereka Assad bukanlah figur yang bisa menyatukan Suriah.
"Kami mungkin duduk dan berbicara (dengan Assad) untuk membahas pemerintahan transisi. Transisi dapat difasilitasi. Tapi, kami percaya bahwa seharusnya tidak ada pemberontak Kurdi, ISIS atau Assad di masa depan Suriah," kata Perdana Mnenteri Turki Binali Yildirim.
"Apakah Suriah bisa dipimpin Assad dalam jangka panjang? Tentu saja tidak. AS tahu dan Rusia tahu bahwa Assad tidak muncul untuk menjadi seseorang yang dapat membawa persatuan di masyrakat," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (21/8).
Yildirim juga sebelumnya mengatakan bahwa Turki akan mengambil peran lebih aktif dalam mengatasi konflik di Suriah dalam enam bulan ke depan. Ini dilakukan guna mencegah negara yang dilanda perang itu dibagi berdasarkan garis etnis.
(esn)