Intelijen AS Yakin Rusia yang Bocorkan Email DNC
Rabu, 27 Juli 2016 - 17:03 WIB
Intelijen AS Yakin Rusia yang Bocorkan Email DNC
A
A
A
WASHINGTON - Intelijen Amerika Serikat (AS) memiliki "keyakinan tinggi" bahwa pemerintah Rusia berada di belakang bocornya puluhan ribu email Komite Nasiol Partai Demokrat (DNC). Begitu laporan yang diturunkan oleh surat kabar New York Times.
"Badan-badan intelijen AS telah mengatakan kepada Gedung Putih mereka sekarang memiliki 'keyakinan tinggi' bahwa pemerintah Rusia berada di balik pencurian email dan dokumen dari Komite Nasional Partai Demokrat," begitu tulis New York Times mengutip pejabat informasi federal seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (27/7/2016).
Meski begitu, badan-badan intelijen tidak tahu pasti motif di balik aksi tersebut. Mereka tidak tahu apakah itu sebuah tindakan spionase atau upaya untuk mencampuri pemilihan presiden AS.
Calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, mengolok-olok kampanye Hillary Clinton yang menuding Rusia berada di balik bocornya email DNC dalam upaya membantunya berkuasa di Gedung Putih.
Pada 22 Juli lalu, situs whistleblower WikiLeaks merilis hampir 20 ribu email dari DNC. Tim kampanye Hillary Clinton lantas mengatakan hacker asal Rusia berada di balik kebocoran itu untuk membantu Donald Trump dalam perebutan kursi kepresidenan.
"Badan-badan intelijen AS telah mengatakan kepada Gedung Putih mereka sekarang memiliki 'keyakinan tinggi' bahwa pemerintah Rusia berada di balik pencurian email dan dokumen dari Komite Nasional Partai Demokrat," begitu tulis New York Times mengutip pejabat informasi federal seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (27/7/2016).
Meski begitu, badan-badan intelijen tidak tahu pasti motif di balik aksi tersebut. Mereka tidak tahu apakah itu sebuah tindakan spionase atau upaya untuk mencampuri pemilihan presiden AS.
Calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, mengolok-olok kampanye Hillary Clinton yang menuding Rusia berada di balik bocornya email DNC dalam upaya membantunya berkuasa di Gedung Putih.
Pada 22 Juli lalu, situs whistleblower WikiLeaks merilis hampir 20 ribu email dari DNC. Tim kampanye Hillary Clinton lantas mengatakan hacker asal Rusia berada di balik kebocoran itu untuk membantu Donald Trump dalam perebutan kursi kepresidenan.
(ian)