Protes Konvensi Partai Republik, 100 Perempuan Telanjang di AS
Selasa, 19 Juli 2016 - 10:15 WIB
Protes Konvensi Partai Republik, 100 Perempuan Telanjang di AS
A
A
A
CLEVELAND - Sebanyak 100 perempuan berpose telanjang di tempat umum untuk protes damai terhadap Konvensi Nasional Partai Republik (RNC) di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat. Konvensi itu sudah dimulai sejak Minggu (17/7/2016).
Aksi melepas baju massal ini diselenggarakan oleh fotografer Spencer Tunick. Dia sudah merencanakan proyek fotografi tanpa busana berskala besar dengan judul “Everything She Says Means Everything” selama berbulan-bulan.
Pada bulan Mei, Tunick memanggil sukarelawan untuk berpartisipasi dalam visinya, untuk mengganggu kegiatan bisnis pada RNC dengan “membanjiri” tubuh tanpa busana.
Satu-satunya syarat bagi sukarelawan adalah seorang wanita, entah dari kubu Partai Demokrat, Republik, atau platform politik lainnya. Tunick berharap poryeknya ini akan berfungsi sebagai aksi protes damai, memerangi retorika kebencian Donald Trump (kandidat capres AS dari Partai Republik) dan para pengikutnya.
Proyek sang fotografer ternyata mendapat sambutan hebat. Lebih dari 1.800 perempuan mendaftar untuk berpartisipasi. Setiap peserta mengajukan pernyataan yang menjelaskan alasan mereka untuk terlibat.
Salah satunya berharap pengalaman ini akan membantunya sembuh setelah dia diserang secara seksual. Beberapa wanita lain ingin merayakan penuaan tubuh mereka dan yang lainnya mengaku ingin meninggalkan dampak positif pada anak-anak perempuan mereka.
Seorang peserta Jennifer Dienes mengaku memberikan suara untuk Partai Republik. Namun, dia merasa jijik dengan kefanatikan dan permusuhan Donald Trump. Jennifer awalnya mendukung Rand Paul. ”Saya tidak mendukung Partai Republik dengan Trump di garis depan,” katanya kepada The Huffington Post, Selasa (19/7/2016).
Jennifer Dienes tidak pernah berpartisipasi dalam pemotretan telanjang sebelumnya, atau kegiatan lain yang serupa. "Ada beberapa orang yang mencoba untuk menakut-nakuti saya agar keluar dari itu,” ujarnya.
”Banyak orang yang mengatakan, 'Ibu saya akan membunuh saya!’ Tapi itu disampaikan secara berkelas, secara damai. Kadang-kadang Anda hanya perlu berdiri untuk apa yang benar. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan,” katanya.
Selama pemotretan, para perempuan itu memegang cermin bundar.”Cermin berkomunikasi bahwa kita adalah refleksi dari diri kita sendiri, satu sama lain, dan dari dunia yang mengelilingi kita. Wanita itu menjadi masa depan dan masa depan menjadi wanita,” kata Tunick dijelaskan dalam sebuah pernyataan.
Aksi melepas baju massal ini diselenggarakan oleh fotografer Spencer Tunick. Dia sudah merencanakan proyek fotografi tanpa busana berskala besar dengan judul “Everything She Says Means Everything” selama berbulan-bulan.
Pada bulan Mei, Tunick memanggil sukarelawan untuk berpartisipasi dalam visinya, untuk mengganggu kegiatan bisnis pada RNC dengan “membanjiri” tubuh tanpa busana.
Satu-satunya syarat bagi sukarelawan adalah seorang wanita, entah dari kubu Partai Demokrat, Republik, atau platform politik lainnya. Tunick berharap poryeknya ini akan berfungsi sebagai aksi protes damai, memerangi retorika kebencian Donald Trump (kandidat capres AS dari Partai Republik) dan para pengikutnya.
Proyek sang fotografer ternyata mendapat sambutan hebat. Lebih dari 1.800 perempuan mendaftar untuk berpartisipasi. Setiap peserta mengajukan pernyataan yang menjelaskan alasan mereka untuk terlibat.
Salah satunya berharap pengalaman ini akan membantunya sembuh setelah dia diserang secara seksual. Beberapa wanita lain ingin merayakan penuaan tubuh mereka dan yang lainnya mengaku ingin meninggalkan dampak positif pada anak-anak perempuan mereka.
Seorang peserta Jennifer Dienes mengaku memberikan suara untuk Partai Republik. Namun, dia merasa jijik dengan kefanatikan dan permusuhan Donald Trump. Jennifer awalnya mendukung Rand Paul. ”Saya tidak mendukung Partai Republik dengan Trump di garis depan,” katanya kepada The Huffington Post, Selasa (19/7/2016).
Jennifer Dienes tidak pernah berpartisipasi dalam pemotretan telanjang sebelumnya, atau kegiatan lain yang serupa. "Ada beberapa orang yang mencoba untuk menakut-nakuti saya agar keluar dari itu,” ujarnya.
”Banyak orang yang mengatakan, 'Ibu saya akan membunuh saya!’ Tapi itu disampaikan secara berkelas, secara damai. Kadang-kadang Anda hanya perlu berdiri untuk apa yang benar. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan,” katanya.
Selama pemotretan, para perempuan itu memegang cermin bundar.”Cermin berkomunikasi bahwa kita adalah refleksi dari diri kita sendiri, satu sama lain, dan dari dunia yang mengelilingi kita. Wanita itu menjadi masa depan dan masa depan menjadi wanita,” kata Tunick dijelaskan dalam sebuah pernyataan.
(mas)