Ramadhan di AS, Muslim, Kristen dan Yahudi Buka Puasa Bersama

Jum'at, 17 Juni 2016 - 15:45 WIB
Ramadhan di AS, Muslim,...
Ramadhan di AS, Muslim, Kristen dan Yahudi Buka Puasa Bersama
A A A
BERKELEY - Perwakilan dari komunitas Muslim, Kristen dan Yahudi berkumpul bersama di kampus University of California (UC) Berkeley untuk bersama-sama menyantap hidangan buka puasa Ramadhan.

Para warga dari tiga komunitas agama ini berkumpul atas inisiatif Cultural Connections of Berkeley, sebuah kelompok mahasiswa di kampus tersebut.

Buka puasa bersama bertajuk “Coined the Ramadan Friendship Dinner” ini juga melibatkan kerja sama Asosiasi Mahasiswa Internasional di Berkeley, Dewan Hubungan Masyarakat Yahudi, Temple Sinai di Oakland, Koneksi Kebudayaan Area Bay dan Pacifica Insitute cabang San Francisco.

”Tujuan utamanya adalah untuk membawa orang-orang dari berbagai budaya dan agama yang berbeda untuk (duduk) satu meja," kata Kairat Sabyrov, dari organizer Cultural Connections of Berkeley.

Menurut Sabyrov, UC Berkeley dipilih sebagai tuan acara lintas agama karena kampus itu terkenal dengan reputasi keragaman dan inklusinya.

”Ini terbuka untuk siapa saja," kata Sabyrov. Menurut Sabyrov, organisasinya bertujuan membuat acara ini menjadi momen tahunan.

“Ketika Anda melakukannya setiap tahun, orang-orang baru akan datang. Dan setahun sekali tidak cukup. Kami ingin melanjutkan hubungan kami,” ujarnya, seperti dikutip dari Berkeley News, Jumat (17/6/2016).

Sebelum matahari terbenam atau buka puasa Ramadan dimulai, Scott Alexander, seorang asisten profesor Studi Islam di Catholic Theological Union di Chicago, berceramah tentang pentingnya bermasyarakat. Ada sekitar 100 orang pengunjung, yang kebanyakan dari mereka menjalankan puasa Ramadhan.

Alexander menekankan bahwa puasa itu belum tentu bagian tersulit dalam ibadah Ramadhan. Menurutnya, banyak warga Muslim berharap untuk berbuka puasa bersama.

Robert Berger, anggota dari Temple Sinai Oakland yang merupakan ujung tombak hubungan komunitas Muslim dan Yahudi, menyoroti retorika anti-Muslim selama kampenye pemilihan presiden AS.

”Kita harus mendorong pemahaman pada tingkat pribadi dan spiritual," kata Berger. ”Ini dimulai pada tingkat pribadi sebelum melangkah ke tingkat global.”

"Kami berbeda," kata Berger. "Anda harus bisa mengakui, menghormati dan memahami. Kami berbeda, namun kami bisa berbagi mimpi. Kami dapat berbagi makan malam,” katanya lagi.
(mas)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
3 jam yang lalu
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
4 jam yang lalu
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
5 jam yang lalu
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
6 jam yang lalu
Yaman Memanas, Houthi...
Yaman Memanas, Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak di Arab Saudi
7 jam yang lalu
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
8 jam yang lalu
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved