Abu Sayyaf: Kanada dan Filipina Jangan Main-main, Kami Tak Takut Tentara

Senin, 16 Mei 2016 - 07:56 WIB
Abu Sayyaf: Kanada dan...
Abu Sayyaf: Kanada dan Filipina Jangan Main-main, Kami Tak Takut Tentara
A A A
MANILA - Kelompok Abu Sayyaf di Filipina merilis video ancaman terbaru, di mana mereka akan memenggal sandera asal Kanada dan Norwegia pada 13 Juni 2016 kecuali ditebus 600 juta peso. Abu Sayyaf memperingatkan Pemerintah Kanada dan Filipina untuk tidak main-main dengan mereka.

Abu Sayyaf mem-posting video ini pada 13 Mei 2016 dan ditemukan situs kelompok intelijen, SITE, pada hari Minggu kemarin.

Sandera asal Kanada; Robert Hall dan sandera asal Norwegia; Kjartan Sekkingstad, diperlihatkan mengenakan pakaian warna oranye mirip kostum sandera kelompok Islamic State atau ISIS di Timur Tengah.

Baca juga:
Abu Sayyaf Ancam Penggal Sandera Norwegia dan Kanada 13 Juni

Salah satu militan Abu Sayyaf yang mengenakan penutup muka mengeluarkan suara bernada marah sebelum mengangkat parang ke udara yang diiringi teriakan “takbir”.

”Kami mengatakan kepada Pemerintah Kanada dan Filipina tidak untuk bermain-main, kami bertekad untuk membantai semua tawanan jika Anda tidak mematuhi tuntutan kami,” kata militan Abu Sayyaf itu. ”Kami tidak takut Anda atau tentara atau pesawat terbang.”

Video diawali dengan permohonan Robert Hall kepada Pemerintah Kanada agar membayar tebusan guna menyelamatkan nyawanya.

Robert Hall yang tampak kurus dan ketakutan mengatakan bahwa dia akan dieksekusi penggal pada 13 Juni 2016 pukul 15.00 waktu Filipina jika tuntutan Abu Sayyaf tidak dipenuhi.

”Saya mengimbau kepada Pemerintah (Kanada) dan Pemerintah Filipina, seperti yang telah saya imbau sebelumnya, untuk menolong,” kata Robert Hall dengan suara tenang tapi monoton, di mana di belakangnya terdapat sekelompok pria bersenjata mengenakan penutup muka.

Sementara itu, juru bicara Depertemen Urusan Global Kanada, Rachna Mishra, mengatakan bahwa pihaknya menyadari adanya video ancaman itu. Namun, pemerintah tidak akan berbicara secara terbuka perihal masalah tersebut.

”Prioritas pertama pemerintah adalah keselamatan dan keamanan warganya dan karena itu kami tidak akan berkomentar atau memberikan informasi apa pun yang dapat membahayakan upaya-upaya atau membahayakan keselamatan para sandera yang tersisa,” katanya dalam sebuah pernyataan email, seperti dikutip National Post.
(mas)
Berita Terkait
6 Negara dengan Garis...
6 Negara dengan Garis Pantai Terpanjang di Dunia, Indonesia Termasuk
Mobil Tabrak Kerumunan...
Mobil Tabrak Kerumunan Warga di Festival Hari Lapu Lapu di Vancouver
Negara-negara yang Memiliki...
Negara-negara yang Memiliki Pulau Terbanyak di Dunia
Festival Prajurit Viking...
Festival Prajurit Viking Tampilkan Pertempuran Kerajaan Masa Lampau
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini Tandatangani Pakta Pertahanan dengan Kanada
5 Mata Uang di Dunia...
5 Mata Uang di Dunia yang Paling Sulit Dipalsukan
Berita Terkini
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
43 menit yang lalu
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
1 jam yang lalu
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
2 jam yang lalu
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
2 jam yang lalu
Trump Ungkap Selat Hormuz...
Trump Ungkap Selat Hormuz akan Dibuka Kembali Sepenuhnya pada Hari Jumat Secara Permanen
2 jam yang lalu
Kenapa Perdamaian Iran...
Kenapa Perdamaian Iran Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
7 jam yang lalu
Infografis
Batal Bakar Taurat dan...
Batal Bakar Taurat dan Injil, Ahmad: Kami Tak Bakar Kitab Agama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved