Pemasungan Orang Sakit Jiwa di Indonesia Disorot Dunia

Selasa, 22 Maret 2016 - 08:14 WIB
Pemasungan Orang Sakit...
Pemasungan Orang Sakit Jiwa di Indonesia Disorot Dunia
A A A
JAKARTA - Media-media dunia menyoroti tindakan pemasungan terhadap para penderita sakit jiwa di Indonesia. Sejumlah media, mengibaratkan para penderita sakit jiwa di Indonesia seperti “hidup di neraka”.

Laporan itu bersumber dari Human Rights Watch (HRW) kelompok HAM yang berbasis di Inggris. Pemerintah Indonesia hampir 40 tahun ini menerapkan undang-undang anti-pemasungan, namun HRW mencatat praktik kejam itu masih terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Kriti Sharma, aktivis dan peneliti di Divisi Hak Disabilitas HRW mengatakan orang-orang yang sakit jiwa di Indonesia ada yang dipasung dalam ruang terbatas untuk waktu yang lama.

Ada sangat sedikit kesadaran tentang kesehatan jiwa di Indonesia,” kta Sharma. Orang-orang masih berpikir bahwa itu adalah hasil dari kutukan atau kesurupan. Dan ketika tidak ada alternatif, orang-orang tidak dapat mengakses perawatan untuk kesehatan mental, mereka merasa tidak punya pilihan selain untuk memasung keluarga mereka,” lanjut Sharma, seperti dikutip Sputniknews, Selasa (22/3/2016).


Laporan HRW itu juga diulas media-media Inggris, Amerika Serikat dan Australia, seperti Guardian, TIME, news.com.au, dan beberapa media lain.

Menurut Sharma, anggota keluarga pasien sakit jiwa enggan membawa pasien ke fasilitas kesehatan medis atau mental. Mereka lebih memilis “menyandera”-nya di ruang dengan kondisi mengerikan.

Mereka menguncinya di kandang kambing atau kandang ayam atau merantainya di rumah,” ujar Sharma.

Sharma melanjutkan, tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya budaya imbas perbudakan tapi juga mitos palsu tentang penderita sakit jiwa.”Jika Anda lahir di Indonesia dan Anda mengalami kondisi kesehatan mental, kemungkinan besar Anda akan dibelenggu dan dikunci. Di Indonesia hanya ada 40 rumah sakit jiwa untuk 17 ribu pulau dan hanya satu psikiater untuk setiap 300 ribu atau 400 ribu orang (pasien),” imbuh Sharma.

Sharma mengatakan HRW telah meminta pemerintah untuk menyediakan akses ke obat di Puskesmas. Kelompok HAM itu juga telah mengampanyekan anti-pemasungan di media sosial dengan hastag #breakthechains untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia.
(mas)
Berita Terkait
Tetap Bangga, Suporter...
Tetap Bangga, Suporter Lantunkan Nyanyian Terima Kasih untuk Timnas Indonesia U-23
Viral ! Suporter Timnas...
Viral ! Suporter Timnas Indonesia U-23 Salat Berjamaah Sebelum Lawan Australia
Indonesia jadi Tuan...
Indonesia jadi Tuan Rumah Forum Indonesia-Afrika
Omicron Masuk Indonesia,...
Omicron Masuk Indonesia, Ini Kata Epidemiolog Universitas Indonesia
Jokowi Janji ke Timnas...
Jokowi Janji ke Timnas RI untuk Buatkan Training Center
Lezatnya Aneka Kuliner...
Lezatnya Aneka Kuliner Jawa di Event Warisan Budaya Indonesia
Berita Terkini
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
1 jam yang lalu
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
4 jam yang lalu
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
5 jam yang lalu
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
6 jam yang lalu
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
7 jam yang lalu
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
7 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved