Negosiasi Damai Suriah Mandek, AS-Prancis Salahkan Rusia
Kamis, 04 Februari 2016 - 17:16 WIB
Negosiasi Damai Suriah Mandek, AS-Prancis Salahkan Rusia
A
A
A
JENEWA - Prancis dan Amerika Serikat (AS) menyalahkan Rusia dan Bashar al-Assad atas mandeknya negosiasi damai Suriah. Negosaisi itu memang dihentikan sementara, setelah oposisi Suriah memutuskan mundur, paska serangan besar-besaran yang dilakukan Rusia di Suriah.
Dalam sebuah pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius menyebut serangan yang dilancarakan Rusia dan rezim Assad bukan hanya telah menghancurkan target mereka, tapi juga negosiasi damai Suriah. "Rusia dan Assad mentorpedo negosiasi itu," ucap Hollande.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyebut bahwa masih terus dilakukannya serangan, baik yang dilakukan oleh Rusia atau rezim Assad, menunjukan bahwa Assad tidak memiliki keinginan untuk mencari solusi politik guna menyelesaikan konflik di Suriah.
"Serangan ang dilalukan oleh Rusia, yang kemudian dilanjutkan oleh rezim Assad terhadap daerah yang dikuasai oposisi, jelas telah mengisyaratkan niat untuk mencari solusi militer ketimbang mengaktifkan satu politik," kata Kerry dalam sebuah pernyataan, seperi dilansir DW pada Kamis (4/2).
Negosiasi damai Suriah sendiri berhenti setelah sebelumnya sempat berjalan hampir sepekan. Utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, yang juga bertindak sebagai negosiasitor menyakini bahwa masih ada harapan bagi Suriah untuk bisa berdamai melalui jalur negosiasi.
"Ini bukanlah akhir dari negosiasi, dan negosiasi selanjutanya akan dilakukan pada akhir Februari mendatang," ucap Mistura.
Dalam sebuah pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius menyebut serangan yang dilancarakan Rusia dan rezim Assad bukan hanya telah menghancurkan target mereka, tapi juga negosiasi damai Suriah. "Rusia dan Assad mentorpedo negosiasi itu," ucap Hollande.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyebut bahwa masih terus dilakukannya serangan, baik yang dilakukan oleh Rusia atau rezim Assad, menunjukan bahwa Assad tidak memiliki keinginan untuk mencari solusi politik guna menyelesaikan konflik di Suriah.
"Serangan ang dilalukan oleh Rusia, yang kemudian dilanjutkan oleh rezim Assad terhadap daerah yang dikuasai oposisi, jelas telah mengisyaratkan niat untuk mencari solusi militer ketimbang mengaktifkan satu politik," kata Kerry dalam sebuah pernyataan, seperi dilansir DW pada Kamis (4/2).
Negosiasi damai Suriah sendiri berhenti setelah sebelumnya sempat berjalan hampir sepekan. Utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, yang juga bertindak sebagai negosiasitor menyakini bahwa masih ada harapan bagi Suriah untuk bisa berdamai melalui jalur negosiasi.
"Ini bukanlah akhir dari negosiasi, dan negosiasi selanjutanya akan dilakukan pada akhir Februari mendatang," ucap Mistura.
(esn)