Assad: Tidak Ada Transisi Selama Masih Ada Teroris
Kamis, 19 November 2015 - 22:38 WIB
Assad: Tidak Ada Transisi Selama Masih Ada Teroris
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan bahwa proses politik untuk mengakhiri perang sipil berdarah di negara itu tidak akan bisa dimulai selama masih ada teroris. Pemilu baru akan dimulai setelah teroris dikalahkan.
Namun, Assad tidak mengungkapkan lebih jelas kelompok teroris yang dimaksud olehnya. Apakah itu merujuk kepada ISIS atau kepada kelompok pemberontak yang didukung oleh negara-negara barat, seperti dikutip dari BBC, Kamis (19/11/2015).
Assad mengatakan bahwa tidak ada batas waktu untuk memulai transisi politik yang bisa diatur sedemikian rupa, sementara sebagian negara tidak dikontrol oleh pemerintah. Hal ini merujuk kepada keputusan 19 negara yang menetapkan 1 Januari sebagai batas waktu dimulainya pembicaraan damai.
"Jadwal ini dimulai setelah mengalahkan terorisme. Anda tidak bisa mencapai apa-apa dalam politik saat Anda memiliki teroris yang mengambil alih banyak daerah di Suriah. Jika kita berbicara setelah itu, satu tahun dan setengah tahun sampai dua tahun sudah cukup untuk transisi apapun" tuturnya.
Assad juga menegaskan jika Suriah bukanlah inkubator untuk ISIS yang mengontrol sebagian besar wilayah utara dan timur negara itu.
"Munculnya kelompok, yang dimulai di Irak, adalah hasil dari dukungan Turki dan Arab Saudi dan Qatar, dan tentu saja kebijakan Barat yang mendukung teroris dengan cara yang berbeda," tukasnya.
Namun, Assad tidak mengungkapkan lebih jelas kelompok teroris yang dimaksud olehnya. Apakah itu merujuk kepada ISIS atau kepada kelompok pemberontak yang didukung oleh negara-negara barat, seperti dikutip dari BBC, Kamis (19/11/2015).
Assad mengatakan bahwa tidak ada batas waktu untuk memulai transisi politik yang bisa diatur sedemikian rupa, sementara sebagian negara tidak dikontrol oleh pemerintah. Hal ini merujuk kepada keputusan 19 negara yang menetapkan 1 Januari sebagai batas waktu dimulainya pembicaraan damai.
"Jadwal ini dimulai setelah mengalahkan terorisme. Anda tidak bisa mencapai apa-apa dalam politik saat Anda memiliki teroris yang mengambil alih banyak daerah di Suriah. Jika kita berbicara setelah itu, satu tahun dan setengah tahun sampai dua tahun sudah cukup untuk transisi apapun" tuturnya.
Assad juga menegaskan jika Suriah bukanlah inkubator untuk ISIS yang mengontrol sebagian besar wilayah utara dan timur negara itu.
"Munculnya kelompok, yang dimulai di Irak, adalah hasil dari dukungan Turki dan Arab Saudi dan Qatar, dan tentu saja kebijakan Barat yang mendukung teroris dengan cara yang berbeda," tukasnya.
(ian)