Tinggalkan Israel, Teluk Dukung Kesepakatan Nuklir Iran
Selasa, 04 Agustus 2015 - 15:52 WIB
Tinggalkan Israel, Teluk Dukung Kesepakatan Nuklir Iran
A
A
A
DOHA - Negara-negara Teluk Arab yang semula skeptis terhadap perjanjian nuklir Iran, kini berbalik mendukung kesepakatan nuklir tersebut. Israel yang ditinggalkan negara-negara Teluk itu, kini jadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang menentang kesepakatan nuklir Iran.
Dukungan negara-negara Teluk (GCC) muncul setelah terjadi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry, dengan para diplomat GCC di Doha, Qatar. Negara-negara GCC secara eksplisit menyatakan bahwa mereka mendukung kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara kekuatan dunia atau P5+1.
”Ini adalah pilihan terbaik di antara pilihan lain. Untuk datang dengan solusi melalui dialog. Kami yakin bahwa semua upaya yang telah diberikan membuat wilayah ini sangat aman, sangat stabil,” kata Menteri Luar Negeri Qatar, Khalid bin Mohammed al-Attiyah, yang mengepalai GCC yang terdiri Bahrain, Qatar, Oman, UEA, Kuwait, dan Arab Saudi.
“Kerry, kita tahu bahwa akan ada pengawasan langsung terhadap Iran untuk tidak mendapatkan atau untuk mendapatkan senjata nuklir, ini yang meyakinkan untuk wilayah tersebut,” lanjut Khalid, seperti dikutip IB Times, Selasa (4/8/2015).
John Kerry juga telah bertemu dengan Emir Qatar sebelum pembicaraan dengan para pejabat senior GCC. Dukungan tegas GCC ini juga diharapkan dapat membantu pemerintahan Barack Obama dalam upaya untuk meyakinkan Kongres AS yang memiliki waktu 60 hari untuk meninjau kesepakatan nuklir Iran.
Berbicara dalam konferensi pers seusai pembicaraan, Kerry mengatakan bahwa anggota GCC mengekspresikan persetujuan mereka untuk kesepakatan nuklir Iran. Dia menyebut dukungan itu sebagai "kontribusi untuk keamanan jangka panjang di kawasan (Timur Tengah)”.
Dalam kesempatan itu, Kerry dan para diplomat GCC mengeluarkan pernyataan bersama yang berbunyi; ”AS menegaskan komitmennya untuk bekerja dengan GCC guna mencegah dan menangkal ancaman eksternal dan agresi, AS siap untuk bekerja dengan mitra GCC kami, untuk menentukan tindakan apa yang sesegera mungkin tepat, menggunakan sarana miliki kita bersama, termasuk potensi penggunaan kekuatan militer, untuk membela mitra GCC kami.”
Pada bulan Juli lalu, Iran dan P5 + 1 (AS, Inggris, China, Rusia, Prancis, dan Jerman) menandatangani kesepakatan yang komprehensif di Wina, ketika Teheran sepakat untuk membatasi kegiatan nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap.
Dukungan negara-negara Teluk (GCC) muncul setelah terjadi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry, dengan para diplomat GCC di Doha, Qatar. Negara-negara GCC secara eksplisit menyatakan bahwa mereka mendukung kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara kekuatan dunia atau P5+1.
”Ini adalah pilihan terbaik di antara pilihan lain. Untuk datang dengan solusi melalui dialog. Kami yakin bahwa semua upaya yang telah diberikan membuat wilayah ini sangat aman, sangat stabil,” kata Menteri Luar Negeri Qatar, Khalid bin Mohammed al-Attiyah, yang mengepalai GCC yang terdiri Bahrain, Qatar, Oman, UEA, Kuwait, dan Arab Saudi.
“Kerry, kita tahu bahwa akan ada pengawasan langsung terhadap Iran untuk tidak mendapatkan atau untuk mendapatkan senjata nuklir, ini yang meyakinkan untuk wilayah tersebut,” lanjut Khalid, seperti dikutip IB Times, Selasa (4/8/2015).
John Kerry juga telah bertemu dengan Emir Qatar sebelum pembicaraan dengan para pejabat senior GCC. Dukungan tegas GCC ini juga diharapkan dapat membantu pemerintahan Barack Obama dalam upaya untuk meyakinkan Kongres AS yang memiliki waktu 60 hari untuk meninjau kesepakatan nuklir Iran.
Berbicara dalam konferensi pers seusai pembicaraan, Kerry mengatakan bahwa anggota GCC mengekspresikan persetujuan mereka untuk kesepakatan nuklir Iran. Dia menyebut dukungan itu sebagai "kontribusi untuk keamanan jangka panjang di kawasan (Timur Tengah)”.
Dalam kesempatan itu, Kerry dan para diplomat GCC mengeluarkan pernyataan bersama yang berbunyi; ”AS menegaskan komitmennya untuk bekerja dengan GCC guna mencegah dan menangkal ancaman eksternal dan agresi, AS siap untuk bekerja dengan mitra GCC kami, untuk menentukan tindakan apa yang sesegera mungkin tepat, menggunakan sarana miliki kita bersama, termasuk potensi penggunaan kekuatan militer, untuk membela mitra GCC kami.”
Pada bulan Juli lalu, Iran dan P5 + 1 (AS, Inggris, China, Rusia, Prancis, dan Jerman) menandatangani kesepakatan yang komprehensif di Wina, ketika Teheran sepakat untuk membatasi kegiatan nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap.
(mas)