Amerika

Film dokumenter sindir kebijakan Obama dalam perangi teroris

Sabtu,  8 Juni 2013  −  14:16 WIB
Film dokumenter sindir kebijakan Obama dalam perangi teroris
Film Dirty Wars: The World is a Battlefield (Ilustrasi)

Sindonews.com - Sebuah film dokumenter baru dirilis pada Jumat(7/6/2013). Film ini menggambarkan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tersangka teroris sebagai kampanye pembunuhan sesat. Film itu mengingatkan Presiden AS, Barack Obama, bahwa kampanye itu akan memunculkan musuh baru dan menodai citra AS.

Dalam film berjudul "Dirty Wars: The World is a Battlefield,” besutan  wartawan Jeremy Scahill, mengecam target pembunuhan yang dituduhkan dari militan al-Qaeda. Film ini mencoba untuk menjelaskan operasi yang dilakukan sebagai bayang-bayang serangan 11 September 2001, dengan fokus sasaran warga sipil di Afghanistan dan Yaman.

Film dokumenter ini menceritakan serangan gagal oleh pasukan operasi khusus di desa Gardez, Afghanistan yang menewaskan lima orang, termasuk dua wanita hamil. Film dokumenter ini merekam kondisi pedih rumah dari sebuah keluarga di Afghanistan.

Adegan dalam film itu semula berupa pertemuan meriah yang diramaikan dengan tarian dan tawa. Tapi, hanya berselang beberapa menit, orang-orang tercinta di desa itu ditembak mati. Salah satu korban di film itu ternyata seorang polisi Afghanistan, yang dilatih oleh AS.

Warga desa pun melampiaskan kemarahan mereka setelah penyerangan itu, dan bersumpah untuk memerangi pasukan komando berjenggot yang mereka sebut "Amerika Taliban." ”Jika AS melakukan ini lagi, kami siap untuk menumpahkan darah kami untuk melawan mereka," bunyi skenario film dari pemeran orang Afghanistan, dikutip AFP, Sabtu (8/6/2013).

Kesalahan sasaran pasukan AS terhadap korban yang semula dianggap Gerilyawan Taliban, masih menurut adegan film itu, kemudian memicu permintaan maaf AS sebagai kesalahan tragis.

Scahill dalam sebuah wawancara dengan AFP, mengatakan, bahwa operasi rahasia AS kontra-produktif dan moral korosif, dan menabur kebencian, permusuhan dan anti-AS. ”Saya sudah sampai pada kesimpulan selama bertahun-tahun melakukan pekerjaan ini, bahwa kita menciptakan lebih banyak musuh baru daripada membunuh teroris yang sebenarnya,” ucap Scahill, yang menulis sebuah buku tentang skandal perusahaan keamanan swasta Blackwater.


(esn)

views: 1.672x
shadow