Politisi Iran: Teheran Tahu Perang dengan Israel Adalah Bunuh Diri
Selasa, 01 November 2016 - 00:06 WIB
Politisi Iran: Teheran Tahu Perang dengan Israel Adalah Bunuh Diri
A
A
A
TEHERAN - Seorang politisi Yahudi yang menjadi anggota DPR Iran, Siamak More Sedgh, mengatakan, Republik Islam Iran tidak mencari peperangan dengan Israel. Menurutnya, Teheran tahu bahwa perang dengan Israel adalah bunuh diri.
“Iran tidak ingin memulai perang melawan Israel, karena mereka tahu bahwa setiap orang yang memulai perang di Timur Tengah adalah melakukan bunuh diri,” kata Sedgh kepada Radio Israel dalam sebuah wawancara berbahasa Inggris yang disiarkan hari Minggu.
Sedgh percaya bahwa kepemimpinan Iran akan menjadi sehat dan cukup bijaksana untuk menghindari perang dengan Israel.
”Hubungan antara Iran dan Israel (yang) lebih stabil dibandingkan sebelumnya sejak penandatanganan perjanjian nuklir tahun lalu,” katanya.
”Dua, tiga tahun yang lalu saya curiga tentang (Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu, saya pikir dia cukup gila untuk memulai perang, tapi hari ini, kondisi dunia (berubah) setelah kesepakatan yang lebih baik, dan Timur Tengah lebih stabil,” ujar Sedgh, yang dilansir Times of Israel, kemarin (31/10/2016).
Menurutnya, perang itu tidak mungkin terjadi pada saat ini. Kendati demikian, militer Iran kerap mengumbar retorika perang melawan Israel, termasuk memamerkan rudal yang diklaim untuk melenyapkan Israel.
Tahun lalu, Iran dan enam negara kekuatan dunia (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) mencapai kesepakatan terkait pelucutan program nuklir Iran. Dalam kesepakatan itu, Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan kompensasi sanksi atau embargo ekonomi yang membelit Iran dicabut.
Israel telah menjadi penentang kesepakatan nuklir Iran. Negara Yahudi itu menuduh Iran mendanai terorisme dan berusaha untuk membuat senjata nuklir.
Tapi, Iran telah menegaskan tidak tertarik membuat atau memiliki senjata nuklir. Teheran juga berkali-kali menyatakan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan sipil atau bertujuan damai.
“Iran tidak ingin memulai perang melawan Israel, karena mereka tahu bahwa setiap orang yang memulai perang di Timur Tengah adalah melakukan bunuh diri,” kata Sedgh kepada Radio Israel dalam sebuah wawancara berbahasa Inggris yang disiarkan hari Minggu.
Sedgh percaya bahwa kepemimpinan Iran akan menjadi sehat dan cukup bijaksana untuk menghindari perang dengan Israel.
”Hubungan antara Iran dan Israel (yang) lebih stabil dibandingkan sebelumnya sejak penandatanganan perjanjian nuklir tahun lalu,” katanya.
”Dua, tiga tahun yang lalu saya curiga tentang (Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu, saya pikir dia cukup gila untuk memulai perang, tapi hari ini, kondisi dunia (berubah) setelah kesepakatan yang lebih baik, dan Timur Tengah lebih stabil,” ujar Sedgh, yang dilansir Times of Israel, kemarin (31/10/2016).
Menurutnya, perang itu tidak mungkin terjadi pada saat ini. Kendati demikian, militer Iran kerap mengumbar retorika perang melawan Israel, termasuk memamerkan rudal yang diklaim untuk melenyapkan Israel.
Tahun lalu, Iran dan enam negara kekuatan dunia (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) mencapai kesepakatan terkait pelucutan program nuklir Iran. Dalam kesepakatan itu, Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan kompensasi sanksi atau embargo ekonomi yang membelit Iran dicabut.
Israel telah menjadi penentang kesepakatan nuklir Iran. Negara Yahudi itu menuduh Iran mendanai terorisme dan berusaha untuk membuat senjata nuklir.
Tapi, Iran telah menegaskan tidak tertarik membuat atau memiliki senjata nuklir. Teheran juga berkali-kali menyatakan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan sipil atau bertujuan damai.
(mas)