Apa Itu Bom Nuklir Gravitasi? Senjata AS untuk NATO yang Dicemaskan Rusia

Senin, 31 Oktober 2022 - 07:43 WIB
loading...
Apa Itu Bom Nuklir Gravitasi?...
AS ingin persenjatai NATO dengan bom nuklir gravitasi yang telah di-upgrade mulai Desember nanti. Langkah ini membuat Rusia cemas. Foto/Politico
A A A
WASHINGTON - Pangkalan NATO di Eropa akan menerima upgrade bom nuklir gravitasi B61-12 dari Amerika Serikat (AS) pada Desember tahun ini. Senjata yang cara penggunaannya dijatuhkan dari udara ini telah membuat cemas Rusia.

Rencana Washington memasok bom B61-12 kepada NATO telah dibahas selama pertemuan tertutup di Brussels bulan ini.

Menurut Politico, rencana pengiriman bom itu lebih cepat beberapa bulan dari jadwal semula.

Rusia cepat bereaksi dengan mengatakan bahwa Moskow akan mempertimbangkan langkah Amerika itu dalam perencanaan militernya.

Baca juga: AS Ingin Persenjatai NATO dengan Bom Nuklir Gravitasi, Ini Respons Rusia

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko mengumumkan bahwa keputusan untuk mempercepat penyebaran bom B61-12 yang di-upgrade akan menurunkan "ambang batas nuklir".

"Kami tidak dapat mengabaikan rencana untuk memodernisasi senjata nuklir, bom jatuh bebas yang ada di Eropa," kata Grushko kepada kantor berita RIA.

"Amerika Serikat sedang memodernisasi mereka, meningkatkan akurasi dan mengurangi kekuatan muatan nuklir, yaitu, mereka mengubah senjata ini menjadi 'senjata medan perang', sehingga mengurangi ambang batas nuklir," imbuh Grushko.

Apa Itu Bom Nuklir Gravitasi?

B61-12 adalah versi modern dari B61, keluarga bom nuklir gravitasi yang telah menjadi bagian dari stok senjata militer AS sejak 1968.

Upgrade bom gravitasi telah dilakukan selama bertahun-tahun hingga sekarang, dan proyek tersebut telah telah digambarkan sebagai proyek bom nuklir paling mahal yang pernah ada.

Bom B61-12 sepanjang 12 kaki membawa hulu ledak 50 kiloton—setara dengan 50.000 ton TNT—dan sangat presisi, berkat kemudi ekor yang terkontrol yang juga memungkinkan pelepasan parasutnya.

Karena alat tersebut, pilot pesawat tempur tidak harus terbang tepat di atas target untuk menjatuhkan bom.

Majalah militer The National Interest pada Senin (31/10/2022), menggambarkan B61-12 sebagai "senjata nuklir paling berbahaya di gudang senjata Amerika" karena keserbagunaannya daripada hasil nuklirnya, yang lebih rendah daripada yang lain. Bom ini juga bisa menembus ke bawah tanah.

Bom nuklir B83, sebagai perbandingan, memiliki hasil maksimum 1,2 megaton, atau 1.200 kiloton.

Menurut laporan majalah itu, kombinasi akurasi dan hasil rendah yang menjadi ciri bom gravitasi B61-12 adalah yang membuatnya menjadi bom nuklir yang paling dapat digunakan di gudang senjata Amerika.

Laporan itu menambahkan, "Akurasi adalah penentu paling penting dari kekuatan mematikan senjata nuklir."

Juru bicara Pentagon Brigadir Jenderal Patrick Ryder mengatakan kepada Politico bahwa pengerahan bom gravitasi B61-12 yang dipercepat sama sekali tidak terkait dengan peristiwa terkini di Ukraina dan tidak dipercepat dengan cara apa pun.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa langkah itu dilakukan pada saat ketegangan yang memanas dengan Rusia. Pengerahan senjata itu membawa risikonya sendiri untuk meningkatkan situasi yang sudah memanas.

Saat ini, menurut Reuters, AS memiliki sekitar 200 senjata nuklir taktis yang dikerahkan, dengan setengahnya dikerahkan di pangkalan sekutu NATO di Belgia, Italia, Jerman, Belanda, dan Turki.

Rusia, di sisi lain, diperkirakan memiliki sekitar 2.000 senjata semacam itu.

Menurut Federasi Ilmuwan Amerika (FAS), Rusia dan AS saat ini memiliki sekitar 90 persen dari semua hulu ledak nuklir, dengan masing-masing memiliki sekitar 4.000 hulu ledak dalam persediaan militer mereka.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
AS Perluas Serangan...
AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
Zelensky Pecat Menhan...
Zelensky Pecat Menhan Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia, Menhan ke-4 yang Didepak
Meski Sedang Perang,...
Meski Sedang Perang, Trump Puji Iran karena Bebaskan Warga AS dari Penjara
Rusia: Serangan Drone...
Rusia: Serangan Drone Ukraina Tewaskan Kepala Insinyur Pembangkit Nuklir Terbesar Eropa
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
AS Serang Abadan dan...
AS Serang Abadan dan Mahshahr di Iran Barat, Wilayah Perbatasan Jadi Sasaran
Mengapa Bangladesh Sita...
Mengapa Bangladesh Sita Harta Mantan PM Sheikh Hasina Rp112 Triliun? Ini Duduk Perkaranya
Rekomendasi
IHSG Terus Berlari ke...
IHSG Terus Berlari ke Level 6.108 hingga Akhir Sesi, Transaksi Bursa Cetak Rp13,2 Triliun
Ungkap Banyak Kejanggalan,...
Ungkap Banyak Kejanggalan, Munarman Minta KY dan MA Awasi Sidang Banding MNC Asia Vs CMNP
Era Coretax Didorong...
Era Coretax Didorong Jadi Momentum Reformasi Pemotongan Pajak Penghasilan
Berita Terkini
Apa Arti Las Malvinas...
Apa Arti 'Las Malvinas Son Argentinas'? Slogan yang Dikibarkan Timnas Argentina Ternyata Menyimpan Luka Sejarah 200 Tahun
Maroko Tandatangani...
Maroko Tandatangani Perjanjian dengan Dewan Perdamaian untuk Gabung Pasukan Internasional Gaza
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved