Profil Ayman al-Zawahiri, dari Dokter Bedah Mata di Kairo hingga Pimpin Al Qaeda
Selasa, 02 Agustus 2022 - 08:48 WIB
loading...
A
A
A
Zawahiri terlibat dalam Islam politik saat masih di sekolah dan ditangkap pada usia 15 tahun karena menjadi anggota Ikhwanul Muslimin (IM) yang dilarang, organisasi Islam tertua dan terbesar di Mesir.
Namun, aktivitas politiknya tidak menghentikannya untuk belajar kedokteran di sekolah kedokteran Universitas Kairo, tempat dia lulus pada tahun 1974 dan memperoleh gelar master dalam bidang bedah empat tahun kemudian.
Ayahnya Mohammed, yang meninggal pada 1995, adalah seorang profesor farmakologi di sekolah yang sama.
Pemuda Radikal
Zawahiri awalnya melanjutkan tradisi keluarga, membangun klinik medis di pinggiran kota Kairo, tetapi segera menjadi tertarik pada kelompok-kelompok Islam radikal yang menyerukan penggulingan pemerintah Mesir.
Ketika Jihad Islam Mesir didirikan pada tahun 1973, dia bergabung.
Pada tahun 1981, dia ditangkap bersama dengan ratusan tersangka anggota kelompok lainnya setelah beberapa anggota kelompok berpakaian tentara, membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat selama parade militer di Kairo.
Sadat telah membuat marah para aktivis Islam dengan menandatangani kesepakatan damai dengan Israel.
Tak hanya itu, Sadat juga menangkap ratusan pengkritiknya dalam tindakan keras keamanan sebelumnya.
Selama persidangan massal, Zawahiri muncul sebagai pemimpin para terdakwa dan difilmkan mengatakan kepada pengadilan, "Kami adalah Muslim yang percaya pada agama kami. Kami mencoba untuk mendirikan negara Islam dan masyarakat Islam."
Meskipun dia dibebaskan dari keterlibatan dalam pembunuhan Sadat, Zawahiri dihukum karena kepemilikan senjata secara ilegal, dan menjalani hukuman tiga tahun.
Menurut sesama tahanan Islam, Zawahiri secara teratur disiksa dan dipukuli oleh pihak berwenang selama berada di penjara di Mesir.
Penyiksaan brutal itu menjadi pengalaman traumatis yang dikatakan telah mengubahnya menjadi seorang ekstremis yang fanatik dan kejam.
Setelah dibebaskan pada tahun 1985, Zawahiri berangkat ke Arab Saudi.
Segera setelah itu, dia menuju Peshawar di Pakistan dan kemudian ke negara tetangga Afghanistan, di mana dia mendirikan faksi Jihad Islam Mesir saat bekerja sebagai dokter di negara itu selama pendudukan Uni Soviet.
Zawahiri mengambil alih kepemimpinan Jihad Islam Mesir setelah muncul kembali pada 1993, dan merupakan tokoh kunci di balik serangkaian serangan oleh kelompok tersebut terhadap menteri pemerintah Mesir, termasuk Perdana Menteri Atif Sidqi.
Namun, aktivitas politiknya tidak menghentikannya untuk belajar kedokteran di sekolah kedokteran Universitas Kairo, tempat dia lulus pada tahun 1974 dan memperoleh gelar master dalam bidang bedah empat tahun kemudian.
Ayahnya Mohammed, yang meninggal pada 1995, adalah seorang profesor farmakologi di sekolah yang sama.
Pemuda Radikal
Zawahiri awalnya melanjutkan tradisi keluarga, membangun klinik medis di pinggiran kota Kairo, tetapi segera menjadi tertarik pada kelompok-kelompok Islam radikal yang menyerukan penggulingan pemerintah Mesir.
Ketika Jihad Islam Mesir didirikan pada tahun 1973, dia bergabung.
Pada tahun 1981, dia ditangkap bersama dengan ratusan tersangka anggota kelompok lainnya setelah beberapa anggota kelompok berpakaian tentara, membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat selama parade militer di Kairo.
Sadat telah membuat marah para aktivis Islam dengan menandatangani kesepakatan damai dengan Israel.
Tak hanya itu, Sadat juga menangkap ratusan pengkritiknya dalam tindakan keras keamanan sebelumnya.
Selama persidangan massal, Zawahiri muncul sebagai pemimpin para terdakwa dan difilmkan mengatakan kepada pengadilan, "Kami adalah Muslim yang percaya pada agama kami. Kami mencoba untuk mendirikan negara Islam dan masyarakat Islam."
Meskipun dia dibebaskan dari keterlibatan dalam pembunuhan Sadat, Zawahiri dihukum karena kepemilikan senjata secara ilegal, dan menjalani hukuman tiga tahun.
Menurut sesama tahanan Islam, Zawahiri secara teratur disiksa dan dipukuli oleh pihak berwenang selama berada di penjara di Mesir.
Penyiksaan brutal itu menjadi pengalaman traumatis yang dikatakan telah mengubahnya menjadi seorang ekstremis yang fanatik dan kejam.
Setelah dibebaskan pada tahun 1985, Zawahiri berangkat ke Arab Saudi.
Segera setelah itu, dia menuju Peshawar di Pakistan dan kemudian ke negara tetangga Afghanistan, di mana dia mendirikan faksi Jihad Islam Mesir saat bekerja sebagai dokter di negara itu selama pendudukan Uni Soviet.
Zawahiri mengambil alih kepemimpinan Jihad Islam Mesir setelah muncul kembali pada 1993, dan merupakan tokoh kunci di balik serangkaian serangan oleh kelompok tersebut terhadap menteri pemerintah Mesir, termasuk Perdana Menteri Atif Sidqi.
Lihat Juga :