Hanya Dilatih 5 Hari, Tentara Baru Direkrut Rusia Dikirim Perang ke Ukraina
Jum'at, 22 Juli 2022 - 15:27 WIB
loading...
A
A
A
Para ahli mengatakan tingkat korban yang tinggi berarti militer Rusia kemungkinan kehilangan kohesi, di mana kekurangan pelatihan hanya memperburuk masalah ini.
Tentara telah mulai menggabungkan tentara dari unit yang berbeda, menurut Dara Massicot, seorang peneliti senior di kelompok think tank RAND yang berbasis di Amerika Serikat dan mantan analis senior di Pentagon.
“Para prajurit tidak mengenal para komandan, mereka tidak tahu di mana unit mereka berada saat bertempur di lapangan,” imbuh Massicot kepada The Moscow Times.
“Plus, ada kekurangan spesialis [di tentara Rusia]. Artinya, jika beberapa peralatan rusak, mereka tidak bisa memperbaikinya."
Terlepas dari situasi di medan perang, salah satu motivasi bagi orang-orang yang mendaftar untuk berperang tampaknya adalah uang, dengan gaji yang ditawarkan militer hingga empat kali lebih tinggi daripada rata-rata gaji lokal.
Ivan mengatakan dia dibayar lebih dari 240.000 rubel (USD3.794) per bulan.
Wartawan independen Rusia telah menggunakan informasi yang tersedia untuk umum untuk mengonfirmasi kematian hampir 5.000 tentara Rusia di Ukraina.
Namun, jumlah kematian sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi dan analis memperkirakan angka sebenarnya lebih dari 10.000 jiwa.
Kementerian Pertahanan Rusia terakhir memperbarui jumlah kematian tentaranya secara resmi pada akhir Maret, dengan 1.351 kematian yang dikonfirmasi.
Ivan menderita luka pecahan peluru di kaki dan lengannya saat bertempur di dekat kota Izyum, Ukraina timur laut pada akhir April, dan dipindahkan ke rumah sakit di Rusia.
Dia mengatakan pekan lalu bahwa dia masih belum pulih dari luka-lukanya di rumahnya di Moskow.
“Masalahnya adalah para perencana operasi berasumsi bahwa Ukraina tidak akan melawan mereka dengan cara ini, jadi mereka tidak memikirkan personel dan sekarang mereka hanya mengisi kekosongan,” kata analis Massicot.
“Pada dasarnya itu semua berarti mereka [tentara Rusia] tidak akan maju dengan cepat lagi.”
Tentara telah mulai menggabungkan tentara dari unit yang berbeda, menurut Dara Massicot, seorang peneliti senior di kelompok think tank RAND yang berbasis di Amerika Serikat dan mantan analis senior di Pentagon.
“Para prajurit tidak mengenal para komandan, mereka tidak tahu di mana unit mereka berada saat bertempur di lapangan,” imbuh Massicot kepada The Moscow Times.
“Plus, ada kekurangan spesialis [di tentara Rusia]. Artinya, jika beberapa peralatan rusak, mereka tidak bisa memperbaikinya."
Terlepas dari situasi di medan perang, salah satu motivasi bagi orang-orang yang mendaftar untuk berperang tampaknya adalah uang, dengan gaji yang ditawarkan militer hingga empat kali lebih tinggi daripada rata-rata gaji lokal.
Ivan mengatakan dia dibayar lebih dari 240.000 rubel (USD3.794) per bulan.
Wartawan independen Rusia telah menggunakan informasi yang tersedia untuk umum untuk mengonfirmasi kematian hampir 5.000 tentara Rusia di Ukraina.
Namun, jumlah kematian sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi dan analis memperkirakan angka sebenarnya lebih dari 10.000 jiwa.
Kementerian Pertahanan Rusia terakhir memperbarui jumlah kematian tentaranya secara resmi pada akhir Maret, dengan 1.351 kematian yang dikonfirmasi.
Ivan menderita luka pecahan peluru di kaki dan lengannya saat bertempur di dekat kota Izyum, Ukraina timur laut pada akhir April, dan dipindahkan ke rumah sakit di Rusia.
Dia mengatakan pekan lalu bahwa dia masih belum pulih dari luka-lukanya di rumahnya di Moskow.
“Masalahnya adalah para perencana operasi berasumsi bahwa Ukraina tidak akan melawan mereka dengan cara ini, jadi mereka tidak memikirkan personel dan sekarang mereka hanya mengisi kekosongan,” kata analis Massicot.
“Pada dasarnya itu semua berarti mereka [tentara Rusia] tidak akan maju dengan cepat lagi.”
(min)
Lihat Juga :